REDAKSI. CO – Polresta Tidore melalui Polsek Oba Utara mengamankan dua pelaku beserta barang bukti minuman keras (miras) jenis cap tikus sebanyak 500 kantong. Kedua pelaku sebelumnya diserahkan oleh personel Intelijen Satuan Brimob Polda Maluku Utara kepada Polsek Oba Utara untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.
Kasi Humas Polresta Tidore IPDA Irwan Sanjaya Hamu, S.H., membenarkan adanya penyerahan tersebut. Ia mengatakan, kegiatan berlangsung pada Selasa (18/8/2026) sekitar pukul 02.30 WIT.
“Benar, telah dilaksanakan penyerahan dua orang pelaku beserta barang bukti miras jenis cap tikus dari Intelijen Satuan Brimob Polda Maluku Utara kepada Polsek Oba Utara,” ujar IPDA Irwan.
Adapun kedua pelaku yang diamankan masing-masing berinisial A (38) dan YM (39). Dari penindakan tersebut, petugas turut mengamankan barang bukti berupa 500 kantong minuman keras jenis cap tikus.
Selanjutnya, kedua pelaku bersama seluruh barang bukti dibawa dan diamankan di Mako Polsek Oba Utara guna menjalani pemeriksaan serta proses hukum lebih lanjut sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Polresta Tidore menegaskan komitmennya untuk terus melakukan upaya pemberantasan peredaran minuman keras ilegal sebagai bagian dari menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah hukum Polresta Tidore.
PURWAKARTA | REDAKSI.CO– Polri terus hadir di tengah berbagai kegiatan masyarakat sebagai bentuk pelayanan dan pengayoman untuk memastikan setiap aktivitas berjalan aman, tertib dan lancar. Pada Rabu (19/8/2026) sekitar pukul 09.00 WIB.
Bhabinkamtibmas Desa Sempur AIPTU H. M. Syamsudin melaksanakan pengamanan dan pengawalan kegiatan Karnaval HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang diselenggarakan Yayasan Salafiyah Desa Sempur, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta.
Kegiatan karnaval mengambil rute di wilayah Desa Sempur, Kecamatan Plered, dengan melibatkan masyarakat dan peserta yang turut memeriahkan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Dalam pelaksanaannya, Bhabinkamtibmas melakukan pengamanan sekaligus pemantauan situasi di sepanjang jalur yang dilalui peserta. Kehadiran personel diharapkan dapat memberikan rasa aman serta mencegah terjadinya gangguan kamtibmas maupun potensi kecelakaan selama kegiatan berlangsung.
Selain melakukan pengamanan, personel juga mengimbau peserta dan masyarakat untuk tetap tertib, menjaga keselamatan serta mengikuti arahan petugas di lapangan, khususnya ketika melintasi ruas jalan yang digunakan masyarakat umum.
Kapolres Purwakarta AKBP Febri Nurzam melalui Kasi Humas Polres Purwakarta IPTU Tini Yutini mengatakan bahwa pengamanan kegiatan masyarakat merupakan bagian dari pelayanan Polri untuk memastikan masyarakat dapat merayakan momentum kemerdekaan dengan aman dan nyaman.
“Polri hadir untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat. Kami mengimbau seluruh peserta dan masyarakat yang mengikuti karnaval agar tetap menjaga ketertiban, memperhatikan keselamatan dan menghormati pengguna jalan lainnya,” ujar IPTU Tini Yutini.
Ia menambahkan, keterlibatan Bhabinkamtibmas dalam kegiatan masyarakat juga menjadi sarana untuk mempererat komunikasi dan kedekatan antara Polri dengan warga. (*/SK)
SEULIMEUM – Kemeriahan dan semangat membara mewarnai perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 di Kecamatan Seulimeum. Suasana jalanan dipenuhi lautan manusia yang antusias menyaksikan Pawai Karnaval Budaya. Di tengah persaingan ketat, kontingen SDN 1 Seulimeum sukses mencuri perhatian juri hingga berhasil menyabet gelar Juara 1 tingkat kecamatan.
Pawai yang berlangsung semarak ini dihadiri langsung oleh jajaran Muspika Kecamatan Seulimeum beserta para tokoh masyarakat. Kehadiran unsur pimpinan kecamatan menambah kekhidmatan parade perjuangan dan kebudayaan yang dibawakan oleh para siswa.
