Selasa, April 14, 2026
Beranda blog Halaman 190

Bupati Dan Wakil Bupati Aceh Barat Hadiri Launching Adhiyaksa Peduli Stunting Aceh 2025

0

Aceh Barat.Redaksi.co
Bupati Aceh Barat Tarmizi SP, MM dan Wakil Bupati Said Fadheil SH menghadiri kegiatan Launching Adhyaksa Peduli Stunting Aceh 2025 yang digelar oleh Kejaksaan Tinggi (Kejati) Aceh di Rinas Kesehatan (Dinkes) Aceh Barat pada Jumat 24/10/2025

Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Aceh, Yudi Triadi, S.H.,M.H mengatakan, selain Launching Adhyaksa Peduli Stunting, dalam kegiatan tersebut juga turut dilaksanakan peresmian gampong binaan Adhyaksa peduli stunting 2025.

“Kegiatan ini tentunya sebagai wujud nyata pengabdian kami dari Kejati Aceh dalam mendukung program pemerintah untuk menurunkan angka stunting. Kegiatan ini juga bukan hanya sekedar aksi sosial, melainkan bagian dari transformasi kejaksaan sebagai lembaga yang tidak hanya menegakkan hukum saja,” kaya Yudi.

Kata Yudi, kegiatan serupa tidak hanya dilaksanakan di Kabupaten Aceh Barat saja, namun juga telah dilaksanakan di beberapa wilayah kabupaten lainnya di Provinsi Aceh.

“Kami mengucapkan terimakasih yang sebesar – besarnya kepada Bupati dan Wakil Bupati Aceh Barat beserta seluruh jajaran pemerintah daerah atas sambutannya yang hangat. Mudah – mudahan kegiatan kita ini dapat bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Bupati Aceh Barat Tarmizi SP, MM mengucapkan terimakasih dan apresiasi kepada Kejati Aceh dan Kejari Aceh Barat yang telah melaksanakan program Adhyaksa peduli stunting di Kabupaten Aceh Barat.

“Kita ketahui bahwa stunting merupakan persoalan strategis yang menyangkut masa depan daerah dan kualitas generasi penerus kita. Percepatan penurunan angka stunting ini juga merupakan program nasional selain dari pengendalian Inflasi,” kata Tarmizi.

Dengan adanya intervensi dan kehadiran kejaksaan dalam percepatan penurunan angka stunting maka tentunya akan sangat membantu pemerintah daerah mencapai target yang maksimal.

“Kedepan kita akan fokus pada upaya preventif, mulai sosialisasi disekolah, gerakan Posyandu dan hal lainnya untuk bisa mengatasi dan mencegah terjadinya stunting terhadap generasi penerus,” katanya.

Dikatakan Tarmizi, berdasarkan hasil pantauan dilapangan hingga Agustus 2025 ada sebanyak 159 balita stunting dari total 16.500 balita yang ada di Aceh Barat.

“Angka ini menunjukkan bahwa upaya penurunan stunting di Aceh Barat telah berada pada jalur yang menggembirakan. Namun demikian kita akan terus berikhtiar supaya angka ini semakin kecil,” ujar Tarmizi ****

Geger! Mayat Pria Mengapung di Sungai Puger Sempat Viral di Medsos

0

JEMBER, Redaksi.co – Warga Desa Pugerkulon, Kecamatan Puger, digemparkan oleh penemuan mayat seorang pria yang mengapung di aliran Sungai Kalibaan, Kamis sore (23/10/2025) sekitar pukul 16.30 WIB.

Penemuan itu langsung menjadi perbincangan hangat dan viral di media sosial setelah rekaman video warga tersebar luas di berbagai grup WhatsApp dan platform Facebook lokal.

Sosok pria tanpa identitas itu pertama kali ditemukan oleh Agus Widodo (44), warga setempat yang melintas menuju alun-alun Puger. Ia terkejut melihat tubuh manusia mengapung dalam posisi tengkurap dengan kepala mengarah ke barat.

“Saya kaget lihat ada orang mengapung di sungai, langsung panggil warga lain dan lapor ke Polsek,” ujarnya.

