Redaksi.co MAMASA : Deru banjir yang menggila di Kecamatan Mambi, Kabupaten Mamasa, berubah menjadi petaka memilukan bagi warga Dusun Palado, Desa Indobanua. Hujan deras yang mengguyur wilayah itu membuat Sungai Aralle meluap hingga mencapai sekitar 12 meter dan menghantam Jembatan Palado sampai putus total pada Kamis malam (14/5/2026) sekitar pukul 18.00 WITA.
Jeritan kesedihan warga pecah ketika satu-satunya akses penghubung kehidupan mereka roboh diterjang arus ganas. Jembatan yang selama ini menjadi nadi aktivitas masyarakat kini tinggal puing, meninggalkan puluhan warga dalam ancaman keterisolasian.
Bagi masyarakat Dusun Palado, jembatan itu bukan sekadar bangunan penghubung. Di atas jembatan itulah anak-anak berangkat sekolah, warga mencari nafkah, ibu-ibu mengambil kebutuhan harian, hingga saluran distribusi air bersih bergantung penuh pada akses tersebut.
Kepala Desa Indobanua, Dulla M, mengungkapkan bahwa jembatan itu dibangun sejak 2010 melalui program PNPM dan pernah diperbaiki menggunakan dana desa pada 2022. Namun kerusakan kembali terjadi pada awal 2024 dan hanya mampu diperbaiki secara swadaya oleh masyarakat.
“Tidak ada alternatif lain untuk jalan keluar dari Dusun Palado. Warga hanya mengandalkan jembatan itu untuk menyeberangi sungai,” ujarnya dengan nada penuh kekhawatiran.
Kini penderitaan warga semakin berat. Putusnya jembatan membuat suplai air bersih ikut terhenti. Warga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar di tengah kondisi yang semakin memprihatinkan.
Sebanyak 19 Kepala Keluarga terdampak langsung dalam bencana ini. Di antara mereka terdapat seorang lansia, dua ibu hamil, dan 14 balita yang kini berada dalam situasi rawan.
Kepala Dusun Palado, Ilham, mengatakan kondisi tersebut sangat memukul kehidupan masyarakat karena seluruh akses utama lumpuh total.
“Kalau tidak segera ditangani, warga bisa benar-benar terisolasi,” tegasnya.
Dampak tragedi ini juga menghantam dunia pendidikan. Satu Madrasah Ibtidaiyah dengan tujuh tenaga pendidik dan 12 siswa ikut terdampak akibat putusnya akses penghubung desa.
Tak hanya itu, sedikitnya 11 pelajar tingkat SMP dan SMA yang setiap hari harus melintasi jembatan menuju sekolah di Talippuki dan Mambi kini terancam tidak bisa bersekolah.
“Sekarang akses mereka terganggu karena jembatan sudah putus,” kata Ani, salah seorang warga dengan wajah penuh kecemasan.
Di tengah kesedihan itu, ancaman ekonomi warga juga semakin nyata. Jembatan Palado merupakan jalur utama masyarakat menuju lahan pertanian dan perkebunan. Saat ini tanaman padi warga tengah memasuki masa panen, namun mereka tak lagi bisa menjangkau sawah mereka.
“Padi sudah matang, tapi kami kesulitan memanen karena jembatan itu satu-satunya jalan menyeberang,” ungkap Muliadi lirih.
Warga berharap pemerintah daerah, pemerintah provinsi hingga pemerintah pusat segera turun tangan sebelum kondisi berubah menjadi krisis kemanusiaan yang lebih besar. Tangisan dan kecemasan masyarakat Dusun Palado kini menunggu jawaban nyata dari pemerintah, sebelum desa kecil di pedalaman Mamasa itu benar-benar terputus dari dunia luar. (ZUL)

