Top 5 This Week

Related Posts

Ketua Srikandi IPMAPUS Sulbar Ledakkan Penolakan TTJ di Mamuju: “Jangan Korbankan Rakyat Demi Investasi”

Redaksi.co MAMUJU : Bara perlawanan rakyat terhadap rencana eksploitasi tambang logam tanah jarang (rare earth) di Kabupaten Mamuju kini resmi meledak. Bukan lagi sekadar riak penolakan, gerakan ini berubah menjadi perlawanan sengit setelah Ketua Srikandi Pengurus Pusat Ikatan Pelajar Mahasiswa Pitu Ulunna Salu Sulawesi Barat (PP-IPMAPUS Sulbar), Nur Aysya, turun gelanggang dan menabuh genderang perang secara terbuka.

Dengan narasi yang membakar, Nur Aysya mengecam keras wacana eksploitasi tersebut. Ia melabeli proyek investasi ini bukan sebagai pembawa kesejahteraan, melainkan “bom waktu” mematikan yang siap menghancurkan ruang hidup dan masa depan Sulawesi Barat.

“Kami menolak dengan tegas segala bentuk aktivitas tambang tanah jarang di Mamuju! Jangan berani-berani menjadikan tanah, kampung, dan rakyat kami sebagai tumbal investasi,” tegas Nur Aysya dengan nada tinggi penuh amarah.

Pernyataan frontal ini bukan tanpa alasan. Isu tambang ini menjadi sangat “seksi” sekaligus mengerikan karena Mamuju bukan lahan sembarangan. Berdasarkan riset mendalam dari BRIN dan BATAN, bumi Mamuju menyimpan kandungan mineral radioaktif alami berkadar tinggi, seperti uranium dan thorium.

Jika dikeruk tanpa transparansi dan kajian yang matang, aktivitas ini sama saja dengan membuka “kotak pandora” bencana nuklir lokal. Nur Aysya memperingatkan bahwa eksploitasi ini berpotensi memicu bencana ekologis mengerikan, di mana radiasi mematikan akan menghantui masyarakat Sulbar hingga lintas generasi.

“Ini bukan sekadar urusan bisnis tambang! Ini soal taruhan nyawa manusia, soal masa depan generasi kita, dan soal tanah adat yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat,” cetusnya.

Daya pikat perlawanan Srikandi ini kian tajam saat membongkar fakta lapangan. Wilayah yang diincar korporasi ternyata bukan lahan kosong, melainkan pemukiman padat dan lahan pertanian produktif yang selama ini menghidupi ribuan perut warga.

Jika proyek ini dipaksakan, skenario terburuknya adalah penggusuran massal, hilangnya mata pencaharian, dan tercerabutnya akar sejarah masyarakat dari tanah leluhur mereka.

Rakyat itu manusia, bukan benda mati yang bisa diusir dan dipindahkan seenaknya demi syahwat korporasi! Ada kehidupan, ada sejarah, dan ada harga diri di atas tanah itu,” bentak Nur Aysya.

Melihat potensi konflik sosial yang bisa meletus kapan saja, Srikandi PP-IPMAPUS Sulbar mengeluarkan maklumat keras. Mereka mendesak pemerintah daerah dan pusat untuk segera menghentikan sikap gegabah menggelar karpet merah bagi investor tanpa dokumen lingkungan yang jujur dan transparan.

Tak main-main, sang Srikandi kini mulai menggalang kekuatan massa. Ia menyerukan konsolidasi akbar kepada seluruh elemen pemuda, aktivis mahasiswa, gerakan perempuan, dan organisasi sipil di Sulbar untuk bersatu padu membentuk barikade hidup.

Keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi, berada jauh di atas keuntungan jangka pendek investor! Jangan wariskan bencana nuklir dan air mata demi memperkaya segelintir elite,” pungkas Nur Aysya menutup orasinya dengan berapi-api.

Popular Articles