Petugas Polsek Puger bersama tenaga medis dari Puskesmas Puger segera menuju lokasi untuk melakukan olah TKP dan evakuasi. Korban semula tidak dikenal (Mr. X), dengan ciri-ciri laki-laki berusia sekitar 60-an tahun, tinggi 165 cm, rambut ikal pendek, kulit sawo matang, mengenakan singlet hitam bergaris biru dan celana kolor hitam.

Tubuh korban tampak membengkak dan mengalami lecet di beberapa bagian, diduga akibat terlalu lama berada di air serta terlilit tanaman enceng gondok. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh Unit Inafis Polres Jember, identitas korban akhirnya terungkap sebagai Sahrawi (65), warga Dusun Mandaran, Desa Puger Wetan, yang berprofesi sebagai nelayan.

Menurut keluarga, korban telah tiga hari meninggalkan rumah dalam kondisi stres dan sakit-sakitan akibat penyakit hernia. “Beliau memang sering berjalan sendirian dan sudah beberapa kali menghilang sebelumnya,” ungkap salah satu anggota keluarga.

Pihak keluarga menolak autopsi dan menerima kejadian tersebut sebagai musibah. Jenazah kemudian diserahkan untuk dimakamkan secara layak di pemakaman desa setempat.

Kapolsek Puger IPTU Edy Purwanto, S.H., membenarkan penemuan tersebut dan memastikan tidak ditemukan tanda kekerasan pada tubuh korban. “Dari hasil pemeriksaan sementara, korban diduga meninggal karena sakit lalu terbawa arus sungai,” jelasnya.

Kasus ini sempat menghebohkan warga pesisir Puger, terlebih setelah videonya menyebar luas di media sosial. Polisi mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan memperhatikan kondisi anggota keluarga, terutama yang sedang sakit atau mengalami gangguan mental.

Reporter: Sofyan

Warga Wonorejo Keluhkan Proyek Irigasi PUPR, Dinilai Tidak Sesuai dan Minim Transparansi

0

JEMBER, Redaksi.co – Sejumlah warga Desa Wonorejo, Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember, mengeluhkan hasil proyek pekerjaan yang dilaksanakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. Warga menilai hasil pekerjaan tersebut tidak sesuai dengan kondisi sebelumnya, karena lebar saluran yang dikerjakan justru tampak lebih sempit dibandingkan sebelum proyek dimulai.

Menurut warga, penyempitan saluran tersebut dikhawatirkan akan mengurangi fungsi irigasi dan berpotensi menimbulkan luapan air atau banjir saat musim hujan.

“Kami melihat hasilnya malah lebih sempit dari saluran irigasi sebelumnya. Kalau begini, air bisa meluap ke jalan dan alirannya ke sawah jadi lebih lama. Petani di ujung saluran bisa-bisa tidak kebagian air,” ujar Busar, salah satu warga setempat, Senin (20/10/2025).

Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh awak media di lapangan, proyek tersebut berada di bawah Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas melalui Satker Operasi dan Pemeliharaan, dengan kegiatan rehabilitasi jaringan tersier daerah irigasi kewenangan pemerintah daerah di Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur.

Selain masalah kualitas pekerjaan, warga juga menyoroti minimnya transparansi dalam pelaksanaan proyek. Hingga berita ini diturunkan, tidak ditemukan papan proyek di lokasi kegiatan, yang seharusnya memuat informasi mengenai anggaran, sumber dana, pelaksana, serta waktu pelaksanaan.

Salah satu pihak pelaksana maupun pengawas proyek yang enggan disebutkan namanya membenarkan bahwa pekerjaan tersebut telah dihentikan sementara dan akan dilakukan perbaikan.

“Itu sudah dihentikan, Mas, dan nanti akan diperbaiki. Kalau mau tahu lebih jelas, silakan datang langsung ke kantor di Kediri,” ujarnya singkat.

Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, pihak instansi terkait belum memberikan penjelasan resmi atas keluhan masyarakat.

Warga berharap pemerintah segera meninjau ulang pelaksanaan proyek agar sesuai dengan rencana teknis, dikerjakan secara transparan, dan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya para petani yang bergantung pada aliran irigasi tersebut.

