Top 5 This Week

Related Posts

Solar Subsidi Diduga “Gaib” dari SPBU Takurimbik, Warga Pertanyakan Aliran BBM ke Morowali

Redaksi.co MAMASA : Dugaan skandal penyelewengan BBM bersubsidi di SPBU 76.913.05 Takurimbik, Kecamatan Mambi, Kabupaten Mamasa, kian memanas dan meledak menjadi amarah publik secara terbuka. Bukan hanya Solar, jatah Pertalite pun mendadak “gaib” dari pengisian resmi. Pasokan energi bersubsidi yang dikucurkan lewat APBN tersebut diduga kuat sengaja disedot secara sistematis lalu dilarikan ke kawasan pertambangan raksasa di Morowali, Sulawesi Tengah, demi mengeruk marjin keuntungan haram hingga miliaran rupiah.

Aksi pembegalan hak rakyat ini diungkap langsung oleh sumber lokal yang meminta identitasnya dirahasiakan.

“Modus yang dimainkan terbilang sangat berani dan terorganisir rapi. Hanya berselang hitungan menit setelah armada tangki Pertamina selesai merapat dan membongkar muatan di SPBU, ratusan warga yang telah mengantre panjang langsung diusir halus dengan dalih stok habis. Namun di balik layar, tangki-tangki ‘siluman’ berwarna putih-biru berkapasitas 8 hingga 16 kiloliter (KL) diduga melenggang bebas mengeruk Solar subsidi, lalu melaju kencang menembus perbatasan lintas provinsi menuju area pertambangan Morowali,” ungkap warga tersebut.

Dampak dari praktik jahat ini langsung melumpuhkan urat nadi perekonomian warga lokal. Disparitas harga yang terjadi di lapangan tergolong sangat fantastis dan mencekik:

  • Harga Resmi SPBU (Subsidi): Rp6.800 per liter
  • Harga Tengkulak / Pengecer: Rp12.000 – Rp14.000 per liter

Sektor usaha kecil, seperti pemilik penggilingan padi, armada angkutan desa, hingga sopir truk material lokal, kini terancam bangkrut total. Warga dipaksa membeli BBM subsidi di tingkat pengecer dengan harga membumbung hingga dua kali lipat. Rakyat kecil terus diperas, sementara oknum spekulan dan mafia BBM melenggang bebas memanen modal haram di atas penderitaan publik.

Skandal ini makin beraroma busuk setelah terkuaknya dugaan manipulasi dokumen negara. Sekitar 20 surat rekomendasi yang diterbitkan Dinas Pertanian Kabupaten Mamasa, yang seharusnya menjadi “penyambung nyawa” operasional Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) milik petani, diduga kuat sengaja disulap menjadi tameng hukum untuk membobol kuota BBM bersubsidi di SPBU.

Minimnya pengawasan langsung dari instansi terkait menyulut prasangka tajam di tengah masyarakat, Apakah puluhan surat rekomendasi itu sungguh-sungguh dipakai petani untuk membajak sawah, atau sekadar dokumen formalitas demi memuluskan penyelundupan Solar ke korporasi tambang?

Sudah berada di puncak kejenuhan, masyarakat Mamasa secara terbuka melayangkan mosi tidak percaya dan menuntut Aparat Penegak Hukum (APH) bersama Pertamina untuk tidak “main mata” atau bermental melempem. Publik mendesak penindakan hukum tanpa kompromi melalui tiga langkah konkret:

1. Audit Total & Sita Rekaman CCTV SPBU 76.913.05: Sita seluruh log transaksi harian, manifes pembongkaran, dan rekaman kamera pengawas di SPBU Takurimbik.

2. Uji Faktual 20 Surat Rekomendasi: Terjunkan tim independen untuk memverifikasi langsung keberadaan fisik penerima surat dari Dinas Pertanian Mamasa di lapangan.

3. Cegat & Tangkap Tangki Siluman: Kepolisian dan Intelijen ditantang menghadang serta menangkap armada tangki agen nakal di jalur lintasan Mamasa–Morowali.

Rakyat Mamasa kini menagih keberanian hukum, ke mana Solar dan Pertalite subsidi mereka menguap, serta siapa aktor intelektual yang makin kenyang memakan uang rakyat? (ZUL)

Popular Articles