Redaksi.co MAMUJU : Hamparan hutan mangrove yang membentang di pesisir Simboro, Pulau Karampuang hingga Tapandullu selama ini hanya dipandang sebagai benteng alami penahan abrasi dan gelombang laut. Kini, cara pandang tersebut mulai berubah. Di tengah krisis iklim global, ekosistem pesisir Mamuju justru menyimpan potensi ekonomi baru yang bernilai tinggi, karbon biru atau blue carbon.
Kabupaten Mamuju di Sulawesi Barat memiliki garis pantai terpanjang di pantai barat pulau Sulawesi. Di sepanjang wilayah pesisir itu terbentang ekosistem mangrove seluas sekitar 1.798 hektar yang menyimpan cadangan karbon besar di sedimen pesisir, hutan mangrove, dan padang lamun. Potensi inilah yang kini mulai dilirik sebagai “emas hijau” yang sebelumnya luput dari perhitungan pembangunan daerah.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Mamuju, Muhammad Yusuf, mengatakan bahwa tantangan utama dalam mengelola potensi tersebut bukan pada ketersediaan sumber daya, melainkan pada bagaimana mengubahnya menjadi nilai ekonomi yang nyata dan terukur.
“Selama ini kita tahu luas mangrove yang dimiliki, tetapi belum memiliki data pasti berapa stok karbon yang tersimpan dan berapa nilai ekonominya jika dikelola dengan benar,” ujarnya.
Untuk menjawab persoalan tersebut, Pemerintah Kabupaten Mamuju menggagas Mamuju Blue Carbon Initiative (MBCI). Program ini menjadi langkah strategis untuk mengubah potensi karbon biru menjadi instrumen pembangunan daerah berbasis ekonomi hijau.
Pendekatan program ini dimulai dari audit data komprehensif. Melalui digitalisasi berbasis Sistem Informasi Geografis (GIS) dan kolaborasi dengan kalangan akademisi, pemerintah menargetkan penyusunan Atlas Blue Carbon yang terverifikasi.
Validasi stok karbon akan dilakukan melalui sistem Measurement, Reporting, and Verification (MRV). Sistem ini menjadi syarat utama agar Mamuju memiliki posisi tawar dalam pasar karbon nasional maupun skema pembiayaan iklim internasional.
Tak hanya berorientasi pada angka ekonomi, program ini juga menempatkan masyarakat pesisir sebagai aktor utama. Melalui subprogram Coastal Carbon Rangers, warga pesisir didorong bertransformasi dari sekadar pemanfaat sumber daya menjadi penjaga sekaligus pengelola ekosistem mangrove.
Skema Pembayaran Jasa Lingkungan (PJL) akan disiapkan agar desa-desa pesisir seperti Lebani dan Tapandullu mendapatkan insentif langsung dari upaya menjaga kelestarian mangrove. Konsep ini menekankan keadilan ekologi, bahwa masyarakat yang menjaga ekosistem harus menjadi pihak pertama yang merasakan manfaat ekonominya.
Langkah berikutnya adalah inovasi fiskal melalui konsep Carbon-to-Fiscal. Pemerintah daerah telah menyusun peta jalan strategis hingga 2028. Tahun 2027 ditargetkan sebagai fase finalisasi dan validasi basis data stok karbon. Sementara pada 2028, pemerintah daerah akan memperkuat regulasi melalui Peraturan Bupati atau Peraturan Daerah tentang tata kelola karbon biru. Setelah itu, proyek karbon akan didaftarkan ke Sistem Registri Nasional (SRN) untuk membuka peluang perdagangan karbon serta akses pendanaan pembangunan hijau.
Pemerintah daerah menilai pembangunan ekonomi biru tidak dapat dilakukan secara sektoral. Sinergi dengan berbagai pihak seperti Bappeda, Dinas Lingkungan Hidup, serta sektor swasta melalui investasi hijau menjadi kunci keberhasilan. Bagi Mamuju, pesisir bukan sekadar ruang tangkap ikan, melainkan aset strategis masa depan daerah. Melalui pengelolaan karbon biru yang terukur, pemerintah berharap wilayah pesisir dapat menjadi fondasi baru bagi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.