Reporter: Sofyan

 

Masalah Sepele Berujung Maut, Warga Patempuran Luka Parah Ditebas Golok

0

JEMBER, Redaksi.co – Aksi brutal terjadi di Dusun Junggrang I, Desa Patempuran, Kecamatan Kalisat, Kabupaten Jember. Seorang pria berinisial Buro, warga setempat, nekat melakukan penganiayaan berat terhadap Ahmad Muzammil (24) hingga mengalami luka parah di bagian kepala.
Beruntung, berkat respons cepat Unit Reskrim Polsek Kalisat, pelaku berhasil ditangkap hanya dalam hitungan jam setelah kejadian.

Peristiwa berdarah itu terjadi pada Jumat pagi (17/10/2025) sekitar pukul 06.30 WIB, di tepi jalan dekat gudang milik orang tua korban. Awalnya hanya percakapan ringan seputar tutup cangkir, namun berubah menjadi pertengkaran tajam yang berujung kekerasan.

Pelaku Buro tersinggung saat saksi E mengaku tidak mengetahui keberadaan tutup cangkir tersebut. Emosi memuncak. Di tangannya tergenggam golok tajam sepanjang 40 cm, seolah siap meledakkan amarah yang tertahan.

Melihat situasi tak terkendali, korban Ahmad Muzammil berusaha menengahi dan menenangkan pelaku. Namun, niat baik itu justru berbuah tragis. Buro mendorong korban hingga terjatuh, lalu mengayunkan golok secara membabi buta ke arah kepala korban. Tiga kali tebasan, dua di antaranya mengoyak kepala.
Darah mengucur deras, warga sekitar panik, dan segera melarikan korban ke RS dr. Soebandi Jember untuk mendapatkan pertolongan medis intensif.

Mendapat laporan dari saksi AYF (25), Unit Reskrim Polsek Kalisat langsung turun ke lokasi. Dengan gerak cepat dan penyisiran mendalam, keberadaan pelaku berhasil dilacak.
Buro ditangkap tanpa perlawanan, bersama barang bukti sebilah golok bergagang kayu coklat yang digunakan dalam aksi brutal tersebut.

Kapolsek Kalisat IPTU Ika Mufid Dari, S.E., M.Psi., menegaskan pihaknya tidak memberi ruang bagi pelaku kekerasan.

“Pelaku kami amankan tanpa perlawanan dan kini tengah menjalani pemeriksaan intensif. Polri berkomitmen, tidak ada tempat bagi tindakan brutal yang meresahkan warga. Hukum akan ditegakkan tanpa pandang bulu,” tegas IPTU Ika Mufid Dari, Kamis (23/10/2025).

Atas perbuatannya, pelaku dijerat Pasal 351 Ayat (1) dan (2) KUHP tentang penganiayaan yang mengakibatkan luka berat, dengan ancaman hukuman lima tahun penjara.

Langkah cepat dan tegas jajaran Polsek Kalisat menjadi bukti nyata kehadiran aparat dalam menegakkan hukum dan melindungi masyarakat. Peristiwa ini juga menjadi pengingat keras bahwa emosi sesaat bisa berujung penyesalan panjang, merusak masa depan dan melukai nilai kemanusiaan (Sofyan).

Tugusari, Desa Asri yang Menyimpan Kekayaan Alam dan Harapan Baru

0

JEMBER, Redaksi.co – Desa Tugusari, Kecamatan Bangsalsari, menjadi saksi kebersamaan antara insan pers, pemerintah, dan masyarakat dalam menjaga kelestarian alam. Kamis pagi (23/10/2025), Gabungan Wartawan Indonesia (GWI) Jember bersama Dinas Perikanan, Forkopimca Bangsalsari, serta Pemerintah Desa Tugusari menebar ribuan benih ikan di aliran Sungai Bendungan.
Namun di balik kegiatan itu, tersimpan kisah lebih dalam tentang potensi dan keindahan desa yang mulai bangkit.

