Fakfak, Redaksi.co – Badan Usaha Milik Kampung (Bumkam) Bersama Ita Mancia Kokas (Katong Orang Kokas), resmi memulai distribusi perdana hasil pertanian dan perikanan masyarakat melalui skema kemitraan, Minggu (8/02/2026). Kegiatan ini menjadi tonggak awal penguatan ekonomi kampung melalui pemasaran hasil produksi lokal secara terorganisir.
Distribusi perdana tersebut ditandai dengan penerimaan sekaligus pengiriman pertama berbagai komoditas lokal yang telah memiliki kontrak kerja sama dengan PT HSI sebagai mitra distribusi. Perusahaan ini menangani suplai kebutuhan logistik (sesmik) untuk wilayah Kokas dan Sorong Selatan.
Bumkam Bersama Ita Mancia Kokas sendiri dibentuk atas inisiatif dan dukungan penuh Pemerintah Distrik Kokas sebagai wadah resmi pengelolaan potensi ekonomi masyarakat. Kepala Distrik Kokas terlibat langsung sejak proses pembentukan, pembinaan, hingga tahap pengiriman perdana. Bahkan, ia turut hadir melepas langsung keberangkatan komoditas dari Kokas sebagai bentuk dukungan nyata pemerintah.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya menerjemahkan visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati Fakfak dalam mendorong kemandirian ekonomi kampung serta penguatan UMKM berbasis potensi lokal.
Selain pemerintah distrik, BP Tangguh juga berperan sebagai pihak yang memfasilitasi dan mengawal Bumkam, mulai dari pendampingan, koordinasi kemitraan, hingga memastikan proses distribusi berjalan lancar.
Ketua Bumkam Bersama Ita Mancia Kokas, Abdul Tanggih Iriwanas, mengatakan distribusi perdana ini menjadi langkah awal dalam mengoptimalkan potensi besar sektor pertanian dan perikanan masyarakat yang selama ini belum terkelola maksimal.
“Ini adalah titik awal agar hasil kebun dan tangkapan nelayan punya pasar yang pasti. Kita ingin potensi kampung benar-benar memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.
Pada tahap pertama, komoditas yang dikirim masih didominasi hasil pertanian segar, seperti kangkung, sawi, labu siam, tomat, rica (cabai), jeruk, serta berbagai jenis sayuran lainnya. Dari sektor perikanan, masyarakat juga memasok ikan komo dan ikan asar sebagai produk unggulan lokal.
Sementara itu, komoditas lain seperti ayam potong dan daging sapi sebenarnya sudah masuk dalam daftar permintaan pasar, namun pengirimannya akan dilakukan pada tahap berikutnya menyesuaikan kesiapan produksi.
Meski menjadi langkah awal, volume distribusi saat ini baru mencapai sekitar 10–15 persen dari total potensi produksi Kokas. Karena itu, tahap perdana difokuskan pada pembuktian kualitas produk sebagai jaminan kepercayaan bagi mitra kerja sama, sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas.
Tanggih berharap ke depan semakin banyak mitra yang terlibat sehingga seluruh hasil produksi petani dan nelayan Kokas dapat terserap pasar secara berkelanjutan.
Program ini diharapkan menjadi langkah jangka panjang dalam menciptakan kepastian pemasaran, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta mendorong kesejahteraan warga kampung.
“Intinya, kita ingin hasil masyarakat dipasarkan secara pasti dan kesejahteraan warga Kokas semakin meningkat,” tutupnya.