Dengan semangat kultural “Allo Campalogana To Mamuju Masannang Masagena”, pemerintah dan masyarakat diharapkan bergerak bersama menjadikan Mamuju sebagai daerah pesisir yang maju, sejahtera, dan berkelanjutan. (ZUL)
Oleh : Aam Abdul Salam, Sekjen PPJNA 98*
REDAKSI.CO || Menyimak apa yang disampaikan Bapak Sufmi Dasco, Persatuan Nasional dengan kompak dan solidnya masyarakat sipil merupakan fondasi penting dalam mendukung keberhasilan program Presiden Prabowo Subianto. Apalagi dihadapkan pada situasi sekarang ditengah Dunia hari ini sedang tidak baik-baik saja.
Gemuruh konflik di Timur Tengah antara poros AS-Israel melawan Iran bukan sekadar berita mancanegara di layar kaca; ia adalah alarm peringatan bagi dapur dan lampu di rumah-rumah kita. Bayang-bayang Perang Dunia III membawa ancaman nyata: krisis pangan, energi, dan guncangan ekonomi yang siap menerjang batas negara.
Namun, bagi Indonesia, ancaman bukanlah alasan untuk menyerah. Justru di tengah ketidakpastian ini, kita perlu memperkuat Persatuan Nasional Benteng Pertahanan Rakyat Semesta.
Tiga Pilar Antisipasi: Krisis Pangan, Krisis Energi dan Krisis Perekonomian
Menghadapi krisis global memerlukan langkah konkret yang dimulai dari unit terkecil: keluarga dan komunitas.
Kedaulatan Pangan: Saat rantai pasok global terputus, tanah kita adalah penyelamat. Memanfaatkan lahan pekarangan atau lahan kosong yang kita miliki untuk menanam kebutuhan pokok bukan lagi hobi, melainkan strategi bertahan hidup dalam situasi krisis untuk ketersediaan pangan.
Ketahanan Energi: Efisiensi menjadi kunci. Mengurangi ketergantungan pada sumber daya impor dan mulai melirik potensi energi lokal adalah langkah preventif agar roda ekonomi tetap berputar saat harga minyak dunia melambung.
Stabilitas Ekonomi: Memperkuat sirkulasi ekonomi domestik dengan mencintai produk lokal akan menjaga daya tahan pasar dalam negeri dari inflasi global yang gila-gilaan.
Persatuan Nasional : Senjata Terkuat Kita
Sejarah membuktikan bahwa Indonesia runtuh bukan karena serangan dari luar, melainkan saat fondasi persatuannya retak. Menghadapi ancaman serangan fisik maupun siber yang bertujuan menghancurkan kedaulatan, persatuan rakyat adalah benteng yang tak tertembus. Tak peduli seberapa canggih teknologi lawan, rakyat yang bersatu adalah kekuatan asimetris yang paling ditakuti.
Momentum Ramadan: Benteng Langit
Di atas segala upaya lahiriah, ada kekuatan yang melampaui logika militer dan ekonomi. Momentum Bulan Ramadan tahun ini hadir sebagai waktu yang tepat untuk memperkuat “Benteng Langit”.
Allahummahfadz bilaadanaa Induunisiyaa minal fitani wal mihan, waj’alhaa baldatan thayyibatan wa rabbun ghafuur) “Ya Allah, jagalah negeri kami Indonesia dari segala fitnah dan cobaan, dan jadikanlah ia negeri yang baik (aman sentosa) dengan Rabb Yang Maha Pengampun.”
Ramadan bukan sekadar menahan lapar, melainkan momentum kolektif bagi jutaan rakyat Indonesia untuk bersimpuh. Di setiap sujud dan doa berbuka, terpanjat permohonan perlindungan kepada Allah SWT agar negeri ini dijauhkan dari marabahaya. Doa adalah senjata orang beriman—sebuah energi spiritual yang mampu menghadirkan ketenangan di tengah hiruk-pukuk ancaman dunia.
