Top 5 This Week

Related Posts

Tambang Tanah Jarang di Botteng Ditolak, Ketua Umum HIMEPA: Jangan Jadikan Tanah Kami Korban Eksploitasi

Redaksi.co MAMUJU : Gelombang penolakan terhadap rencana aktivitas tambang tanah jarang di Desa Botteng, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, mulai membesar. Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan (HIMEPA) Universitas Muhammadiyah Mamuju, M. Darwin. S., tampil lantang menyuarakan penolakan keras terhadap proyek tambang yang dinilai mengancam lingkungan dan masa depan masyarakat.

Sebagai putra daerah, Darwin menegaskan bahwa Desa Botteng bukan ruang kosong yang bisa dijadikan lokasi eksploitasi tanpa memikirkan dampak jangka panjang terhadap warga dan alam sekitar.

Kami menolak segala bentuk aktivitas tambang tanah jarang di Desa Botteng karena dikhawatirkan merusak lingkungan dan mengancam masa depan masyarakat. Kekayaan alam harus dijaga, bukan dieksploitasi tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang,” tegas Darwin dalam pernyataannya.

Penolakan ini bukan tanpa alasan. HIMEPA menilai aktivitas pertambangan berpotensi memicu kerusakan serius terhadap lahan pertanian warga, menghancurkan sumber mata air, hingga mengganggu keseimbangan ekosistem yang selama ini menjadi penopang kehidupan masyarakat Botteng.

Pernyataan sikap tersebut langsung memantik perhatian publik. Isu tambang tanah jarang kini menjadi sorotan baru di Mamuju, terutama di tengah meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap ancaman kerusakan lingkungan akibat aktivitas industri ekstraktif.

Darwin juga mendesak pemerintah daerah dan pihak terkait agar tidak gegabah menerbitkan izin operasional sebelum melakukan kajian mendalam dan transparan terhadap dampak lingkungan maupun sosial yang dapat ditimbulkan.

Menurutnya, pembangunan daerah tidak boleh dibangun di atas ancaman ekologis yang berpotensi diwariskan kepada generasi mendatang.

HIMEPA mengajak seluruh masyarakat, pemuda, dan mahasiswa untuk bersama-sama mengawal kelestarian lingkungan di Mamuju. Alam bukan warisan untuk dieksploitasi sesuka hati, tetapi titipan yang wajib dijaga,” ujarnya.

HIMEPA menegaskan bahwa pembangunan yang sehat harus berjalan beriringan dengan prinsip keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Mereka khawatir, jika tambang tetap dipaksakan masuk, Desa Botteng justru akan menghadapi ancaman bencana ekologis di masa depan.

Dengan mengusung semangat “Menjaga Alam, Menjaga Masa Depan”, HIMEPA Universitas Muhammadiyah Mamuju memastikan akan terus mengawal isu ini dan berdiri bersama masyarakat yang menolak tambang tanah jarang di wilayah mereka. (ZUL)

Popular Articles