Sejak garis start, SDN 1 Seulimeum tampil sangat atraktif dengan aneka busana adat, pakaian profesi, dan kreasi seni Nusantara. Keberhasilan luar biasa ini tidak lepas dari peran dingin Ketua Tim Karnaval, Rina Maufizar, S.Pd. Bersama timnya, ia merancang konsep pertunjukan yang mengagumkan dan syarat akan nilai nasionalisme.
”Kami merancang konsep ini dengan hati dan rasa cinta tanah air. Anak-anak tampil penuh percaya diri dan sangat bersemangat sepanjang rute parade. Gelar Juara 1 ini kami persembahkan untuk seluruh keluarga besar SDN 1 Seulimeum,” ungkap Rina Maufizar, S.Pd., dengan penuh haru dan bangga.
Kepala SDN 1 Seulimeum, Surya Dharma, juga menyampaikan apresiasi tinggi atas dedikasi dan kerja keras seluruh pihak yang terlibat.
”Kemenangan ini adalah buah dari kekompakan dan semangat juang anak-anak, Ketua Tim Ibu Rina Maufizar, serta seluruh dewan guru. Terima kasih atas dukungan luar biasa dari para orang tua murid dan Muspika Seulimeum. Ini menjadi kado terindah bagi sekolah kita,” ujar Surya Dharma.
Kemeriahan pesta rakyat ini ditutup dengan sorak-sorai gembira dan foto bersama. Kemenangan SDN 1 Seulimeum menjadi bukti nyata bahwa semangat patriotisme dan kreativitas generasi muda di Seulimeum terus menyala terang.
JAKARTA ,REDAKSI.CO— Tim Patroli Gabungan Brimob Batalyon B Pelopor Satbrimob Polda Metro Jaya bersama Perintis Presisi Polres Metro Jakarta Timur menggagalkan dugaan aksi tawuran di Jalan Raya Cilangkap, Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (19/8/2026) dini hari.
Dalam kegiatan tersebut, petugas mengamankan empat pemuda, tiga bilah senjata tajam, dan dua unit sepeda motor. Seluruhnya kemudian diserahkan kepada Polres Metro Jakarta Timur untuk pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.
Peristiwa bermula ketika tim melaksanakan Kegiatan Rutin yang Ditingkatkan (KRYD) sejak Selasa (18/8) malam. Sekitar pukul 03.51 WIB, petugas menerima informasi dari masyarakat mengenai sekelompok pemuda yang diduga hendak melakukan tawuran.
Tim segera mendatangi lokasi untuk mencegah terjadinya bentrokan. Sejumlah pemuda berupaya melarikan diri saat melihat kedatangan petugas, namun empat orang berhasil diamankan beserta barang-barang yang ditemukan di lokasi.
Dansat Brimob Polda Metro Jaya Kombes Pol Henik Maryanto mengatakan patroli pada waktu dan lokasi rawan terus ditingkatkan sebagai langkah pencegahan terhadap tawuran serta gangguan keamanan lainnya.
“Kehadiran personel di lapangan merupakan upaya memberikan rasa aman kepada masyarakat sekaligus mencegah terjadinya aksi yang dapat merugikan dan membahayakan warga,” ujar Kombes Pol Henik.
Sementara itu, Kabidhumas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto mengapresiasi kepedulian masyarakat yang segera menyampaikan informasi kepada petugas. Menurutnya, keterlibatan warga sangat penting dalam mencegah gangguan keamanan sejak dini.
“Kami mengapresiasi masyarakat yang cepat memberikan informasi sehingga petugas dapat segera melakukan pencegahan. Kami mengajak para orang tua meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak-anak, khususnya pada malam hingga dini hari, agar tidak terlibat tawuran maupun perbuatan yang membahayakan diri sendiri dan orang lain,” kata Kombes Pol Budi.
Polda Metro Jaya mengimbau masyarakat segera melapor apabila mengetahui adanya potensi tawuran atau gangguan keamanan melalui kantor kepolisian terdekat maupun layanan Call Center Polri 110.
