Redaksi.co MAMASA : Emosi warga Kelurahan Talippuki mendidih. Sebuah papan nama proyek yang seharusnya menjadi simbol kemajuan, kini justru memicu polemik panas dan kecurigaan publik. Ketua Permata Talippuki, Hairul, dengan lantang membongkar borok di balik pembangunan Koperasi Merah Putih yang dinilai penuh kejanggalan dan dibungkus ketertutupan.
Bukan sekadar masalah salah ketik, kekeliruan penulisan nama “Talipuki” pada papan proyek tersebut meledak menjadi tamparan keras bagi pihak pengurus.
“Kesalahan penulisan ‘Talipuki‘ bukan sekadar typo! Itu bukti nyata pengurus abai terhadap identitas warga dan dasar administrasi. Salah ejaan artinya juga salah: salah data, salah legalitas, salah arah!” tegas Hairul dengan nada berapi-api.
Hairul menuntut pertanggungjawaban penuh dari pihak-pihak yang menyetujui desain amatir tersebut. Menurutnya, penggunaan uang negara tidak boleh dilakukan secara serampangan.
“Seharusnya cek dulu kebenarannya sebelum uang negara dibelanjakan untuk papan yang keliru. Kalau hal paling dasar saja keliru, bagaimana kami percaya hal besar seperti pengelolaan koperasi akan benar?” cecarnya.
Gencatan kritik tidak berhenti sampai di situ. Di balik megahnya papan nama yang cacat logika tersebut, aroma ketidaktransparanan anggaran justru tercium semakin menyengat. Pengurus Koperasi Merah Putih dituding sengaja “bermain petak umpet” terkait aliran dana pembangunan.
Warga mendesak agar tirai misteri ini segera dibuka. Hingga detik ini, publik masih dibutakan oleh informasi krusial yang sengaja disembunyikan.
Rincian RAB (Rencana Anggaran Biaya): Terkunci rapat dari mata publik.
Rekanant Pelaksana: Siapa “pemain” di balik proyek ini masih menjadi teka-teki.
“Transparansi adalah kunci kepercayaan publik. Sampai saat ini pengurus belum membuka total anggaran, rincian RAB, dan siapa rekanan pelaksananya,” pungkas Hairul, melempar bom waktu yang kini siap meledak jika pengurus koperasi tetap memilih bungkam. (ZUL)

