Top 5 This Week

Related Posts

Di Forum LKD, Zul Bakri Ismail Tekankan Pentingnya Keberanian dan Mental Kepemimpinan Mahasiswa

Redaksi.co MAMUJU : Mahasiswa tidak boleh hanya dikenal karena kecerdasan akademiknya, tetapi juga harus memiliki keberanian menyampaikan gagasan, menyuarakan kebenaran, dan mengambil peran dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat. Keberanian berbicara di depan umum menjadi salah satu modal penting dalam membentuk karakter intelektual dan kepemimpinan generasi muda.

Pesan tersebut disampaikan Zul Bakri Ismail dalam kegiatan Latihan Kader Dasar (LKD) Himpunan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Mamuju. Dalam forum kaderisasi tersebut, ia mengajak seluruh mahasiswa untuk menghilangkan rasa takut, mengatasi demam panggung, serta membangun kepercayaan diri dalam menyampaikan pendapat di ruang publik.

Menurut Zul Bakri Ismail, salah satu persoalan yang masih sering menghambat perkembangan mahasiswa adalah kurangnya keberanian untuk berbicara. Tidak sedikit mahasiswa yang sebenarnya memiliki pengetahuan dan gagasan kritis, tetapi memilih diam karena takut salah, khawatir mendapat kritikan, atau merasa tidak mampu menyampaikan pemikirannya di hadapan banyak orang.

Padahal, mahasiswa merupakan kelompok intelektual yang memiliki tanggung jawab lebih besar daripada sekadar memahami teori di bangku perkuliahan. Mahasiswa harus mampu mengartikulasikan pemikiran, membangun argumentasi, serta memberikan kontribusi terhadap berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan pembangunan.

“Mahasiswa harus mulai menghilangkan rasa demam panggung. Jangan sampai kita memiliki banyak pengetahuan, tetapi tidak memiliki keberanian untuk menyampaikan apa yang kita pikirkan. Keberanian berbicara merupakan bagian penting dari proses pembentukan karakter dan kepemimpinan mahasiswa,” tegas Zul Bakri Ismail.

Ia menekankan bahwa rasa gugup ketika berbicara di depan umum merupakan hal yang wajar. Namun, kegugupan tidak boleh dijadikan alasan untuk terus menghindari kesempatan belajar dan mengembangkan kemampuan diri.

Baginya, kepercayaan diri tidak lahir secara instan. Kemampuan tersebut harus dibangun melalui latihan, pembiasaan, dan keberanian untuk terus mencoba. Mahasiswa perlu aktif dalam diskusi, berani mengajukan pertanyaan di ruang perkuliahan, terlibat dalam organisasi, serta memanfaatkan setiap kesempatan untuk menyampaikan gagasan.

Lebih dari sekadar keterampilan komunikasi, Zul Bakri Ismail menilai keberanian berbicara merupakan bagian dari tanggung jawab moral mahasiswa sebagai kaum intelektual. Mahasiswa harus berani menyampaikan kebenaran, mengkritisi ketidakadilan, serta menawarkan solusi terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.

“Jangan menunggu menjadi sempurna untuk mulai berbicara. Mulailah dari keberanian menyampaikan satu pendapat, satu pertanyaan, atau satu gagasan. Dari proses sederhana itulah kepercayaan diri akan tumbuh. Mahasiswa harus berani mencoba, berani salah, dan berani memperbaiki diri,” ujarnya.

Dalam konteks kaderisasi, ia juga mengingatkan bahwa Latihan Kader Dasar tidak boleh hanya menjadi kegiatan formalitas organisasi atau sekadar ruang penyampaian materi. Lebih dari itu, kaderisasi harus menjadi proses pembentukan karakter, penguatan kapasitas intelektual, serta penanaman keberanian moral bagi setiap kader.

Menurutnya, kader mahasiswa harus memiliki kemampuan berpikir kritis, keberanian menyampaikan pendapat, tanggung jawab sosial, dan kepekaan terhadap realitas yang berkembang di tengah masyarakat.

Kaderisasi yang berkualitas, lanjutnya, bukan hanya melahirkan mahasiswa yang mampu memahami teori organisasi, tetapi juga kader yang siap mengambil tanggung jawab, memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan, serta berkontribusi bagi kemajuan daerah dan bangsa.

Ia berharap mahasiswa Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Mamuju dapat menjadikan momentum LKD sebagai titik awal untuk meningkatkan kapasitas diri, memperkuat keberanian intelektual, dan membangun tradisi diskusi yang sehat serta produktif.

“Jangan menjadi mahasiswa yang hanya berani berbicara ketika berada di belakang, tetapi diam ketika diberikan kesempatan menyampaikan pendapat. Gunakan masa mahasiswa untuk belajar, berlatih, dan membangun keberanian. Sebab, perubahan tidak akan lahir dari mereka yang hanya diam, tetapi dari mereka yang berani menyampaikan gagasan dan mengambil tanggung jawab,” tutup Zul Bakri Ismail.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa mahasiswa bukan sekadar generasi yang dipersiapkan untuk mencari pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan, melainkan generasi yang harus mampu berpikir, bersuara, dan bertindak untuk menghadirkan perubahan.

Sebab, intelektualitas tanpa keberanian menyampaikan gagasan akan kehilangan ruang pengaruhnya. Mahasiswa harus berani berbicara, berani berpikir kritis, dan berani mengambil peran dalam menentukan masa depan bangsa. (ZUL)

Popular Articles