Top 5 This Week

Related Posts

MAMASA DARURAT KEMANUSIAAN: Negara Absen, Anak Disabilitas Membusuk dalam Kemiskinan!

Redaksi.co MAMASA : Di saat para elit sibuk bersolek di atas mimbar dan merangkai kata-kata manis tentang kesejahteraan, sebuah tragedi kemanusiaan yang menyayat hati justru terkubur di balik rimbunnya Desa Pamoseang, Kecamatan Mambi.

Salsabila (12) dan adiknya, Abizar (7), adalah bukti nyata betapa pemerintah daerah tutup mata dan telinga. Sejak lahir hingga detik ini, kedua malaikat kecil ini tak pernah sekalipun menyentuh ranjang rumah sakit. Sebuah tamparan keras bagi jargon “pelayanan publik” yang sering didengungkan di acara-acara seremonial.

Salsabila bukan sekadar angka dalam statistik stunting. Gadis malang ini didiagnosis menderita epilepsi hebat. Namun, karena kemiskinan yang mencekik, rujukan medis dari Puskesmas Mambi hanyalah selembar kertas tak berguna.

Alih-alih mendapatkan nutrisi layak, Salsabila terpaksa mengunyah ubi rebus untuk bertahan hidup karena tubuhnya tak lagi mampu menerima nasi. Setiap hari, ia bertaruh nyawa melawan kejang yang bisa datang kapan saja, sementara sang adik, Abizar, harus berjuang sendirian dengan kondisi down syndrome tanpa sentuhan medis profesional.

Murniati, sang ibu, hanya seorang petani nilam dengan penghasilan yang jauh dari kata cukup. Butuh 6 bulan keringat untuk menghasilkan satu kilogram nilam, yang harganya tak akan pernah mampu membayar biaya rujukan ke Polewali Mandar.

Pada Minggu, 19 April 2026, Lembaga Cinta Kasih Makassar (LCKM) mendobrak keheningan itu. Mereka turun langsung ke Dusun Rindingbassi untuk membuktikan bahwa kemanusiaan belum mati, meski birokrasi sudah lumpuh.

“Pemerintah Kabupaten Mamasa boleh absen, tapi tekad kami tidak akan padam!” tegas Rahmatullahteng S.H dari Pemuda Pamoseang Institute dengan nada bergetar. “Hak dasar warga negara ini seringkali tertutup kabut acara seremonial pemerintah yang hanya membuang-buang anggaran!”

Relawan LCKM, Soffiyyah, menyaksikan sendiri betapa mengerikannya “lubang hitam” kesehatan di pedesaan Mamasa. Sebagai langkah darurat, donasi telah disalurkan, namun itu hanya perban kecil untuk luka yang sudah menganga.

Ketua LCKM, Silvia Veronica, kini mengibarkan bendera perang melawan ketidakadilan ini dengan menggalang dukungan luas agar Salsabila dan Abizar bisa segera dievakuasi ke rumah sakit.

Mamasa sedang tidak baik-baik saja. Di balik mewahnya narasi pejabat, ada jeritan anak bangsa yang sekarat karena negara gagal hadir. Siapa lagi yang harus jadi korban sebelum para pemegang kuasa turun dari singgasana nyamannya? (ZUL)

Popular Articles