Aceh Besar – Pertumbuhan masif cluster perumahan baru di kawasan penyangga Aceh Besar seperti Darul Imarah dan Ingin Jaya adalah tanda kemajuan daerah yang patut diapresiasi. Namun, publik dan para pengembang perlu menyadari realitas teknis di balik megahnya kawasan permukiman tersebut: kebutuhan air bersih melonjak secara eksponensial, sementara kapasitas unit produksi air minum (IPA) kami memiliki batas teknis yang ketat. Pembangunan ratusan unit rumah bisa rampung dalam hitungan bulan, tetapi menambah alokasi air baku dan kapasitas pengolahan membutuhkan waktu bertahun-tahun, studi lingkungan mendalam, serta investasi modal yang sangat besar.
​Melalui pemetaan TOWS Matrix, Perumda Tirta Mountala mengambil langkah strategis ganda untuk membenahi kondisi internal sekaligus merespons tekanan eksternal. Di satu sisi, kami fokus melakukan uprating teknologi pengolahan air yang ada dan menekan angka kebocoran pipa (Non-Revenue Water). Di sisi lain, kami mendorong integrasi perizinan perumahan sejak awal, di mana pihak pengembang tidak hanya menuntut penyambungan pipa, tetapi wajib berkontribusi membangun sarana penunjang seperti bak penampung (reservoir) di dalam kompleks.
​Ketika suatu wilayah distribusi telah berada dalam status jenuh (overload), Perumda Tirta Mountala tidak ragu mengambil pilihan pahit: memberlakukan pembatasan sementara (moratorium) penyambungan baru di area tersebut. Langkah tegas ini bukan bentuk penolakan pelayanan, melainkan komitmen rasional demi melindungi pelanggan eksisting agar tidak mengalami mati air total. Di saat yang sama, pengaturan tekanan (pressure management) dan pembagian giliran pada jam puncak terus diterapkan agar pasokan air yang terbatas dapat terdistribusi secara adil.
​Transparansi ini kami sampaikan agar masyarakat dan calon pembeli rumah memahami bahwa air bersih adalah sumber daya terbatas yang pengelolaannya membutuhkan kedisiplinan bersama. Kami mengimbau setiap penghuni perumahan baru untuk menyediakan sarana penampungan air mandiri (tandon/ground tank) sebagai langkah mitigasi saat puncak pemakaian. Ketahanan air di Aceh Besar hanya dapat terwujud jika ada sinergi yang jujur dan terukur antara pemerintah daerah, pengembang perumahan, BUMD, dan seluruh lapisan masyarakat.