Penutup
Krisis mungkin tak terelakkan, namun kehancuran bisa dicegah. Dengan perpaduan antara persiapan fisik yang matang, persatuan nasional yang solid, dan Doa mengetuk pintu langit di bulan suci, Indonesia akan tetap tegak berdiri. Kita tidak hanya sedang bertahan, kita sedang membuktikan bahwa bangsa ini adalah bangsa pemenang, negeri Indonesia dibawah panji merah putih persatuan nasional akan selamat, kuat dan tampil memimpin ditengah konflik global, berperan mewujudkan perdamaian dunia.***
*Penulis : Pendiri Yayasan Majelis Dzikir Merah Putih, Sekjen Komite Nasional Kedaulatan Energi, Sekjen PPJNA 98, Presidium Korp Alumni HMI (KAHMI) Sukabumi, Penasehat SMSI Sukabumi dan PWI Kab.Sukabumi.
Editor : Fikrie M
Oleh : Aam Abdul Salam, Sekjen PPJNA 98*
REDAKSI.CO || Menyimak apa yang disampaikan Bapak Sufmi Dasco, Persatuan Nasional dengan kompak dan solidnya masyatakat sipil merupakan fondasi penting dalam mendukung keberhasilan program Presiden Prabowo Subianto. Apalagi dihadapkan pada situasi sekarang ditengah Dunia hari ini sedang tidak baik-baik saja.
Gemuruh konflik di Timur Tengah antara poros AS-Israel melawan Iran bukan sekadar berita mancanegara di layar kaca; ia adalah alarm peringatan bagi dapur dan lampu di rumah-rumah kita. Bayang-bayang Perang Dunia III membawa ancaman nyata: krisis pangan, energi, dan guncangan ekonomi yang siap menerjang batas negara.
Namun, bagi Indonesia, ancaman bukanlah alasan untuk menyerah. Justru di tengah ketidakpastian ini, kita perlu memperkuat Persatuan Nasional Benteng Pertahanan Rakyat Semesta.
Tiga Pilar Antisipasi: Krisis Pangan, Krisis Energi dan Krisis Perekonomian
Menghadapi krisis global memerlukan langkah konkret yang dimulai dari unit terkecil: keluarga dan komunitas.
Kedaulatan Pangan: Saat rantai pasok global terputus, tanah kita adalah penyelamat. Memanfaatkan lahan pekarangan atau lahan kosong yang kita miliki untuk menanam kebutuhan pokok bukan lagi hobi, melainkan strategi bertahan hidup dalam situasi krisis untuk ketersediaan pangan.
Ketahanan Energi: Efisiensi menjadi kunci. Mengurangi ketergantungan pada sumber daya impor dan mulai melirik potensi energi lokal adalah langkah preventif agar roda ekonomi tetap berputar saat harga minyak dunia melambung.
Stabilitas Ekonomi: Memperkuat sirkulasi ekonomi domestik dengan mencintai produk lokal akan menjaga daya tahan pasar dalam negeri dari inflasi global yang gila-gilaan.
Persatuan Nasional : Senjata Terkuat Kita
Sejarah membuktikan bahwa Indonesia runtuh bukan karena serangan dari luar, melainkan saat fondasi persatuannya retak. Menghadapi ancaman serangan fisik maupun siber yang bertujuan menghancurkan kedaulatan, persatuan rakyat adalah benteng yang tak tertembus. Tak peduli seberapa canggih teknologi lawan, rakyat yang bersatu adalah kekuatan asimetris yang paling ditakuti.
Momentum Ramadan: Benteng Langit
Di atas segala upaya lahiriah, ada kekuatan yang melampaui logika militer dan ekonomi. Momentum Bulan Ramadan tahun ini hadir sebagai waktu yang tepat untuk memperkuat “Benteng Langit”.
Allahummahfadz bilaadanaa Induunisiyaa minal fitani wal mihan, waj’alhaa baldatan thayyibatan wa rabbun ghafuur) “Ya Allah, jagalah negeri kami Indonesia dari segala fitnah dan cobaan, dan jadikanlah ia negeri yang baik (aman sentosa) dengan Rabb Yang Maha Pengampun.”