Dikenal dengan udara yang sejuk dan hamparan alam yang hijau, Tugusari menyuguhkan suasana pedesaan yang menenangkan. Sungai Bendungan yang mengalir jernih di antara pepohonan menjadi sumber kehidupan bagi warga. Lahan pertanian yang subur, aliran air yang bersih, serta keramahan masyarakat menjadikan Tugusari memiliki daya tarik tersendiri bagi siapa pun yang datang berkunjung.

“Desa kami memiliki potensi alam yang luar biasa. Selain pertanian, kami juga sedang berupaya mengembangkan potensi wisata berbasis sungai dan lingkungan,” ujar Kepala Desa Tugusari, Ahmad Khoiri, penuh optimisme.
Ia menambahkan, kegiatan tebar ikan menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali ekosistem sungai sekaligus langkah awal menuju desa wisata yang mandiri.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Sekretaris Dinas Perikanan Jember, Poerwahjudi, Camat Bangsalsari Bambang Erwin Setyono, Babinsa Desa Abdul Rohim, serta sejumlah tokoh masyarakat.
Mereka kompak memberikan dukungan agar Tugusari terus tumbuh menjadi desa yang tidak hanya lestari, tetapi juga berdaya secara ekonomi dan wisata.

Usai penebaran ikan, suasana berlanjut di Alun-Alun Desa Bangsalsari. Forkopimca bersama masyarakat menikmati udara pagi yang segar, bercengkerama di bawah rindangnya pepohonan. Kegiatan ini sekaligus mempererat hubungan antara pemerintah dan warga dalam semangat gotong royong menjaga lingkungan.

Desa Tugusari kini tidak sekadar dikenal sebagai daerah hulu sungai, tetapi juga sebagai permata hijau di barat Jember — desa yang menyimpan kekayaan alam, kesejukan udara, dan semangat masyarakat untuk terus maju.
Dari sungai yang dijaga hingga alun-alun yang hidup, Tugusari perlahan menapaki jalan menuju desa wisata yang asri dan membanggakan.

Reporter: Uswa

Dari Jurnalis untuk Alam, GWI Jember Tebar Ribuan Ikan di Sungai tengah Sumberketangi

0

JEMBER, Redaksi.co – Gabungan Wartawan Indonesia (GWI) Jember bersama Dinas Perikanan Kabupaten Jember, Forkopimca Bangsalsari, serta Kepala Desa Tugusari melakukan aksi nyata pelestarian lingkungan dengan menebar ribuan benih ikan di aliran Sungai Bendungan, Kamis (23/10/2025).
Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian terhadap kelestarian alam, khususnya ekosistem perairan, agar tetap asri dan berkelanjutan.

Alam yang menjadi tempat hidup manusia, tumbuhan, dan hewan kini mulai terdegradasi akibat perkembangan yang tidak seimbang. Pertumbuhan penduduk yang pesat membuat kebutuhan ruang semakin meningkat hutan ditebang, lahan baru dibuka, dan keseimbangan lingkungan terganggu. Akibatnya, ekosistem sungai di daerah hilir pun ikut rusak: saat kemarau air menyusut, sementara di musim hujan air meluap, bahkan ikan-ikan yang dahulu hidup melimpah kini mulai menghilang.

Melihat kondisi tersebut, GWI Jember terpanggil untuk berbuat nyata. “Kami ingin menunjukkan bahwa wartawan tidak hanya berperan dalam menyampaikan berita, tetapi juga ikut menjaga alam yang menjadi sumber kehidupan,” ujar Ketua GWI Jember, Ahmadi alias Madek, sebelum melepas ribuan benih ikan tawes ke sungai.

Kepedulian itu mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Jember, yang diwakili oleh Sekretaris Dinas, Poerwahjudi.
“Teman-teman dari GWI mengajukan permohonan benih ikan untuk ditebar di sungai. Kami sangat mendukung langkah positif ini karena bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat luas,” ucapnya.

