Top 5 This Week

Related Posts

Monopoli BBM di Mambi Mencekik Rakyat, Diduga Dikuasai ‘Geng’ Pemilik SPBU dan Oknum Polisi

Redaksi.co MAMASA : Jeritan rakyat kecil di Kota Mambi dan sekitarnya kian memuncak. Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite yang melanda kawasan ini mendadak berubah menjadi bencana ekonomi bagi warga menengah ke bawah. Di tingkat pengecer, harga Pertalite meroket liar tak terkendali: menembus Rp15.000 hingga Rp16.000 per botol di wilayah kota, dan kian gila hingga Rp17.000 sampai Rp20.000 per botol di luar Kota Mambi!

Harga tak masuk akal ini memaksa warga merana. Banyak yang akhirnya nekat mengular dan berdesakan jam-jaman di SPBU Takurimbik demi mendapatkan harga resmi, ketimbang membeli di eceran yang diperas habis-habisan oleh oknum permainan harga.

Namun, mengantre di SPBU pun tak lantas menyelesaikan masalah. Kuota warga justru dicekik. Pihak SPBU mendadak memberlakukan pembatasan ketat: kendaraan roda dua hanya diperbolehkan mengisi maksimal Rp50.000, sementara roda empat dibatasi Rp200.000.

Mengapa BBM mendadak langka dan eceran melambung tinggi? Tabir gelap di balik penderitaan warga ini akhirnya dibongkar oleh Udin, salah seorang pengecer BBM di Mambi yang terpaksa menjual seharga Rp17.000 per botol.

Udin membeberkan fakta mengejutkan. Pengecer terpaksa menjual mahal karena membeli dari “pelansir” dengan harga fantastis, mencapai Rp450.000 per jeriken isi 31 liter. Menurut Udin, permainan ini berpusat di SPBU Takurimbik, yang disinyalir kuat dimonopoli secara rakus oleh lingkaran keluarga pemilik SPBU itu sendiri.

“Salah satu armada pelansir skala besar yang beroperasi adalah mobil Grand Max asal Lakahang. Mobil itu disinyalir milik seorang oknum polisi berinisial ‘I’,” ungkap Udin blak-blakan.

Skenario penyimpangan ini terbilang fantastis. Setiap kali tangki suplay BBM tiba di SPBU, oknum tersebut diduga mampu menyedot hingga 50 jeriken besar sekaligus! Pasokan BBM bersubsidi dalam jumlah raksasa ini kemudian dilarikan keluar daerah, yakni menuju Kecamatan Bonehau dan Kecamatan Kalumpang.

Pengambilan BBM dalam kuota yang amat tak wajar ini memantik amarah para pengecer lokal dan masyarakat Mambi. Muncul tuduhan kuat bahwa Surat Rekomendasi Pertanian, yang seharusnya diperuntukkan bagi kesejahteraan petani kecil telah disalahgunakan dan dijadikan “tameng legalitas” untuk mengeruk profit pribadi lewat praktik penyelundupan BBM antar-wilayah.

Ketika rakyat kecil dibatasi mengisi tangki motornya, ribuan liter Pertalite justru disedot menggunakan jeriken oleh pihak-pihak berkuasa. Mambi kini darurat keadilan: sampai kapan penderitaan rakyat dijadikan ladang bisnis oleh oknum main mata antara pemilik SPBU dan aparat? (ZUL)

Popular Articles