JAKARTA, Redaksi.co — Riuh musik, lautan penonton, dan gemerlap festival menjadi panggung tak biasa bagi empat anak muda yang tengah berhadapan dengan kerasnya kehidupan, Film “Operasi Pesta Copet” tidak sekadar menjadikan pencopetan sebagai sumber kelucuan, tetapi mengemasnya menjadi cerita tentang tekanan ekonomi, persahabatan, pilihan hidup, dan konsekuensi dari sebuah keputusan.
Gambaran tersebut terungkap dalam press conference film “Operasi Pesta Copet” yang berlangsung di XXI Plaza Senayan, Jakarta, Selasa (18/8/2026). Sejumlah pemain dan kru hadir membagikan cerita di balik proses penggarapan film yang memadukan genre komedi kriminal dengan sentuhan drama sosial.
Diproduksi oleh Imajinari bersama Boss Creator dan Angin Segar, film ini sekaligus menjadi debut penyutradaraan layar lebar Edy Khemod, drummer band Seringai. Film tersebut dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia pada 27 Agustus 2026.
Ketika Festival Berubah Menjadi “Medan Operasi”
Cerita berpusat pada Ijal, diperankan Iqbaal Ramadhan, seorang pemuda yang kehidupannya terguncang setelah kehilangan pekerjaan dan menghadapi tekanan finansial.
Dalam kondisi tersebut, Ijal bersama Adut (Kristo Immanuel), Tia (Zulfa Maharani), dan Melodi (Kawai Labiba) mengambil jalan berisiko dengan merancang aksi pencopetan di tengah festival musik.
Namun, sutradara Edy Khemod tidak ingin cerita berhenti pada formula kriminal-komedi semata. Situasi ekonomi dan latar belakang kehidupan para karakter menjadi bagian penting yang membuat penonton diajak memahami bagaimana sebuah keputusan buruk dapat lahir dari kondisi yang serba terdesak.
Riset Tidak Main-Main
Untuk membangun dunia cerita yang terasa realistis, proses kreatif film turut dibekali riset mengenai kriminalitas dan kriminologi. Tim juga melakukan pengamatan terhadap kehidupan masyarakat di kawasan pinggir rel.
Hasil riset tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam karakter, lingkungan, hingga dinamika kehidupan para tokohnya.
Pendekatan ini membuat “Operasi Pesta Copet” memiliki lapisan cerita yang lebih luas. Di balik aksi pencopetan, terselip pertanyaan mengenai pilihan, kesempatan hidup, dan bagaimana seseorang mengambil keputusan ketika berada di titik tertekan.
Para Pemain Ditempa Jadi “Copet”
Salah satu proses unik dalam produksi film ini adalah pelatihan khusus bagi para pemeran. Para pemain mendapat bimbingan dari seorang “Coach Copet” untuk membantu membangun gestur dan karakter yang meyakinkan di depan kamera.
Pelatihan tersebut mencakup pemahaman mengenai gerakan tangan, pengalihan perhatian, distraksi, serta aspek psikologis yang dibutuhkan untuk kebutuhan akting.
Dengan demikian, adegan dalam film tidak hanya mengandalkan permainan kamera maupun editing, tetapi juga kemampuan pemain dalam membangun gerakan dan karakter secara natural.
Iqbaal, Kristo, Zulfa hingga Vincent Rompies
Selain Iqbaal Ramadhan sebagai Ijal, Kristo Immanuel sebagai Adut, Zulfa Maharani sebagai Tia, dan Kawai Labiba sebagai Melodi, film ini turut menampilkan Fauzan Lubis alias Ojan Sisitipsi sebagai Silet,Turut hadir Dewa Dayana serta penampilan spesial Vincent Rompies.
Bagi Fauzan Lubis, peran Silet menjadi langkah penting karena menandai debutnya di layar lebar. Menariknya, proses casting untuk mendapatkan peran tersebut dilakukan secara daring melalui Zoom.
Edy Khemod Debut, Ernest Prakasa di Kursi Produser
Di balik layar, Edy Khemod dipercaya sebagai sutradara dalam debut film panjangnya.
Sementara kursi produser ditempati Ernest Prakasa, Dipa Andika, James Erlangga, dan Iqbaal Ramadhan. Adapun posisi produser eksekutif diisi Ernest Prakasa, Dipa Andika, dan Rizki Aulia alias Kiki Ucup.
