redaksi.co, Jakarta | Sekitar 250 warga yang tergabung dalam Komisi Pemberantasan Korupsi Nahdlatul Ulama (KPK NU) menggelar aksi unjuk rasa dan Istighotsah Kubro di depan Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (23/10/2026). Mereka mendesak pengusutan dugaan politik uang atau risywah dalam Muktamar NU ke-35 di Tambakberas, Jombang.
Aksi yang dipimpin Muhamad Sholihin itu juga menjadi bentuk dukungan terhadap pemberantasan korupsi dan upaya menjaga marwah Nahdlatul Ulama (NU). Massa meminta KPK menindaklanjuti dugaan aliran dana korupsi yang disebut berkaitan dengan proses pemilihan kepemimpinan organisasi.
Dalam siaran persnya, KPK NU menyerukan, “Berani Menjaga Kebenaran, Berani Menjaga dan Mengawal Martabat NU.”
KPK NU meminta KPK mengusut dugaan keterlibatan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, serta Juri Ardiantoro dalam praktik yang mereka tuduhkan. Mereka juga mendesak pembatalan keputusan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) yang menetapkan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam terpilih.
Selain itu, KPK NU meminta rapat ulang AHWA digelar secara transparan dan berintegritas di Rumah Pusaka Mbah Wahab Chasbullah, Tambakberas, Jombang. Mereka mengusulkan penggantian anggota AHWA yang dituduh menerima politik uang.
Tuduhan tersebut belum dapat dianggap sebagai fakta hukum. Konfirmasi dari pihak-pihak yang disebutkan dan hasil pemeriksaan aparat penegak hukum diperlukan untuk memastikan kebenarannya.



