Top 5 This Week

Related Posts

Bola Panas di Polresta Mamuju: Menanti Taji Polisi Bongkar Dalang Penganiayaan Kader PMII

Redaksi.co MAMUJU : Gerakan mahasiswa di Sulawesi Barat kian memanas. Insiden kekerasan brutal menimpa dua kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Sekretariat Perjuangan Mahasiswa Vendetta, Jalan Dahlia, Kelurahan Rimuku, Kecamatan Mamuju, pada Kamis (28/5/2026) malam.

Dua korban yang diidentifikasi Ikhwan Rozi (23) dan Fergiawan Reizaski (23) kini telah resmi melayangkan laporan ke Polresta Mamuju. Namun, kasus ini tidak lagi sekadar kriminalitas biasa. Aroma konspirasi tingkat tinggi mulai tercium setelah Ketua PC PMII Mamasa, Yasir, angkat bicara dengan nada tinggi.

Yasir mengutuk keras aksi premanisme yang dinilainya sangat kejam dan terstruktur tersebut. Ia mengendus adanya motif terselubung di balik penganiayaan ini, yang diduga erat kaitannya dengan upaya pembungkaman suara kritis mahasiswa.

Ini adalah bentuk kejahatan yang sangat kejam! Apalagi yang menjadi korban adalah kader kami. Kami meminta Aparat Penegak Hukum (APH) mengusut tuntas kasus ini sampai ke akar-akarnya. Jangan sampai ada oknum dalang yang bersembunyi di balik layar,” tegas Yasir dengan nada geram.

Ia menambahkan bahwa tren kekerasan terhadap aktivis hari ini sudah masuk dalam tahap yang mengkhawatirkan. “Hari ini, kita melihat banyaknya tindakan pembungkaman aktivis melalui jalur kekerasan. Ini tidak bisa dibiarkan!”

Daya ledak kasus ini semakin membesar setelah muncul rumor keterlibatan oknum Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam aksi pengeroyokan tersebut. Jika terbukti, hal ini dinilai sebagai tamparan keras bagi sistem birokrasi dan rekrutmen instansi terkait.

Yasir mempertanyakan moralitas oknum yang seharusnya menjaga ketertiban, namun justru diduga menjadi pelaku kekerasan.

Kemunduran Moral: Institusi yang melalui proses rekrutmen resmi justru melahirkan oknum yang bertindak ala preman.

Gagal Rekrutmen: PMII menilai insiden ini adalah bukti nyata lemahnya sistem penyaringan dan pembinaan mental dalam rekrutmen SPPG.

Pertanyaan besar hadir: kenapa ada oknum SPPG di sana? Ini menandakan lemahnya hasil rekrutmen mereka! Kami PMII Mamasa mengutuk keras tindakan kekerasan ini dan menuntut keadilan yang terbuka transparan,” pungkas Yasir.

Kini, bola panas berada di tangan Polresta Mamuju. Publik dan basis massa PMII kini menunggu apakah hukum akan bertindak tegas tanpa pandang bulu, atau kasus ini akan menguap begitu saja di tengah isu pembungkaman aktivis yang kian meresahkan. (ZUL)

Popular Articles