Top 5 This Week

Related Posts

Potret Pilu Kemanusiaan di Mamasa: Nyawa Bertaruh di Atas Tandu, Tempuh 20 KM Jalan Rusak demi Berobat

Redaksi.co MAMASA : Hak atas pelayanan kesehatan dasar seolah menjadi barang mahal dan langka bagi warga di pelosok Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Di saat daerah lain menikmati kemudahan akses medis, ratusan jiwa di tiga desa justru harus bertaruh nyawa, ditandu belasan kilometer menembus jalanan rusak parah hanya demi mendapatkan pertolongan medis.

Penderitaan pilu ini dialami oleh warga Desa Botteng, Desa Passembu, dan Desa Kondo di Kecamatan Mehalaan. Terisolasi oleh infrastruktur yang hancur, warga yang sakit parah hingga ibu hamil yang hendak melahirkan kerap tak punya pilihan selain digotong menggunakan tandu seadanya.

Kondisi memprihatinkan ini salah satunya dialami oleh Jamudin (50), warga Desa Botteng. Saat menderita sakit perut hebat, ia harus menahan rasa sakit luar biasa di atas tandu kayu sembari digotong warga melintasi rute ekstrem sepanjang hampir 20 kilometer menuju Puskesmas Mehalaan.

“Pokoknya yang permasalahan dengan kesehatan, pasti ditandu. Tidak pandang malam, hujan, atau subuh, semua ditandu,” ungkap Markus, warga Desa Botteng, dengan nada getir.

Buruknya akses jalan membuat kendaraan roda dua sekalipun tak sanggup melintas. Dalam situasi darurat medis, waktu adalah penentu antara hidup dan mati. Namun bagi masyarakat di tiga desa ini, evakuasi sering kali harus dilakukan dalam kondisi serba terbatas: di tengah kegelapan malam, gumpalan lumpur, hingga guyuran hujan deras.

Tragisnya, perjuangan ini juga harus dirasakan oleh para ibu hamil. Tidak sedikit dari mereka yang terpaksa melahirkan di tengah jalan sebelum sempat menyentuh pintu fasilitas kesehatan.

Kondisi ini makin diperparah oleh minimnya fasilitas di Puskesmas Pembantu (Pustu) setempat. Keterbatasan stok obat-obatan dan tenaga medis memaksa warga yang butuh penanganan lanjut untuk tetap melakukan perjalanan darat yang menyiksa tersebut.

Bagi masyarakat Botteng, Passembu, dan Kondo, perbaikan jalan serta peningkatan fasilitas kesehatan bukan lagi sekadar janji pembangunan fisik, melainkan urusan keselamatan nyawa manusia. Warga kini hanya bisa berharap pemerintah segera turun tangan memutus mata rantai penderitaan yang sudah berlangsung bertahun-tahun ini. (ZUL)

Popular Articles