Jember, redaksi.co – Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Jember tak lagi menggelar Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Tenaga Sukarelawan (TSR). Padahal, kegiatan ini sebelumnya rutin dilakukan untuk meningkatkan kapasitas relawan dan menjaring anggota baru dari kalangan masyarakat umum maupun alumni KSR (03/07/2025).
Sejak kepemimpinan Mohammad Thamrin, PMI Cabang Jember disebut mulai menanggalkan banyak program aktif yang selama ini menjadi ciri khasnya. Salah satu alasannya adalah efisiensi anggaran. Namun kebijakan ini menuai sorotan, mengingat saat ini harga kantong darah telah naik dari Rp 360 ribu menjadi Rp 490 ribu per kantong.
Ironisnya, sejak tahun 2023, banyak program kerja hasil Musyawarah Kerja Kabupaten (Muskerkab) justru tidak dilaksanakan. PMI Jember yang dulu dikenal aktif dengan berbagai pelatihan kepalangmerahan, kini lebih fokus pada kegiatan simbolik dan kemitraan seremonial bersama pemerintah daerah. Sementara pelatihan relawan yang bersifat teknis dan mendasar justru nyaris tak tersentuh.
Padahal, relawan TSR adalah tulang punggung PMI dalam menghadapi situasi darurat dan bencana. Mereka membutuhkan pelatihan rutin agar tetap siap bertugas kapan pun dibutuhkan.
Aep Ganda Permana, pengamat kebijakan publik, menyayangkan perubahan arah kebijakan PMI Jember yang dianggap tak lagi berpihak pada penguatan kapasitas relawan.
“Sungguh disayangkan, di era kepemimpinan Thamrin, kinerja PMI justru terlihat menurun. Banyak keluhan dari masyarakat dan relawan sendiri,” ujarnya.
Aep juga mengaku sejak dirinya mulai menyuarakan kritik, banyak pihak yang turut menyampaikan keluhan serupa, termasuk dari kalangan internal PMI sendiri.
“Kini informasi soal buruknya pengelolaan PMI makin terbuka. Ini jadi keprihatinan bersama, karena PMI adalah lembaga kemanusiaan yang seharusnya mengutamakan pelayanan dan kesiapsiagaan,” tambahnya.






