Redaksi.co MAMUJU : Gelombang penolakan terhadap rencana tambang logam tanah jarang atau rare earth di wilayah Botteng terus menguat. Kali ini, suara lantang datang dari seorang perempuan muda berdarah Botteng, Rhena J. Tapion, yang menegaskan bahwa tanah kelahirannya bukanlah sekadar “harta karun” untuk diperebutkan investor dan kepentingan industri.
Dalam pernyataannya yang menyentuh dan penuh ketegasan, Rhena menolak keras eksploitasi tambang yang dinilai mengancam ruang hidup masyarakat, sumber air, lahan pertanian, hingga masa depan generasi muda di Botteng.
“Botteng bukan sekadar titik tambang di peta investasi. Botteng adalah rumah, ruang hidup, dan warisan leluhur yang harus dijaga,” tegasnya.
Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya perhatian terhadap potensi logam tanah jarang di Sulawesi Barat yang disebut-sebut menjadi incaran industri teknologi dan kendaraan listrik dunia. Namun bagi warga lokal, isu tersebut justru memunculkan kecemasan besar akan ancaman kerusakan lingkungan dan konflik sosial.
Rhena menilai pembangunan tidak boleh berjalan dengan mengorbankan kemanusiaan dan alam. Ia menyoroti berbagai kasus kerusakan ekologis di sejumlah daerah tambang yang meninggalkan krisis air bersih, hilangnya lahan pertanian, hingga kemiskinan masyarakat setelah sumber daya alam habis dieksploitasi.
“Pengalaman di banyak tempat menunjukkan tambang sering meninggalkan luka panjang bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa perempuan menjadi kelompok yang paling merasakan dampak ketika lingkungan rusak. Mulai dari sulitnya mendapatkan air bersih, menurunnya hasil kebun, hingga meningkatnya kerentanan perempuan dan anak saat konflik lahan terjadi.
“Ketika air tercemar, perempuan yang mencari air. Ketika dapur keluarga terancam, perempuan yang paling memikirkan bagaimana keluarga bertahan hidup,” katanya.
Karena itu, Rhena menegaskan bahwa penolakan masyarakat bukanlah bentuk anti pembangunan. Menurutnya, warga hanya ingin memastikan pembangunan tetap berpihak kepada rakyat dan tidak menghancurkan alam yang menjadi sumber kehidupan masyarakat turun-temurun.
Ia percaya Botteng memiliki potensi besar di sektor pertanian, budaya, dan sumber daya manusia yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan tanpa harus menghancurkan gunung dan tanah adat.
“Atas nama perempuan Botteng dan generasi yang akan datang, kami menolak tambang yang mengancam ruang hidup masyarakat. Alam bukan sekadar warisan leluhur, tetapi titipan Tuhan yang wajib dijaga,” pungkasnya.
Pernyataan Rhena kini menjadi sorotan dan mulai menggema di tengah masyarakat Mamuju. Banyak pihak menilai suara perempuan Botteng tersebut menjadi simbol perlawanan masyarakat lokal terhadap ancaman eksploitasi alam yang dinilai hanya menguntungkan segelintir pihak, sementara risiko kerusakannya harus ditanggung rakyat kecil selama puluhan tahun. (ZUL)
