MAMASA – Wajah pendidikan di Kabupaten Mamasa tercoreng hebat. Sebuah insiden memuakkan meledak di SMAN 1 Aralle, di mana seorang oknum pendidik yang seharusnya menjadi pelindung, justru diduga berubah menjadi predator mental bagi siswanya sendiri. Bukan dengan kekerasan fisik, melainkan melalui lisan yang lebih tajam dari sembilu.
Tanpa rasa iba, oknum guru tersebut diduga melontarkan kalimat diskriminatif yang menusuk jantung pertahanan mental seorang siswa. Di depan teman-temannya, di ruang yang seharusnya sakral untuk menuntut ilmu, sang siswa dipermalukan dengan narasi kemiskinan.
“Dasar anak penjual kue, ayahnya sudah tidak ada, hidup miskin lagi.”
Kalimat biadab ini menyasar seorang anak yatim yang ibunya berjuang mati-matian menyambung nyawa dengan berjualan kue. Alih-alih diberi beasiswa atau motivasi, perjuangan halal sang ibu justru dijadikan bahan olok-olok oleh sosok yang memiliki gelar pendidikan tinggi.
Reaksi keras meledak dari Ketua FPPM Kabupaten Mamasa, Ahyar Anwar. Dengan nada geram, ia menyebut tindakan ini sebagai bentuk arogansi yang tidak manusiawi.
Pukulan Telak: Ahyar menegaskan bahwa gelar akademik sang guru menjadi sampah ketika adab dan empati sudah hilang.
Tuntutan Tegas: FPPM mendesak instansi terkait untuk segera memecat atau mengevaluasi total oknum tersebut. “Pendidikan tidak boleh dipenuhi setan-setan arogansi yang menghina kemiskinan,” tegasnya.
Insiden ini menjadi tamparan mematikan bagi dunia pendidikan di Mamasa. Sekolah, yang seharusnya menjadi bengkel masa depan, justru berubah menjadi “neraka” bagi anak-anak dari kalangan ekonomi lemah.
Publik kini menunggu. Apakah hukum dan etik akan bekerja, atau pendidikan kita memang sedang memelihara penindas di dalam kelas?
Menjual kue demi sesuap nasi adalah kemuliaan. Yang memalukan adalah menjadi guru berpendidikan, tapi kehilangan hati nurani. (ZUL)

