Redaksi.co MAMASA : Dugaan skandal ‘kongkalikong‘ penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite dan Solar di SPBU 76.913.05 Takurimbik, Kecamatan Mambi, Kabupaten Mamasa, kian memanas. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Mamasa tampil menelanjangi praktik monopoli pengisian jerigen jumbo yang dinilai brutal merampas hak warga dan mencekik akses BBM masyarakat.
Pemandangan antrean panjang pengendara umum yang kalah telak oleh serbuan jerigen borongan dianggap sudah membakar batas kesabaran publik. Fungsionaris HMI Cabang Mamasa, Adi Putra, membongkar dugaan busuk di balik krisis ini, BBM bersubsidi yang harusnya masuk ke tangki kendaraan warga, diduga disedot masuk jerigen untuk ditimbun dan dijual kembali dengan harga melambung tinggi demi meraup untung gila-gilaan.
“Tekanan terhadap pengelola SPBU Takurimbik agar memprioritaskan kendaraan masyarakat harian sudah sangat mendesak demi menjamin keadilan akses bagi publik!” tampar Adi Putra dengan nada menyengat.

Melihat kondisi Mambi yang terperosok ke titik nadir, HMI Cabang Mamasa melemparkan tiga gertakan maut yang menohok pengelola SPBU dan aparat otoritas:
- Bongkar Keistimewaan: Sapu bersih jatah khusus dan karpet merah untuk oknum-oknum tertentu!
- Ganyang Main Belakang: Hentikan total penyimpangan, kongkalikong, dan ‘permainan gelap’ distribusi Pertalite serta Solar.
- Status Darurat BBM: Pemda Mamasa dan Polisi wajib turun tangan saat ini juga untuk menghentikan krisis buatan mafia ini.
HMI memberi peringatan ultimatum, pengelola SPBU 76.913.05 Takurimbik jangan sekali-kali menumbalkan hajat hidup rakyat demi menggemukkan kantong segelintir mafia borongan. Jika gertakan ini diabaikan, gelombang perlawanan jalanan dipastikan siap mengepung dan memanaskan situasi. (ZUL)

