Redaksi.co JAKARTA : Di tengah dahaga publik akan figur penegak hukum yang bersih dan berintegritas, nama Prof. Dr. H. Baharuddin Lopa, SH. kembali mencuat dan menggetarkan sanubari bangsa. Hampir seperempat abad sejak wafatnya sang Jaksa Agung legendaris era Presiden Gus Dur ini pada 3 Juli 2001, sebuah kesaksian eksklusif dari orang dalam akhirnya terungkap ke publik, membuka tabir kehidupan sehari-hari sang “Pendekar Hukum” yang belum pernah tertulis di buku sejarah mana pun.
Adalah Wajidi Sayadi, seorang akademisi yang berkesempatan emas hidup satu atap dengan Baharuddin Lopa selama tiga tahun di Komplek Pondok Bambu, Jakarta Timur. Saat itu, Wajidi yang sedang menempuh studi Magister dan Doktor di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menyaksikan langsung bagaimana seorang pejabat tinggi negara menjalani hidup dengan kesederhanaan yang hampir tidak masuk akal untuk ukuran zaman sekarang.
“Ini bukan kajian akademik atau biografi resmi. Ini adalah kesaksian pribadi tentang bagaimana sosok beliau dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Wajidi.
Kenangan yang sempat tersimpan rapat selama 25 tahun ini kembali menyeruak ke permukaan dipicu oleh dua peristiwa besar yang terjadi baru-baru ini:
* Bedah Buku di Kampung Halaman: Diskusi buku Biografi Prof. Dr. H. Baharuddin Lopa, SH. (Kesaksian Seorang Jaksa Berintegritas) karya Prof. Dr. H. Ahmad Sewang, MA. yang digelar langsung di Aula Pondok Pesantren An-Nuhiyah Pambusuang, Polewali Mandar, Sulawesi Barat.
* Reuni “Alumni Pondok Bambu” di Jakarta: Resepsi pernikahan cucu Baharuddin Lopa, Ananda Ghina Ashila (putri dari Ir. H. Iskandar Muda Baharuddin Lopa) pada 2 Mei 2026 lalu di Jakarta. Momentum ini menjadi ajang berkumpulnya kembali para sahabat lama yang dahulu kerap menghabiskan waktu di rumah dinas Lopa.
Nama “Barlop” dikenal sebagai momok menakutkan bagi para koruptor. Karir pria kelahiran Pambusuang, 27 Agustus 1935 ini melesat dari Kepala Kejaksaan Negeri Maluku Utara, merambah ke berbagai daerah sebagai Kajati di Sulawesi Tenggara, Aceh, Kalimantan Barat, hingga Sulawesi Selatan. Ia juga pernah mengemban amanah sebagai Dirjen Pemasyarakatan, Sekjen Komnas HAM, Duta Besar RI untuk Arab Saudi, Menteri Kehakiman, hingga puncaknya sebagai Jaksa Agung RI.
Namun, di balik sederet jabatan mentereng tersebut, Wajidi Sayadi mengungkap 4 pilar utama yang membentuk karakter asli Baharuddin Lopa:
Tauhid yang Kokoh (Tanpa Pencitraan): Lopa adalah manusia yang merdeka dari kepura-puraan. Apa yang ia yakini di dalam hati, itulah yang ia praktikkan di lapangan. Tidak ada rekayasa citra di depan kamera.
Keberanian Berbasis Moral: Ketegasannya yang menakutkan para pelanggar hukum tidak lahir dari kemarahan personal, melainkan dari rasa tanggung jawab mutlak kepada Allah SWT dan bangsa.
Kesederhanaan yang Ekstrem: Meski menguasai jaringan hukum nasional, kehidupan pribadi Lopa dan istrinya, Hj. Andi Indrawulan, tetap bersahaja layaknya masyarakat biasa. Kemewahan adalah hal tabu di rumah mereka.
Takzim kepada Ulama: Di tengah kesibukannya memburu keadilan, Lopa selalu menyempatkan diri bersimpuh di hadapan para alim ulama untuk meminta nasihat spiritual.
Baharuddin Lopa mengembuskan napas terakhirnya di Riyadh, Arab Saudi, pada usia 65 tahun 11 bulan saat masih aktif menjabat sebagai Jaksa Agung. Secara biologis, usianya memang singkat. Namun, warisan integritasnya abadi.
Bagi Wajidi Sayadi, tinggal bersama Lopa bukan sekadar menumpang hidup, melainkan sebuah kuliah kehidupan tentang arti sejati dari keberanian.
Kini, di tahun 2026, ketika hukum sering kali dipandang bisa diperjualbelikan, Indonesia membeku dalam rindu. Bangsa ini merindukan kembali sosok seperti Baharuddin Lopa, seorang pejabat yang berbicara apa adanya, bekerja dengan hati nurani, dan tidak pernah takut menghadapi risiko apa pun demi tegaknya keadilan di bumi pertiwi.