Keterlibatan sejumlah nama dari dunia film dan musik membuat “Operasi Pesta Copet” memiliki identitas yang kuat, terutama dalam membangun atmosfer festival musik sebagai bagian penting dari cerita.
Puluhan Ribu Penonton Jadi Latar Nyata
Untuk mendapatkan suasana festival yang autentik, produksi film dilakukan di tengah atmosfer festival musik dengan kerumunan sekitar 30 ribu penonton, Ratusan figuran juga dilibatkan untuk memperkuat gambaran suasana festival.
Berbagai detail dunia musik independen turut masuk ke dalam visual film, termasuk merchandise sejumlah band yang membantu menciptakan nuansa festival secara lebih natural.
Pada akhirnya, “Operasi Pesta Copet” mencoba menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar cerita tentang pencopet, Film ini membawa penonton melihat sisi manusia di balik tindakan kriminal sekaligus konsekuensi dari pilihan yang diambil para tokohnya.
Mulai 27 Agustus 2026, kisah Ijal dan kawan-kawan akan memasuki bioskop Indonesia. Di tengah gemuruh musik dan ribuan manusia, sebuah pertanyaan sederhana pun dilemparkan film ini: ketika hidup semakin terdesak, seberapa jauh seseorang berani melangkah untuk bertahan?
JAKARTA, Redaksi.co — Sebuah paket yang seharusnya membawa kegembiraan justru berubah menjadi awal petaka,Premis itulah yang diusung “Paket Santet”, film horor-thriller terbaru produksi BASE Entertainment yang resmi memperkenalkan poster dan trailer dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (18/8/2026).
Film yang dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia pada 27 Agustus 2026 ini menawarkan teror yang berangkat dari sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat: menerima paket kiriman.
Di bawah arahan Dinna Jasanti sebagai sutradara sekaligus penulis cerita, “Paket Santet” tidak sekadar mengandalkan penampakan atau ritual mistis. Film ini mencoba membangun ketegangan melalui misteri sebuah paket tanpa identitas pengirim yang menyeret sekelompok anak muda ke dalam rangkaian kejadian mengerikan.
Cerita berpusat pada Deva, Bela, Ale, Celia, Firza, Kiki, dan Glen, yang kehidupannya berubah setelah berhadapan dengan paket misterius tersebut,Dari sinilah persahabatan mereka diuji sekaligus membuka lapisan teror yang semakin sulit dihentikan.
Menariknya, Dinna memasukkan unsur lebah sebagai salah satu elemen penting dalam konstruksi teror,Pemilihan medium tersebut memperlihatkan upaya film untuk menghadirkan bentuk gangguan supranatural yang tidak melulu menggunakan formula horor konvensional.
Bukan Sekadar Film Santet
Kekuatan utama “Paket Santet” justru terletak pada kedekatannya dengan kebiasaan masyarakat masa kini,Aktivitas memesan barang secara daring dan menunggu paket tiba merupakan rutinitas yang nyaris tidak asing bagi siapa pun.
Namun, film ini kemudian membalik rasa penasaran tersebut menjadi sumber ketakutan, Pertanyaan sederhananya pun berubah menjadi mengusik: bagaimana jika paket yang datang ke depan pintu bukan barang yang kita pesan, melainkan awal dari sebuah kutukan?
Dari sisi produksi, film ini digarap oleh BASE Entertainment dengan produser Shanty Harmayn, Tanya Yuson, dan Aoura Lovenson,Sementara jajaran Executive Producer terdiri dari Winston Utomo, William Putra Utomo, dan Fajar Nugros.
Bintangi Deretan Aktor Muda
“Paket Santet” menghadirkan Fadly Faisal, Yasamin Jasem, Fatih Unru, Azela Putri, Gabriella Ekaputri, Farandika, Fiki Naki, Adam Farrel, dan Vonny Anggraini.
Fadly Faisal memerankan Ale, Yasamin Jasem sebagai Bela, Fatih Unru sebagai Deva, Azela Putri sebagai Kiki, Gabriella Ekaputri sebagai Celia, Farandika sebagai Glen, sedangkan Fiki Naki dipercaya memerankan Firza.
