Aspal panas Bundaran Arteri menjadi saksi bisu gelombang aksi yang elegan. Sabtu, 2 Mei 2026, Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Sulawesi Barat (Sulbar) resmi “menguasai” jalanan dalam sebuah aksi massa yang memikat sekaligus menampar wajah pemangku kebijakan.
Bukan sekadar seremonial memperingati Hari Buruh dan Hari Pendidikan Nasional, aksi ini menjelma menjadi panggung agitasi terhadap deretan rapor merah pemerintah.
Massa aksi tidak datang dengan tangan hampa. Mereka membawa “naskah tuntutan” yang menyentuh urat nadi kehidupan masyarakat, mulai dari isu lokal hingga sengkarut nasional:
* Pendidikan yang Sekarat: Menuntut pemerataan akses pendidikan yang selama ini dianggap hanya milik kaum elit.
* Nasib Driver Ojol: Mendesak regulasi upah yang manusiawi bagi pahlawan jalanan.
* Makan Bergizi Gratis (MBG): Mengkritisi implementasi kebijakan agar tidak sekadar menjadi komoditas politik.
UU Perampasan Aset & Pelanggaran HAM: Menagih ketegasan negara terhadap koruptor dan penuntasan dosa masa lalu yang tak kunjung usai.
“Ini adalah bukti bahwa nalar kritis pemuda di Sulbar belum mati. Kami mencium aroma kebijakan yang tidak pro-rakyat, dan kami di sini untuk menghentikannya!” Suara dari barisan massa.
Salah satu aktivis yang hadir, Fergiawan Rai Zacky, memberikan apresiasi tinggi atas soliditas massa. Dengan nada bicara yang tegas, ia menekankan bahwa aksi ini adalah pesan cinta sekaligus peringatan keras bagi pemerintah.
“Saya sangat bangga melihat mahasiswa dan pemuda hari ini masih memiliki ‘darah‘ untuk peduli pada rakyat kecil di tengah gempuran kebijakan yang mencekik,” ujar Fergiawan di tengah riuhnya kepulan semangat massa.
Ia menambahkan bahwa momentum ini harus menjadi bahan bakar bagi generasi mendatang.”Aksi seperti ini adalah alarm. Regenerasi ke depan harus lebih peka, lebih tajam, dan lebih berani menguliti kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada masyarakat.”
Aksi yang berlangsung tertib namun penuh tekanan ini mengirimkan sinyal kuat ke kantor-kantor pemerintahan di Sulbar: Bahwa selama ketimpangan masih nyata, jalanan akan tetap menjadi rumah bagi para pejuang keadilan. Hari ini, Arteri tidak hanya menjadi jalur transportasi, tapi menjadi altar suci perjuangan pemuda Sulbar yang menolak tunduk pada ketidakadilan. (ZUL)

