Bakesbangpol Jabar Khoirul Naim: Literasi digital sangat Fundamental bagi Ketahanan Sosial

0
8

Redaksi.Co, Cianjur || Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Jawa Barat menggelar sosialisasi literasi digital dan anti hoaks bertajuk “Ngabedakeun Kaler Jeung Kidul” di Gedung PGRI Kecamatan Bojongpicung, Kabupaten Cianjur, Kamis (12/3/2026).

Kegiatan tersebut diikuti berbagai kalangan, mulai dari tokoh masyarakat, tenaga pendidik, hingga unsur pemerintahan. Sosialisasi ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menyaring informasi di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

Sebelum acara dimulai, kegiatan diawali penampilan angklung dari tim PGRI Cabang Bojongpicung yang terdiri dari para guru dan kepala sekolah. Sebanyak 38 pemain membawakan lagu Manuk Dadali dan Sisi Basisir Jayanti.

Anggota Komisi IV DPRD Jawa Barat, Tom Maskun, mengapresiasi Kabupaten Cianjur yang menjadi lokasi sosialisasi. Ia menilai literasi digital penting agar masyarakat mampu menghadapi arus informasi di era global.

Menurutnya, perkembangan teknologi dan media sosial membuat masyarakat harus semakin cerdas dalam menyaring informasi. Literasi digital menjadi tanggung jawab bersama agar masyarakat tidak mudah terpengaruh hoaks.

Perwakilan Badan Kewaspadaan Daerah, Khoirul Naim, menyebut literasi digital sebagai isu fundamental bagi ketahanan sosial masyarakat. Ia menilai Jawa Barat memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas informasi nasional.

Ia menjelaskan, jumlah penduduk Jawa Barat mencapai sekitar 20 persen dari total penduduk Indonesia. Selain itu, tingkat penggunaan media sosial di provinsi ini sangat tinggi.

Kepala Kesbangpol Cianjur Ahmad Mutawali menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, aparat, akademisi, media, dan masyarakat dalam menghadapi hoaks generatif di era kecerdasan buatan.

Menurutnya, perkembangan teknologi digital dan AI telah memunculkan ancaman baru berupa manipulasi informasi yang semakin sulit dibedakan dari fakta.

Pemateri lainnya, Joko Ardi, menjelaskan teknologi deepfake mampu meniru wajah dan suara seseorang secara realistis melalui kecerdasan buatan, sehingga dapat memicu penipuan dan disinformasi.

Ia mengungkapkan lonjakan konten deepfake mencapai 968 persen dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan kerugian global akibat penipuan berbasis manipulasi identitas digital mencapai miliaran dolar.

Dosen Universitas Bhayangkara Jakarta Raya Indah Pangestu Amaritasari mengingatkan masyarakat agar mampu membedakan fakta, opini, dan hoaks di dunia digital yang dipenuhi informasi.

Ia menekankan pentingnya literasi kritis dengan memeriksa sumber informasi, menyadari bias, serta membandingkan informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.

Sementara itu, perngamat dari Sinergi Media Digital Indonesia Aam Abdul Salam mengingatkan bahwa deepfake dan hoaks berbasis AI berpotensi mengganggu stabilitas informasi dan keamanan daerah.

Ia mengimbau masyarakat untuk tidak langsung mempercayai informasi viral, melakukan verifikasi, serta meningkatkan literasi digital agar tidak mudah terpengaruh manipulasi informasi di media sosial, tegasnya. (Asep S)***

Editor : Opik