Khusus Fiki Naki, film ini menjadi salah satu langkah penting karena menandai debutnya di layar lebar.
Dengan perpaduan misteri, persahabatan, kehidupan anak muda, dan teror supranatural, “Paket Santet” mencoba menawarkan warna berbeda di tengah maraknya film horor nasional.
Kini, setelah poster dan trailer diperkenalkan kepada publik, pertarungan sesungguhnya tinggal menunggu waktu, Mulai 27 Agustus 2026, penonton akan diajak membuka misteri sebuah paket yang mungkin sebaiknya tidak pernah dibuka.
Redaksi.co MAMUJU : Di hari Menjelang Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Front Marhaenis Sulawesi Barat menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Sulawesi Barat. Aliansi yang terdiri dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI), dan Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) itu datang membawa kritik keras terhadap sejumlah kebijakan yang dinilai menyentuh langsung kepentingan rakyat dan masyarakat adat.
Aksi tersebut berubah menjadi panggung perlawanan ketika massa menyatakan siap “mengangkat bendera perang” terhadap berbagai bentuk ketidakadilan yang mereka nilai masih terjadi di Sulawesi Barat.
Namun, istilah tersebut ditegaskan sebagai simbol perjuangan politik dan gerakan rakyat melalui jalur konstitusional, bukan seruan untuk melakukan kekerasan.
Ada tiga tuntutan utama yang dibawa Front Marhaenis Sulawesi Barat: menolak masuknya tambang Logam Tanah Jarang (LTJ), mendorong segera disahkannya Undang-Undang Masyarakat Adat, serta mendesak reformasi regulasi agar kebijakan pemerintah benar-benar berpihak kepada kepentingan rakyat.
Rencana masuknya industri pertambangan Logam Tanah Jarang menjadi salah satu sorotan paling tajam dalam aksi tersebut.
Front Marhaenis menilai setiap rencana eksploitasi sumber daya alam harus dikaji secara terbuka, menyeluruh, dan melibatkan masyarakat sejak awal. Akademisi, organisasi masyarakat sipil, serta kelompok yang berpotensi terdampak juga dinilai harus mendapatkan ruang dalam proses pengambilan keputusan.
Menurut aliansi, pembangunan tidak boleh berhenti pada angka investasi dan pertumbuhan ekonomi. Keselamatan lingkungan, keberlanjutan ruang hidup, serta hak masyarakat harus menjadi bagian utama dalam setiap kebijakan.
“Jangan sampai atas nama investasi, rakyat justru menjadi korban. Tanah dan ruang hidup masyarakat tidak boleh diperlakukan sekadar sebagai komoditas,” menjadi garis besar sikap yang disuarakan massa.
Tuntutan kedua menyasar persoalan perlindungan masyarakat adat.
Front Marhaenis menilai kepastian hukum bagi masyarakat adat sudah menjadi kebutuhan mendesak, terutama di tengah berbagai persoalan agraria, penguasaan wilayah adat, dan ancaman terhadap ruang hidup masyarakat.
Bagi aliansi, kemerdekaan tidak akan memiliki makna penuh jika masih ada masyarakat yang menghadapi ketidakpastian atas tanah, wilayah adat, dan masa depan ruang hidupnya.
Ketegangan politik dalam aksi semakin terasa setelah massa menyayangkan tidak adanya pejabat atau petinggi Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat yang datang menemui dan berdialog langsung dengan mereka.
Ketidakhadiran pejabat tersebut dinilai sebagai cermin masih minimnya ruang dialog antara pemerintah dan rakyat yang menyampaikan aspirasi secara terbuka.
Dari titik itulah istilah “bendera perang” dikibarkan sebagai simbol bahwa Front Marhaenis tidak akan menghentikan gerakannya.
Aliansi menegaskan, “perang” yang dimaksud bukanlah perang fisik, melainkan perjuangan melalui konsolidasi rakyat, advokasi, pengawalan kebijakan, kritik publik, dan aksi-aksi konstitusional.
“Kami siap memasang badan bersama rakyat. Ketika kepentingan rakyat dan kaum Marhaen berhadapan dengan kebijakan yang tidak adil, maka kami tidak akan tinggal diam. Kami akan terus berdiri bersama rakyat dan mengawal setiap kebijakan yang menyangkut ruang hidup, tanah, lingkungan, serta masa depan masyarakat Sulawesi Barat,” tegas Aliansi Front Marhaenis Sulawesi Barat.