Ramadan bukan sekadar menahan lapar, melainkan momentum kolektif bagi jutaan rakyat Indonesia untuk bersimpuh. Di setiap sujud dan doa berbuka, terpanjat permohonan perlindungan kepada Allah SWT agar negeri ini dijauhkan dari marabahaya. Doa adalah senjata orang beriman—sebuah energi spiritual yang mampu menghadirkan ketenangan di tengah hiruk-pukuk ancaman dunia.
Penutup
Krisis mungkin tak terelakkan, namun kehancuran bisa dicegah. Dengan perpaduan antara persiapan fisik yang matang, persatuan nasional yang solid, dan Doa mengetuk pintu langit di bulan suci, Indonesia akan tetap tegak berdiri. Kita tidak hanya sedang bertahan, kita sedang membuktikan bahwa bangsa ini adalah bangsa pemenang, negeri Indonesia dibawah panji merah putih persatuan nasional akan selamat, kuat dan tampil memimpin ditengah konflik global, berperan mewujudkan perdamaian dunia.***
*Penulis : Pendiri Yayasan Majelis Dzikir Merah Putih, Sekjen Komite Nasional Kedaulatan Energi, Sekjen PPJNA 98, Presidium Korp Alumni HMI (KAHMI) Sukabumi, Penasehat SMSI Sukabumi dan PWI Kab.Sukabumi.
Editor : Fikrie M
Perkuat Sinergi Forkopimda, Sachrudin: Pastikan Kamtibmas dan Kesiapan Lebaran di Kota Tangerang
Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang memperkuat koordinasi lintas instansi melalui Rapat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) guna memastikan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) tetap terjaga menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. Rapat yang dipimpin langsung oleh Wali Kota Tangerang, H. Sachrudin, tersebut digelar di Ruang Rapat Wali Kota Tangerang, Jumat (06/03/2026).


Dalam arahannya, Sachrudin menegaskan pentingnya sinergi seluruh unsur Forkopimda untuk mengantisipasi berbagai potensi gangguan kamtibmas sekaligus memastikan kesiapan daerah menghadapi momentum Lebaran, mulai dari pengamanan wilayah, kelancaran arus mudik dan balik, hingga stabilitas kebutuhan pokok masyarakat.
“Forkopimda menjadi wadah strategis untuk menyatukan langkah dan memperkuat koordinasi. Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah daerah, TNI, Polri, dan seluruh pemangku kepentingan, kita pastikan Kota Tangerang tetap aman, kondusif, dan masyarakat dapat menjalankan Ramadan hingga Idulfitri dengan nyaman,” tegas Sachrudin.
Rapat tersebut dihadiri oleh unsur pimpinan daerah, di antaranya Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tangerang, Ketua DPRD, jajaran TNI, Polri, Kejaksaan, serta para pimpinan perangkat daerah terkait.
Dalam forum tersebut dibahas sejumlah langkah strategis menjelang Idulfitri, antara lain penguatan pengamanan wilayah, pencegahan potensi gangguan Kamtibmas, kelancaran arus mudik dan arus balik, pengendalian harga dan ketersediaan bahan pokok, keamanan pangan, kesiapsiagaan penanggulangan bencana, hingga kesiapan layanan kesehatan bagi masyarakat.
Sachrudin juga menekankan pentingnya peran perangkat wilayah hingga tingkat RT dan RW untuk memperkuat kewaspadaan di lingkungan masing-masing, terutama bagi warga yang akan meninggalkan rumah saat mudik.
“Kita ingin memastikan warga merasa aman saat merayakan Lebaran, termasuk bagi mereka yang mudik. Karena itu, koordinasi hingga tingkat wilayah terus kita perkuat,” ujarnya.
Ia pun mengapresiasi situasi Kamtibmas di Kota Tangerang yang hingga saat ini tetap kondusif selama Ramadan.
Berdasarkan laporan jajaran kepolisian, belum terdapat kejadian tawuran yang biasanya rawan terjadi di periode tersebut.