Poerwahjudi juga mengingatkan pentingnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan sungai. “Kami sering mendapat keluhan dari warga pesisir yang mengeluhkan banyaknya sampah dari hulu hingga sampai ke laut. Akibatnya, mereka lebih sering mendapatkan sampah daripada ikan,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Tugusari, Ahmad Khoiri, menyampaikan rasa syukur desanya terpilih menjadi lokasi kegiatan. “Kami beruntung menjadi tuan rumah penebaran benih ini. Daerah kami merupakan bagian hulu sungai yang cocok untuk pelepasan ikan. Semoga beberapa bulan ke depan hasilnya bisa dinikmati masyarakat sekitar,” ujarnya.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Camat Bangsalsari Bambang Erwin Setyono, Babinsa Desa Abdul Rohim, tokoh masyarakat setempat, mahasiswa KKN, serta penyuluh perikanan dari Dinas Perikanan Jember.
Aksi sosial ini menjadi simbol sinergi antara pemerintah, media, dan masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan — demi mengembalikan kehidupan alami habitat air di Jember.

Reporter: Sofyan

Dari Jurnalis untuk Alam, GWI Jember Tebar Ribuan Ikan di Sungai tengah Sumberketangi

0

JEMBER, Redaksi.co – Gabungan Wartawan Indonesia (GWI) Jember bersama Dinas Perikanan Kabupaten Jember, Forkopimca Bangsalsari, serta Kepala Desa Tugusari melakukan aksi nyata pelestarian lingkungan dengan menebar ribuan benih ikan di aliran Sungai Bendungan, Kamis (23/10/2025).
Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian terhadap kelestarian alam, khususnya ekosistem perairan, agar tetap asri dan berkelanjutan.

Alam yang menjadi tempat hidup manusia, tumbuhan, dan hewan kini mulai terdegradasi akibat perkembangan yang tidak seimbang. Pertumbuhan penduduk yang pesat membuat kebutuhan ruang semakin meningkat hutan ditebang, lahan baru dibuka, dan keseimbangan lingkungan terganggu. Akibatnya, ekosistem sungai di daerah hilir pun ikut rusak: saat kemarau air menyusut, sementara di musim hujan air meluap, bahkan ikan-ikan yang dahulu hidup melimpah kini mulai menghilang.

Melihat kondisi tersebut, GWI Jember terpanggil untuk berbuat nyata. “Kami ingin menunjukkan bahwa wartawan tidak hanya berperan dalam menyampaikan berita, tetapi juga ikut menjaga alam yang menjadi sumber kehidupan,” ujar Ketua GWI Jember, Ahmadi alias Madek, sebelum melepas ribuan benih ikan tawes ke sungai.

Kepedulian itu mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Jember, yang diwakili oleh Sekretaris Dinas, Poerwahjudi.
“Teman-teman dari GWI mengajukan permohonan benih ikan untuk ditebar di sungai. Kami sangat mendukung langkah positif ini karena bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat luas,” ucapnya.

Poerwahjudi juga mengingatkan pentingnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan sungai. “Kami sering mendapat keluhan dari warga pesisir yang mengeluhkan banyaknya sampah dari hulu hingga sampai ke laut. Akibatnya, mereka lebih sering mendapatkan sampah daripada ikan,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Tugusari, Ahmad Khoiri, menyampaikan rasa syukur desanya terpilih menjadi lokasi kegiatan. “Kami beruntung menjadi tuan rumah penebaran benih ini. Daerah kami merupakan bagian hulu sungai yang cocok untuk pelepasan ikan. Semoga beberapa bulan ke depan hasilnya bisa dinikmati masyarakat sekitar,” ujarnya.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Camat Bangsalsari Bambang Erwin Setyono, Babinsa Desa Abdul Rohim, tokoh masyarakat setempat, mahasiswa KKN, serta penyuluh perikanan dari Dinas Perikanan Jember.
Aksi sosial ini menjadi simbol sinergi antara pemerintah, media, dan masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan — demi mengembalikan kehidupan alami habitat air di Jember.

Reporter: Sofyan

Kades di Paluta Ditangkap karena Korupsi Dana Desa Rp 536 Juta, Dipakai untuk Usaha Istri Muda

0

Tapanuli Selatan – Unit Tindak Pidana Korupsi (Tipidkor) Satreskrim Polres Tapanuli Selatan berhasil mengungkap kasus korupsi dana desa yang mencengangkan.
Seorang kepala desa (Kades) di Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta) berinisial IJH (44), Kepala Desa Batang Onang Baru, Kecamatan Batang Onang, diduga menyelewengkan uang negara sebesar Rp 536.388.897.