Bagi Front Marhaenis, peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tidak boleh berhenti pada upacara dan seremoni.
Kemerdekaan, menurut mereka, harus diterjemahkan menjadi keberanian negara dalam memberikan keadilan, perlindungan hukum, serta ruang bagi rakyat untuk menentukan masa depan wilayah dan kehidupannya.
Aliansi pun memastikan konsolidasi bersama berbagai elemen masyarakat akan terus dilakukan. Tiga tuntutan yang mereka bawa disebut tidak akan berhenti di depan pagar Kantor Gubernur.
“Kemerdekaan harus dirasakan sampai ke rakyat. Jika masih ada rakyat yang kehilangan ruang hidup, masyarakat adat yang belum mendapatkan kepastian hukum, serta kebijakan yang berpotensi mengorbankan kepentingan rakyat, maka perjuangan belum selesai.”
Pesan Front Marhaenis Sulawesi Barat kini terang: mereka memilih berdiri di jalan gerakan rakyat dan menyatakan siap mengawal kebijakan pemerintah dengan tekanan publik yang konstitusional. (ZUL)
Tim PJU Dishub Lobar Patroli Malam, Perbaiki 20 Titik Lampu Jalan Padam
LOMBOK BARAT — Redaksi.co Tim PJU Dinas Perhubungan (Dishub) Lombok Barat tetap bekerja hingga malam hari untuk memastikan lampu penerangan jalan umum (PJU) yang mengalami gangguan dapat segera diperbaiki.
Seperti terlihat Selasa malam, Tim PJU Dishub Lobar melakukan pengecekan sekaligus perbaikan sejumlah lampu penerangan jalan di sepanjang Jalan Ahmad Yani, Gerung, termasuk di kawasan depan Showroom Haikal Kinan Cahaya Motor.
Pengecekan juga dilakukan di sejumlah titik di kawasan jalan bypass. Dari hasil pemeriksaan, sedikitnya 20 titik lampu PJU ditemukan mengalami gangguan dan padam.
Kerusakan yang ditemukan cukup beragam. Ada lampu yang mengalami kerusakan pada bagian bohlam atau balon lampu, sementara beberapa titik lainnya mengalami gangguan pada aliran listrik, termasuk korsleting.
Berawal dari Kepedulian Seorang Anggota Tim PJU
Menurut keterangan salah seorang ABK atau anggota Tim PJU Dishub Lobar, aktivitas perbaikan pada malam hari tersebut juga berawal dari kepeduliannya terhadap kondisi penerangan jalan.
Saat hendak menjemput istrinya di Mataram, anggota Tim PJU tersebut melihat adanya lampu jalan yang padam di sekitar wilayah Rumak. Karena mengetahui kondisi tersebut merupakan bagian dari tugasnya, ia kemudian berinisiatif berhenti untuk melakukan pengecekan dan memperbaiki lampu yang mengalami gangguan.
Namun, ketika sedang melakukan pekerjaan, datang segerombolan orang yang justru mencurigai keberadaannya. Bahkan, anggota Tim PJU tersebut sempat dituduh melakukan pencurian kabel.
Padahal, yang bersangkutan sedang melakukan pengecekan dan perbaikan fasilitas penerangan jalan.
Kejadian tersebut menjadi salah satu alasan bagi Tim PJU Dishub Lobar untuk meningkatkan patroli malam di sejumlah titik. Selain memastikan lampu PJU tetap berfungsi, patroli juga diharapkan dapat meminimalkan kesalahpahaman antara petugas dengan masyarakat saat kegiatan perbaikan dilakukan pada malam hari.
Bekerja Saat Jalan Mulai Sepi
Perbaikan PJU pada malam hari bukan pekerjaan ringan. Ketika sebagian masyarakat mulai beristirahat, Tim PJU justru harus turun ke jalan untuk mencari titik lampu yang padam dan memastikan penyebab gangguannya.
Petugas harus memeriksa satu per satu kondisi lampu, mulai dari bohlam, instalasi hingga aliran listrik yang menjadi sumber penerangan.
