Redaksi.co MAMASA : Ketika malam jatuh di Dusun Sambaho dan Dusun Tambating, Desa Pamoseang, Kecamatan Mambi, Kabupaten Mamasa, yang tersisa hanyalah keheningan yang mencekam dan kegelapan yang pekat. Sudah hampir satu bulan, waktu seolah berhenti bagi 62 kepala keluarga di pedalaman ini. Harapan hidup mereka, sebuah mesin turbin sederhana, hancur dihantam longsor, meninggalkan jerit tak terdengar dari warga yang dipaksa hidup dalam keterbatasan.
Bencana yang seolah tak berkesudahan kembali memuncak pada Kamis, 14 Mei 2026. Alih-alih mendapatkan bantuan setelah berminggu-minggu hidup tanpa listrik, alam justru kembali melayangkan pukulan telak. Longsor susulan menerjang, menghancurkan rumah turbin, dan mematahkan tiga batang pipa utama yang selama ini menjadi urat nadi pengalir kehidupan warga.
“Sudah hampir satu bulan turbin tidak menyala. Kemudian longsor kembali terjadi dan menghancurkan pipa pengalir air ke mesin turbin,” ungkap M. Yahya P., warga Dusun Sambaho, dengan nada suara yang sarat akan keputusasaan.
Kerusakan ini bukan sekadar perkara matinya lampu, melainkan lumpuhnya kehidupan. Material longsor yang membentang hingga 40 meter telah mengubur mimpi anak-anak untuk belajar dengan layak di malam hari, dan mematikan perputaran ekonomi warga yang sudah sulit.
Sebanyak 62 Kepala Keluarga kini terisolasi dalam kegelapan malam, terbagi di tiga wilayah yang perlahan terlupakan:
21 KK di Dusun Sambaho Dua
16 KK di Dusun Sambaho Satu
25 KK di Dusun Tambating
Pada malam hari, wilayah ini bak kota mati. Warga hanya bisa mengandalkan penerangan seadanya, sebatang lilin atau pelita minyak tanah yang meredup, sembari berdoa agar tidak ada longsor susulan yang datang menjemput mereka di dalam gelap.
Pilu yang paling menyakitkan dari tragedi ini bukanlah ganasnya longsor, melainkan kesunyian dari pihak penguasa. Hingga detik ini, belum ada satu pun uluran tangan, alat berat, maupun kebijakan dari pemerintah daerah maupun pusat yang menyentuh tanah Pamoseang. Warga dibiarkan berjuang sendiri, berteman sepi dan ancaman maut.
Dipicu rasa putus asa sekaligus enggan menyerah pada nasib, pada Sabtu, 16 Mei 2026, warga memilih bertaruh nyawa. Tanpa alat berat, tanpa pengaman, mereka berjalan kaki sejauh dua kilometer membelah medan curam yang licin dan berbahaya.
Menggunakan tangan kosong dan alat seadanya, mereka bergotong royong mengais dan menyambung kembali pipa-pipa yang tersisa. Di atas kepala mereka, tebing-tebing curam masih mengintai, siap longsor kapan saja saat hujan mengguyur. Mereka tahu ini berbahaya, namun hidup dalam kegelapan abadi jauh lebih menakutkan.
Masyarakat Pamoseang tidak meminta kemewahan. Mereka hanya meminta hak paling dasar sebagai manusia: cahaya di malam hari. Kini, di tengah ancaman wilayah yang benar-benar terisolasi, warga hanya bisa melayangkan harapan terakhir mereka lewat angin malam.
“Kami hanya berharap pemerintah bisa membantu agar turbin ini kembali menyala, karena itu satu-satunya sumber listrik kami,” lirih M. Yahya P.
Pertanyaannya kini: Harus berapa malam lagi anak-anak di pedalaman Mamasa ini tertidur dalam kegelapan sebelum suara mereka akhirnya didengar oleh mereka yang duduk di kursi nyaman berlampu terang? (ZUL)

