Diduga “Sekolah Bayangan”, SMK Torije’ne Jadi Sorotan, Bangunan Ada, Aktivitas Belajar Dipertanyakan

0
30

Redaksi.co MAMASA : Aroma kejanggalan menyelimuti pembangunan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Torije’ne di Desa Tabulahan, Kecamatan Tabulahan, Kabupaten Mamasa. Sekolah yang dibangun pada tahun 2021 menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK), kini menjadi sorotan keras. Bangunan berdiri megah, namun aktivitas belajar mengajar diduga tak berjalan sebagaimana mestinya.

Berdasarkan temuan di lapangan, terdapat tiga bangunan utama di kompleks sekolah tersebut. Satu gedung memuat dua ruang kelas dan satu laboratorium komputer, sementara dua gedung lainnya masing-masing difungsikan sebagai ruang belajar. Secara fisik, tak ada yang janggal. Namun pertanyaannya, di mana proses pendidikannya?

Jumlah siswa yang tercatat hanya sekitar 16 orang. Angka ini dinilai tak sebanding dengan fasilitas yang dibangun menggunakan dana negara. Publik pun bertanya, apakah pembangunan tersebut benar-benar dirancang berdasarkan kebutuhan riil, atau sekadar proyek formalitas?

Informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa pengelolaan awal sekolah berada di tangan Kevin, sebelum kemudian diambil alih oleh Ibu Ponny. Namun pergantian kepemimpinan itu tidak serta-merta menjawab polemik utama, apakah kegiatan belajar mengajar benar-benar berjalan?

LSM KPK RI yang melakukan pemantauan langsung di lokasi mengaku tidak menemukan tahapan proses pembelajaran sebagaimana mestinya. Simson, perwakilan lembaga tersebut, menyatakan tegas, “Saat kami turun ke lapangan, tidak terlihat adanya aktivitas belajar mengajar.” ungkapnya Selasa 10 Februari 2026.

Pernyataan itu berseberangan dengan keterangan Kevin yang mengklaim bahwa proses belajar tetap aktif dan berjalan normal.

Kontradiksi semakin tajam setelah seorang warga sekitar, yang meminta identitasnya dirahasiakan, menyebut bahwa aktivitas belajar di sekolah tersebut tidak berjalan. “Yang terlihat hanya sapi berkeliaran di lingkungan sekolah, bukan siswa yang sedang belajar,” ungkapnya.

Perbedaan pernyataan ini memicu dugaan adanya ketidaksesuaian antara laporan dan realitas di lapangan. Jika benar proses belajar mengajar tidak berjalan optimal, maka penggunaan Dana Alokasi Khusus 2021 untuk pembangunan SMK Torije’ne patut diaudit secara menyeluruh.

Pendidikan bukan sekadar deretan bangunan yang berdiri untuk difoto dan dilaporkan. Pendidikan adalah aktivitas nyata yang menyentuh masa depan generasi muda. Jika ruang kelas kosong dan laboratorium tak difungsikan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya anggaran negara, tetapi juga harapan anak-anak Mamasa.

Publik kini menunggu klarifikasi terbuka dan transparan dari pihak terkait. Jangan sampai sekolah berubah menjadi simbol proyek tanpa roh pendidikan di dalamnya. (ZUL)