Fakfak, Redaksi.co – Tidak ada yang instan dalam membangun kemandirian ekonomi kampung. Semua butuh proses panjang, kerja keras, dan ketekunan. Hal itulah yang dirasakan Abdul Tanggih Iriwanas saat merintis Badan Usaha Milik Kampung (Bumkam) bersama Ita Mancia Kokas (Katong Orang Kokas) hingga akhirnya mampu melaksanakan distribusi perdana hasil pertanian dan perikanan masyarakat Distrik Kokas.
Di balik keberhasilan itu, tersimpan cerita perjuangan yang dimulai dari langkah-langkah kecil.
Abdul mengenang, saat awal berdiri, Bumkam belum memiliki apa-apa. Sarana terbatas, modal minim, bahkan kepercayaan masyarakat masih harus dibangun perlahan. Namun ia yakin, jika dikelola dengan niat baik dan melibatkan masyarakat, Bumkam bisa menjadi jalan keluar bagi perekonomian kampung.
“Waktu awal, kita mulai dari nol. Tidak mudah mengajak orang percaya. Tapi kita pelan-pelan buktikan bahwa ini untuk kepentingan bersama,” ujarnya.
Bersama Ita Mancia Kokas, pemerintah distrik, dan pemerintah kampung se-Kokas, Abdul aktif turun langsung ke masyarakat. Ia mendata potensi lokal, mendorong petani menanam lebih teratur, serta mengajak nelayan menjual hasil tangkapan melalui wadah bersama agar harga lebih stabil.
Baginya, Kokas memiliki kekayaan alam melimpah. Sayur-mayur, umbi-umbian, hingga hasil laut seperti ikan dan hasil tangkapan lainnya tersedia hampir setiap hari. Tantangannya bukan pada produksi, melainkan pada distribusi dan pemasaran.
“Selama ini masyarakat produksi sendiri-sendiri. Kadang hasil banyak tapi susah dijual. Di situ Bumkam hadir, jadi penghubung,” jelasnya.
Perjuangan itu akhirnya membuahkan hasil. Untuk pertama kalinya, Bumkam bersama Ita Mancia Kokas berhasil melaksanakan distribusi perdana hasil pertanian dan perikanan masyarakat melalui pola kemitraan.
Berbagai komoditas seperti kangkung, sawi, labu siam, dan aneka sayuran lokal, hingga hasil perikanan, berhasil dihimpun dan disalurkan secara terorganisir. Momen ini menjadi tonggak penting, menandai bahwa Bumkam tidak lagi sebatas rencana, tetapi sudah berjalan nyata.
Distribusi perdana tersebut disambut antusias masyarakat. Petani dan nelayan merasa lebih terbantu karena hasil mereka memiliki pasar yang jelas.
Abdul menyebut, keberhasilan ini bukan kerja satu dua orang, melainkan hasil gotong royong.
“Ini bukan keberhasilan saya pribadi. Ini kerja bersama. Kita ingin orang Kokas berdiri di kaki sendiri, hasil kampung bisa kasih hidup untuk masyarakat kampung,” katanya.
Ke depan, ia berharap Bumkam semakin kuat, mampu memperluas jaringan pemasaran, serta menjadi motor penggerak ekonomi lokal. Ia juga ingin generasi muda Kokas terlibat aktif membangun kampungnya sendiri.
Dari langkah kecil hingga distribusi perdana, perjalanan Bumkam Kokas menjadi bukti bahwa ketika masyarakat bersatu dan dikelola dengan baik, potensi kampung bisa berubah menjadi kekuatan ekonomi.
Dan di balik itu semua, ada sosok Abdul Tanggih Iriwanas yang memilih berjalan bersama rakyatnya, membangun dari bawah, demi masa depan Kokas yang lebih mandiri.