“Alhamdulillah, dari laporan Wakapolres disampaikan bahwa selama Ramadan ini belum terjadi tawuran. Ini menunjukkan sinergi kita bersama masyarakat berjalan baik,” katanya.
Selain itu, Sachrudin juga menginformasikan adanya dukungan dari unsur Forkopimda, yakni Kejaksaan Negeri, Polres Metro Tangerang Kota, dan Kodim 0506/Tangerang yang siap menyediakan lahan parkir untuk penitipan kendaraan warga selama masa mudik Lebaran.
“Ini bentuk kolaborasi nyata Forkopimda untuk memberikan rasa aman bagi masyarakat. Mari kita terus tingkatkan koordinasi dan kesiapsiagaan agar situasi Kota Tangerang tetap aman dan kondusif,” pungkasnya.(*/red)
Redaksi.co, Sukabumi || Menjelang masa libur Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, Anggota DPRD Kabupaten Sukabumi dari Fraksi PAN, Mansurudin, mengingatkan potensi lonjakan wisatawan yang diperkirakan memadati sejumlah destinasi wisata di wilayah Sukabumi.
Hal tersebut disampaikan Mansurudin usai mengikuti rapat koordinasi (rakor) lintas sektoral tingkat menteri secara virtual terkait kesiapan pelaksanaan Operasi Ketupat 2026. Rakor bidang operasional tersebut juga diikuti unsur Polri, TNI, relawan, serta sejumlah kepala perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sukabumi.
Rakor dipimpin langsung oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Dalam forum tersebut dibahas kesiapan pengamanan menjelang arus mudik dan balik Lebaran, termasuk pengamanan objek vital serta lokasi yang berpotensi menjadi pusat keramaian masyarakat.
Operasi Ketupat 2026 sendiri dijadwalkan berlangsung mulai 13 hingga 25 Maret 2026. Pengamanan difokuskan pada sejumlah titik strategis seperti masjid, pusat perbelanjaan, terminal, stasiun, jalur utama mudik, hingga kawasan objek wisata.
Mansurudin mengatakan, Polri telah menyiapkan sejumlah langkah strategis guna memastikan kelancaran arus lalu lintas selama periode mudik dan libur Lebaran. Langkah tersebut antara lain penempatan personel di titik rawan kemacetan, pengaturan lalu lintas, rekayasa arus kendaraan, hingga penerapan sistem one way dan contra flow di jalur-jalur tertentu.
“Saya menilai pengamanan arus mudik dan arus balik Lebaran tahun ini harus dimaksimalkan. Mobilitas masyarakat diprediksi meningkat cukup signifikan, terutama menuju daerah wisata yang menjadi tujuan liburan keluarga,” ujar Mansurudin usai mengikuti rakor di Mapolres Sukabumi, Senin (2/3/2026).
Ia menambahkan, Kabupaten Sukabumi yang memiliki banyak destinasi wisata alam berpotensi mengalami peningkatan jumlah pengunjung selama libur Lebaran. Karena itu, kesiapan pengamanan dan pengaturan lalu lintas di kawasan wisata perlu menjadi perhatian serius.
Menurutnya, salah satu langkah antisipasi yang perlu disiapkan adalah penambahan kantong parkir di sekitar objek wisata guna mencegah penumpukan kendaraan di badan jalan.
“Lonjakan wisatawan, khususnya yang menggunakan kendaraan pribadi, harus diantisipasi sejak awal. Pengaturan pintu masuk dan keluar kawasan wisata juga perlu diperhatikan agar tidak terjadi kepadatan kendaraan,” jelasnya.
Mansurudin menegaskan, keberhasilan pengamanan selama masa libur Lebaran sangat bergantung pada sinergi seluruh pihak, mulai dari Polri, TNI, pemerintah daerah, hingga para pemangku kepentingan lainnya.
“Sinergitas semua unsur menjadi kunci agar arus mudik, arus balik, serta aktivitas wisata masyarakat selama libur Lebaran dapat berjalan aman, lancar, dan kondusif,” tandasnya. (Dede Heri)***
Editor : AS