Dana tersebut seharusnya digunakan untuk pembangunan dan kesejahteraan masyarakat desa, namun justru dialihkan untuk membiayai usaha kantin milik istri mudanya di Kota Medan.

Kasus ini terungkap berkat penyelidikan intensif yang dilakukan oleh Unit Tipidkor Satreskrim Polres Tapanuli Selatan di bawah pimpinan Ipda Saad Mardian Harahap, S.H., M.H.
Setelah melalui proses penyelidikan mendalam, polisi akhirnya menetapkan dan menahan IJH sebagai tersangka tindak pidana korupsi dalam pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) Tahun Anggaran 2023.

Kapolres Tapanuli Selatan melalui Kasat Reskrim AKP Hardiyanto, S.H., M.H., menjelaskan bahwa pengungkapan kasus ini berawal dari laporan masyarakat terkait dugaan penyalahgunaan dana desa oleh oknum kepala desa tersebut.

“Setelah menerima laporan, Kanit Tipidkor Ipda Saad Mardian Harahap, S.H., M.H. bersama tim segera melakukan penyelidikan dan berkoordinasi dengan APIP Inspektorat Daerah Kabupaten Padang Lawas Utara. Dari hasil audit, ditemukan adanya indikasi kerugian keuangan negara,” ungkap AKP Hardiyanto, Rabu (22/10/2025).



Dari hasil audit Inspektorat Padang Lawas Utara, diketahui terdapat perbedaan signifikan antara jumlah dana yang diterima dan realisasi penggunaan di lapangan.

“Total dana desa yang diterima pada tahun 2023 mencapai lebih dari Rp 1,15 miliar. Namun, realisasi belanja yang dapat dipertanggungjawabkan hanya sekitar Rp 622 juta. Selisih itulah yang menyebabkan kerugian negara sebesar Rp 536 juta,” jelasnya.



Polisi kini menahan tersangka IJH dan melanjutkan proses hukum sesuai peraturan yang berlaku. Aparat juga menegaskan komitmen mereka untuk menindak tegas segala bentuk penyalahgunaan dana desa yang merugikan masyarakat. (E.R)

Bupati Aceh Barat Tarmizi Tinjau Warga Terdampak Banjir Di Arongan Lambalek Dan Woyla

0

Aceh Barat.Redaksi.co
Bupati Aceh Barat Tarmizi SP,MM bersama Kepala BPBD, Kadis PUPR dan Kadis Sosial meninjau langsung warga yang terdampak banjir di Kecamatan Arongan Lambalek dan Kecamatan Woyla pada Kamis 23/10/2025

Saat melintasi Jalan Ateung Teupat, bupati bersama rombongan yang hendak meninjau dan memeri bantuan kepada warga terdampak banjir terpaksa menaiki ojek becak yang telah dimodifikasi, karena jalan tersebut masih terendam air dan sulit dilalui oleh kendaraan biasa pada umumnya.

Tarmizi mengatakan, Kecamatan Arongan Lambalek dan Woyla merupakan daerah langganan banjir, bahkan dalam setahun wilayah tersebut bisa dilanda banjir sampai 5 kali terutama saat memasuki musim penghujan.

“Kalau di Arongan Lambalek tadi kita ke Desa Gunong Pulo, kita melihat alhamdulillah air nya cepat surut karena tidak ada hujan deras di daerah kampung. Cuma karena hujan deras di daerah tetangga Pidie sehingga terjadinya banjir akibat air kiriman,” kata Tarmizi

Terkait dengah Jalan Ateung Teupat kata Tarmizi, setelah meninjau langsung kondisi jalan tersebut nantinya dia akan kembali menjumpai Menteri Pekerjaan Umum (PU) untuk mencari solusi penanganan jalan rawan banjir di Aceh Barat itu.

