Redaksi.co MAMASA : Alih-alih membawa solusi nyata bagi kerongkongan warga yang kering, seorang Kepala Bidang (Kabid) di Kesbangpol Mamasa justru menyuguhkan “drama” yang memuakkan. Janji manis yang diumbar di depan warga Dusun Pepana beberapa minggu lalu kini berujung pada sikap defensif yang dinilai anti-kritik dan kekanak-kanakan.
Publik masih ingat saat sang pejabat menyambangi Pepana dengan pengawalan elit, mulai dari Kapolsek hingga Kasat Intel Polres Mamasa. Mengenakan rompi bertuliskan “KESBANGPOL MAMASA“, ia tampak meyakinkan saat berjanji akan membawa jeritan warga terkait krisis air bersih langsung ke meja Bupati.
Namun, saat warga menagih progres, topeng wibawa itu rontok. Bukannya memberikan update kebijakan, sang Kabid justru melempar respons yang bikin geleng-geleng kepala.
“Susah kalau begitu gaya ta dinda, saya kayak orang di interogasi saja,” ketus sang Kabid saat ditanya apakah aspirasi warga sudah sampai ke telinga Bupati.
Pernyataan “baper” (bawa perasaan) dari pejabat publik ini sontak memicu kemarahan warga. Rizal Kahfi, tokoh pemuda Talippuki, mengecam keras sikap tersebut. Menurutnya, bertanya soal nasib kebutuhan dasar bukanlah intimidasi, melainkan hak konstitusional warga.
“Kami tidak sedang melakukan interogasi kriminal. Kami menagih janji yang diucapkan saat beliau memakai rompi negara! Jabatan publik itu melekat fungsi akuntabilitas, bukan ajang cari nyaman atau tempat bermanja-manja,” tegas Rizal dengan nada bicara yang tajam.
Bagi warga Pepana, krisis air ini bukan sekadar isu teknis, melainkan penderitaan yang sudah menahun. Sikap antikritik pejabat hanya memperpanjang daftar kegagalan birokrasi di Mamasa dalam mengurus hal fundamental.
Tuntutan warga sangat sederhana namun telak:
* Solusi Konkret: Berhenti berwacana dan mulai bekerja.
* Timeline Jelas: Kapan air benar-benar mengalir ke rumah warga?
* Hentikan Arogansi: Pejabat digaji untuk melayani, bukan untuk merasa tersinggung saat ditanya kerja nyatanya.
Jika bertanya soal air saja dianggap interogasi, lalu kepada siapa lagi rakyat harus mengadu? Sampai berita ini diturunkan, warga masih menunggu: Apakah Pemkab Mamasa punya nyali untuk menyelesaikan krisis ini, atau akan terus bersembunyi di balik alasan “tersinggung“? (ZUL)