Keberadaan lampu PJU sangat penting bagi keselamatan pengguna jalan. Ruas jalan yang terang dapat membantu pengendara melihat kondisi jalan dengan lebih jelas, terutama pada malam hari.
Tim PJU Dishub Lobar diharapkan terus melakukan pemantauan secara berkala terhadap seluruh jaringan penerangan jalan. Dengan demikian, setiap lampu yang mengalami kerusakan maupun padam dapat segera ditangani.
Di sisi lain, masyarakat juga diharapkan dapat memahami ketika melihat petugas bekerja pada malam hari. Jika menemukan aktivitas yang mencurigakan, masyarakat dapat melakukan konfirmasi terlebih dahulu kepada pihak terkait agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Semangat Tim PJU Dishub Lobar untuk tetap bekerja di malam hari menjadi bagian dari upaya menjaga penerangan dan kenyamanan masyarakat pengguna jalan di wilayah Lombok Barat.
BANDA ACEH — Capaian gemilang LPP TVRI Aceh yang meraih nilai Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) sebesar 91,75 dengan predikat SANGAT BAIK (A) pada Semester I 2026 mendapat apresiasi hangat dari berbagai pihak, salah satunya dari Dewan Pimpinan Daerah (DPD) LIRA ( Lumbung Informasi Rakyat ) Kota Banda Aceh.
Wali Kota LIRA Banda Aceh, Muhammad Ichsan Nizali, SE, CPLA, secara khusus menyampaikan rasa bangga dan apresiasi setinggi-tingginya atas prestasi membanggakan yang diraih oleh lembaga penyiaran publik kebanggaan masyarakat Aceh tersebut. Menurutnya, skor tinggi pada 9 jenis layanan yang dikelola TVRI Aceh menjadi bukti nyata atas komitmen, kerja keras, serta transparansi yang konsisten ditunjukkan oleh seluruh jajaran manajemen dan kru.
“Selamat dan sukses untuk seluruh jajaran TVRI Aceh atas capaian IKM 91,75 dengan predikat Sangat Baik ini. Hasil ini bukan sekadar angka, melainkan wujud pengakuan dan kepercayaan riil dari masyarakat atas kualitas pelayanan publik yang transparan, responsif, serta semakin mudah diakses oleh warga,” ujar Muhammad Ichsan Nizali.
Ia menambahkan, keberhasilan ini diharapkan dapat terus membakar semangat seluruh tim TVRI Aceh untuk mempertahankan standar pelayanan prima, melahirkan inovasi siaran yang edukatif, dan terus menjadi media pemersatu yang menyuarakan aspirasi masyarakat di Bumi Serambi Mekkah. (*)
Lembaga Penyiaran Publik (LPP) TVRI Aceh baru saja mengukir prestasi membanggakan pada paruh pertama tahun 2026. Berdasarkan rilis resmi Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) periode Januari–Juni 2026, stasiun penyiaran kebanggaan masyarakat Tanah Rencong ini berhasil meraih skor fantastis 91,75 dan resmi menyabet predikat SANGAT BAIK (A).
Pencapaian cemerlang ini mencakup 9 jenis layanan publik yang dikelola oleh TVRI Aceh. Skor tinggi tersebut menjadi bukti nyata bahwa komitmen dan kerja keras seluruh jajaran TVRI Aceh terbayar tuntas dengan kepercayaan serta kepuasan yang tinggi dari masyarakat.
Selamat dan apresiasi setinggi-tingginya ditujukan kepada seluruh jajaran manajemen, tim produksi, teknisi, hingga staf pelayanan garis depan TVRI Aceh. Angka 91,75 ini bukan sekadar pencapaian di atas kertas, melainkan wujud pengakuan publik atas pelayanan yang kian transparan, responsif, mudah diakses, dan berorientasi pada kebutuhan pemirsa.
Di tengah pesatnya dinamika industri media, TVRI Aceh membuktikan kualitasnya sebagai lembaga penyiaran publik yang relevan dan adaptif. Capaian manis di awal tahun 2026 ini diharapkan dapat terus membakar semangat seluruh tim TVRI Aceh untuk mempertahankan standar pelayanan prima, memacu inovasi, dan terus menyajikan tayangan serta layanan terbaik bagi masyarakat.