Gunungkidul | redaksi.co.id – Kesadaran menjaga lingkungan tidak selalu dimulai dari langkah besar. Terkadang, perubahan berawal dari cara pandang terhadap hal-hal sederhana yang selama ini dianggap biasa, termasuk air hujan. Semangat inilah yang dibangun dalam Workshop Manajemen Pengelolaan dan Pemanfaatan Air Hujan yang diselenggarakan Komunitas Banyu Bening bersama Bingkai Indonesia dengan dukungan Yayasan KEHATI di Balai Padukuhan Kasihan, Kalurahan Balong, Kapanewon Girisubo, Jumat (12/6/2026).
Kegiatan yang diikuti sekitar 60 peserta dari unsur pemerintah kapanewon, pemerintah kalurahan, TNI-Polri, tokoh masyarakat, dan warga setempat ini menjadi ruang belajar bersama tentang pentingnya menjaga sumber daya air sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan.

Mewakili Panewu Girisubo, Tri Murjoko dari Jawatan Kemakmuran Kapanewon Girisubo menyampaikan bahwa air merupakan fondasi utama kehidupan. Tidak hanya berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat, keberadaan air juga menentukan keberlangsungan sektor pertanian, ekonomi, hingga kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan.
Menurutnya, masyarakat Gunungkidul memiliki keistimewaan karena sejak lama hidup berdampingan dengan budaya menampung dan memanfaatkan air hujan. Kearifan tersebut perlu terus dirawat agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman dan kemudahan akses berbagai sumber air modern.

“Air hujan adalah anugerah yang selama ini telah membantu masyarakat bertahan. Karena itu, kemampuan mengelolanya dengan baik harus terus diwariskan agar menjadi budaya yang hidup di tengah masyarakat,” tuturnya.
Senada dengan hal tersebut, Pemerintah Kalurahan Balong menyampaikan harapan agar kegiatan edukasi seperti ini tidak berhenti pada penyampaian teori semata, tetapi mampu melahirkan praktik nyata yang dapat diterapkan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Materi workshop disampaikan oleh Sri Wahyuningsih, Ketua Komunitas Banyu Bening, yang selama ini aktif mengedukasi masyarakat tentang pemanenan dan pemanfaatan air hujan di berbagai daerah. Dalam pemaparannya, ia mengajak peserta melihat air hujan sebagai aset kehidupan yang memiliki nilai besar bagi keberlanjutan lingkungan.

Peserta diperkenalkan dengan teknologi ISLAH (Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan), sebuah sistem sederhana yang dirancang untuk membantu masyarakat menampung dan mengelola air hujan agar dapat dimanfaatkan secara optimal.
Tidak hanya menjelaskan aspek teknis, Sri Wahyuningsih juga menekankan pentingnya membangun kesadaran bahwa perubahan iklim yang saat ini terjadi menuntut masyarakat untuk lebih adaptif dalam mengelola sumber daya alam, terutama air.
“Ketahanan air tidak hanya dibangun oleh teknologi, tetapi juga oleh kesadaran masyarakat untuk menghargai setiap tetes air yang diberikan alam,” jelasnya.
Penyampaian materi yang sederhana, komunikatif, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari membuat peserta mudah memahami berbagai konsep yang dijelaskan.
Suasana diskusi berlangsung hangat dengan banyak pertanyaan mengenai penerapan teknologi penampungan air hujan, perawatan instalasi, serta manfaatnya bagi kebutuhan rumah tangga dan pertanian.
Workshop ini menjadi bukti bahwa edukasi lingkungan dapat dilakukan dengan pendekatan yang membumi dan mudah dipahami masyarakat.
Melalui pengetahuan yang diberikan, peserta diharapkan mampu menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing dengan mulai menerapkan kebiasaan menampung, mengelola, dan memanfaatkan air hujan secara bijak.
Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim yang dampaknya semakin dirasakan saat ini.
Ketika masyarakat mampu mengelola air secara mandiri, mereka tidak hanya menjaga kebutuhan hidup hari ini, tetapi juga menyiapkan masa depan yang lebih baik bagi generasi berikutnya.
Sebab pada akhirnya, menjaga air bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan manusia, melainkan juga tentang menjaga keseimbangan kehidupan yang menjadi tanggung jawab bersama.
Kontributor: SAH_Banyu Bening

