Oleh : Gobang Pendiri Ikatan Bankir Pancasila/Aktivis 98/Aktivis Barikade 98
REDAKSI.CO || Kita hari ini hidup dalam estetika panggung sandiwara yang sangat rapi. Krisis modern tidak lagi datang seperti hantaman godam—bukan lewat tank yang merayap di jalan protokol atau pengumuman jam malam pascakudeta. Ia datang dengan sangat sopan, merayap pelan seperti rayap di tiang fondasi rumah kayu. Ia hadir lewat pelemahan konstitusi yang dibungkus bahasa hukum yang rumit, normalisasi konflik kepentingan yang dianggap “lumrah bisnis”, dan penurunan kepercayaan publik yang dikubur di bawah tumpukan infografis keberhasilan pemerintah.
Secara ekonomi dan politik, kita sedang menyaksikan fenomena “menenun asap”. Kekuasaan hari ini lebih sibuk mempertahankan citra dan mengelola persepsi daripada menyelesaikan realitas sosial-ekonomi yang makin mencekik di akar rumput.
Estetika Kepalsuan: Ketika Citra Menggantikan Realitas
Dalam kacamata seni, apa yang dilakukan para pembuat kebijakan kita saat ini adalah sejenis seni instalasi yang manipulatif. Jean Baudrillard, seorang pemikir filsafat kontemporer, pernah mengenalkan istilah simulakra—sebuah kondisi di mana salinan atau citra visual telah menggantikan realitas aslinya.
Politik kita hari ini adalah simulakra itu. Kita melihat senyum ramah di media sosial, peresmian proyek dengan pita megah, dan angka-angka statistik yang dimanipulasi agar terlihat seksi. Namun, ketika kita menengok ke dapur masyarakat, realitas ekonomi berbicara sebaliknya: daya beli rontok, lapangan kerja formal menyusut, dan biaya hidup meroket.
Negara mengalami disfungsi organ yang akut. Institusi-institusi yang seharusnya menjadi pilar penyangga dan pengawas, kini kehilangan fungsi orisinalnya. Mereka berubah menjadi stempel legalitas bagi kepentingan segelintir elite. Ketika institusi kehilangan fungsinya, kompas moral negara otomatis patah. Negara berjalan tanpa arah, komat-kamit merapalkan mantra pertumbuhan ekonomi yang insentifnya hanya dinikmati oleh lingkaran dalam kekuasaan.
Konsolidasi di Titik Temu Krisis
Secara ekonomi-politik, matematika kekuasaan selalu punya batas jenuh. Ketika kepercayaan publik menguap habis, legitimasi moral sebuah rezim akan runtuh. Ketiadaan legitimasi ini membuat kekuasaan tidak lagi dijalankan berdasarkan kepatuhan sukarela warga negara, melainkan murni dipertahankan dengan paksaan, hukum yang tebang pilih, dan pragmatisme transaksional.
Di sinilah titik temunya. Kita tidak sedang menghadapi krisis politik atau krisis ekonomi secara terpisah. Keduanya telah kawin mawin melahirkan badai sempurna (the perfect storm).
Melihat situasi kritis ini, kawan-kawan pergerakan dan lintas elemen di akar rumput mulai sadar. Perbedaan ideologi kosmetik, ego kelompok, dan sekat-sekat sektarian mulai dikesampingkan. Konsolidasi besar sedang ditenun kembali. Ada kesadaran kolektif bahwa tugas sejarah yang ada di depan mata jauh lebih besar daripada sekadar urusan eksistensi kelompok kecil.
Akhir dari Keheningan
Sejarah selalu mengajarkan satu hal secara berulang dan rigid: perut yang lapar dan hukum yang tidak adil adalah bahan bakar terbaik bagi perubahan sosial.
Ketika ruang dialog disumbat oleh keangkuhan kekuasaan yang sibuk berdandan di depan cermin, jangan kaget jika keheningan publik tiba-tiba pecah. Saat kepercayaan benar-benar berada di titik nol, kekuasaan yang ringkih itu tidak akan mampu lagi menahan bendungan amarah. Pada titik pertemuan krisis politik dan ekonomi inilah, suara-suara keras dari pinggiran akan mulai menggelora. Suara yang tidak lagi meminta, tetapi menuntut untuk melenyapkan segala kekacauan yang dipelihara di pusat kekuasaan.
Sebelum semuanya terlambat, mari berhenti menjual cermin dan mulailah melihat realitas.***
EDITOR : YOSEP M

