Top 5 This Week

Related Posts

Potensi Rumput Laut Sulbar Besar, Peneliti Dorong Industri Pengolahan dan Ekspor Dibangun di Daerah

Redaksi.co MAMUJU : Mamuju menjadi titik awal penelitian strategis yang menyoroti besarnya potensi rumput laut di Sulawesi Barat yang dinilai belum diimbangi dengan kebijakan dan pengembangan industri yang optimal. Penelitian ini bertujuan menyelaraskan kebijakan pengembangan budidaya dan industri rumput laut antara Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan sebagai dua sentra utama produksi nasional.

Tim peneliti mengkaji keselarasan kebijakan dari tingkat daerah hingga pusat, khususnya penerapan konsep ekonomi sirkular dalam industri rumput laut. Konsep ini menekankan pengembangan terintegrasi mulai dari penanaman, pengolahan, pasca panen, hingga pengelolaan limbah agar memberi nilai tambah yang lebih besar bagi daerah penghasil.

Penelitian ini melibatkan sejumlah perguruan tinggi, yakni Universitas Hasanuddin, Institut Pertanian Bogor, Universitas Airlangga, serta University of Queensland. Setelah Mamuju, tim akan melanjutkan penelitian ke sejumlah wilayah lain guna melihat secara langsung kesenjangan kebijakan yang terjadi di lapangan.

Secara potensi, Sulawesi Barat memiliki garis pantai panjang dan kualitas rumput laut yang dinilai sangat baik. Namun, dari sisi data produksi, wilayah ini masih tertinggal. Selama ini produksi lebih banyak tercatat berasal dari Sulawesi Selatan, sehingga alokasi anggaran pengembangan rumput laut cenderung terkonsentrasi di daerah tersebut.

Di sisi lain, jumlah pembudidaya rumput laut di Sulawesi Barat juga dilaporkan menurun. Berkurangnya bantuan pengembangan, termasuk Dana Alokasi Khusus (DAK) pada periode 2025–2026, menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut.

Permasalahan utama lainnya adalah belum adanya industri pengolahan rumput laut di Sulawesi Barat. Produk yang dihasilkan petani selama ini langsung dikirim dalam bentuk mentah ke Sulawesi Selatan tanpa pengolahan lanjutan. Kondisi ini menyebabkan nilai tambah ekonomi daerah belum maksimal.

Menurut peneliti dari Universitas Airlangga, La Ode Sabaruddin, perbaikan pencatatan data produksi dan distribusi menjadi langkah penting untuk mengatasi kesenjangan tersebut. Data yang akurat diharapkan dapat mendorong kebijakan anggaran, bantuan sarana-prasarana, serta pengembangan sumber daya manusia yang lebih tepat sasaran.

Ke depan, Sulawesi Barat diharapkan tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi mampu membangun industri pengolahan sendiri hingga membuka peluang ekspor. Dengan dukungan kebijakan, investasi, serta pembangunan infrastruktur, potensi besar rumput laut Sulawesi Barat diyakini dapat mendorong daerah ini menjadi pusat industri rumput laut nasional yang terintegrasi dan berdaya saing tinggi. (ZUL)

Popular Articles