“Banjir yang kali ini tidak parah, karena hujan derasnya tidak lama dan airnya cepat surut insyaallah sore nanti sudah bisa dilalui oleh masyarakat. Kita tadi naik becak kendaraan alternatif bagi masyarakat melintasi banjir,” katanya.

Padahal kata Tarmizi, Pemkab Aceh Barat juga sudah mencarikan solusi bagi masyarakat pengendara roda dua dan empat saat jalan Ateung Teupat banjir dapat melintasi jalan alternatif yang telah dibuat.

“Untuk masyarakat dan pengendara pengendara roda dua dan empat ada jalan alternatif di Bubon yang akan kami cek ke sana apa kendalanya,” ujar Tarmizi.

Adapun bantuan Sembako yang diserahkan oleh Tarmizi kepada masyarakat yang terdampak banjir pada hari ini berupa beras, mie, hegenet kit, aqua, matras, sarden, selimut, kain sarung dan telor ****

Tumpukan Sampah Di Jembatan Leuhan,Bukti Kurang Kesadaran Warga & Lemahnya Pengawasan Pihak DLHK

0

Aceh Barat.Redaksi.Co
Tumpukan sampah yang mengendap diatas besi leges jembatan penghubung Gampong Leuhan, Kecamatan Johan Pahlawan dengan Gampong Ranto Panyang Barat Kecamatan Meureubo Kabupaten Aceh Barat,menjadi pemandangan yang memprihatinkan. Fenomena ini seolah menjadi potret nyata lemahnya kesadaran warga dalam membuang sampah sembarangan maupun lemahnya pengawasan dan penegakan aturan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Aceh Barat dalam mengatasi penomena ini

Dari Pantauan media ini pada Kamis (23/10/2025), terlihat sampah rumah tangga menumpuk di sekitar besi leges jembatan. Kondisi tersebut tidak hanya mengganggu estetika lingkungan, tetapi juga berpotensi membahayakan konstruksi jembatan akibat karat dan penumpukan material organik yang terus dibiarkan tanpa solusi nyata untuk mengatasinya.

Seorang warga Gampong Leuhan yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, tumpukan sampah itu bukan hal baru. Ia mengaku, hampir setiap hari melihat warga dari gampong sekitar membuang sampah langsung ke sungai.

“Sampah yang dibuang ke sungai sering kali tersangkut di besi bawah jembatan. Kalau dibiarkan, lama-lama bisa bikin besi jembatan berkarat dan keropos. Ini berbahaya untuk jangka panjang,” ujarnya dengan nada prihatin.

Warga lainnya juga menilai, DLHK Aceh Barat selaku pihak kebersihan terkesan lamban dan tidak tanggap terhadap kondisi ini.

“Armada kebersihan lewat setiap hari di atas jembatan, tapi seolah tidak peduli. Seharusnya dinas memasang tanda larangan membuang sampah atau sesekali menurunkan petugas untuk membersihkan area bawah jembatan,” ungkap salah seorang warga setempat.

Fenomena tersebut memperlihatkan dua persoalan utama yang saling berkaitan: rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan dan kurangnya tindakan pengawasan serta penegakan aturan dari instansi terkait.

Ketika dikonfirmasi media terkait persoalan penumpukan sampah di leges jembatan,Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Aceh Barat, Bhukari, mengaku akan segera meninjau lokasi untuk menindaklanjuti laporan warga.

“Terkait persoalan sampah di bantaran leges jembatan, akan kami cek besok. Kami berterima kasih atas laporan masyarakat yang peduli terhadap lingkungan ini. Besok akan kami tangani,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Meski begitu, warga berharap tindakan DLHK tidak hanya sebatas peninjauan sesaat, melainkan disertai langkah nyata seperti pembersihan rutin, penegakan sanksi terhadap pembuang sampah sembarangan, serta edukasi berkelanjutan kepada masyarakat.

Persoalan tumpukan sampah di Jembatan penghubung Leuhan -Ranto panyang ini bukan hanya sekadar masalah estetika, tetapi juga menyangkut keselamatan infrastruktur dan kesehatan lingkungan. Lemahnya pengawasan dan minimnya kesadaran warga menjadikan persoalan ini ibarat PR klasik yang tak kunjung selesai ****