Redaksi.co MAMASA : Kisah pilu Salsabilah (12), bocah asal Desa Pamoseang, Kecamatan Mambi, Kabupaten Mamasa, akhirnya membuka mata banyak pihak. Setelah bertahun-tahun hidup dalam kondisi memprihatinkan tanpa penanganan medis yang layak, secercah harapan kini datang menghampirinya, dipicu oleh satu hal: viralnya penderitaan yang selama ini nyaris tak terlihat.
Selama satu dekade terakhir, Salsabilah berjuang melawan epilepsi kronis yang mulai menyerangnya sejak usia dua tahun. Dalam sehari, ia bisa mengalami kejang hingga lima kali, bahkan saat tertidur. Kondisi itu berlangsung tanpa pengobatan intensif, memperlihatkan betapa akses kesehatan di pelosok masih menjadi kemewahan yang sulit dijangkau.
Tak berhenti di situ, Salsabilah juga mengalami stunting parah. Di usianya yang menginjak 12 tahun, berat badannya hanya 16,44 kilogram, angka yang menggambarkan krisis gizi serius yang tak kunjung tertangani.
Di balik semua itu, ada realita getir yang tak bisa diabaikan: kemiskinan. Ibunya, Murniati, dengan suara bergetar mengungkapkan bahwa keterbatasan biaya membuat mereka tak pernah sekalipun membawa Salsabilah ke rumah sakit.
“Kadang sementara duduk saja, Salsabilah langsung kejang. Tapi kami tidak punya biaya untuk rujuk,” ujarnya lirih.
Namun, nasib Salsabilah berubah ketika kisahnya menyebar luas di media sosial dan memantik gelombang empati publik. Lembaga Cinta Kasih Makassar (LCKM) menjadi pihak yang bergerak cepat, turun langsung memberikan pendampingan penuh.
Pada Jumat pagi, tim LCKM menjemput Salsabilah dan membawanya ke Puskesmas Mambi untuk mengurus rujukan ke layanan kesehatan lanjutan. Langkah itu menjadi titik awal dari penanganan medis yang selama ini tak pernah ia rasakan.
Ketua LCKM, Silvi Feronika, menegaskan komitmen lembaganya untuk tidak setengah-setengah dalam mengawal kasus ini.
“Kami akan pastikan Salsabilah mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak. Termasuk merujuknya ke RSUD Andi Depu Polewali Mandar yang memiliki fasilitas lebih lengkap,” tegasnya.
Tak butuh waktu lama, pada Jumat siang pukul 13.00 WITA, Salsabilah langsung diberangkatkan menuju fasilitas kesehatan di Polewali Mandar untuk pemeriksaan lanjutan.
Perjalanan ini bukan sekadar rujukan medis, ini adalah simbol dari harapan yang selama ini tertunda. Kasus Salsabilah menjadi tamparan keras bagi semua pihak bahwa di balik gemerlap pembangunan, masih ada anak-anak yang berjuang sendirian untuk sekadar mendapatkan hak dasar: hidup sehat.
Kini, mata publik tertuju. Pertanyaannya sederhana namun tajam, berapa banyak “Salsabilah” lain yang belum viral, dan masih menunggu diselamatkan? (ZUL)

