Aceh Barat.Redaksi.co
Pembangunan tanggul Tebing Sungai di lokasi Gampong Ranto Panyang Barat Kecamatan Meureubo Kabupaten Aceh Barat,yang menjadi harapan warga setempat selama ini, sedang dalam tahap pengerjaan kini justru membuat memunculkan keluhan baru terutama para pengguna jalan akibat aktifitas proyek banyak ceceran tanah liat akibat aktifitas bongkar material batu gajah tertinggal dan lengket di aspal yang mengakibatkan para pengguna jalan harus ekstra hati-hati terutama di sekitar lokasi pembangunan tanggul karena jalan sempit.

Pelaksanaan proyek yang dikerjakan oleh rekanan adalah momen yang sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat, apalagi bagi daerah yang terdampak abrasi tebing sungai,Namun dilokasi tempat pengerjaan proyek tersebut,pihak pelaksana dinilai justru mengabaikan hak-hak pengguna jalan. Arus lalu lintas kerap terhambat dan macet, sementara sisa tanah galian yang berceceran di sepanjang jalan menjadi ancaman nyata bagi pengendara ketika melewati jalanan tersebut.
Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Lapisan tanah liat yang menempel di permukaan aspal dinilai sangat berisiko, terutama saat hujan turun. Belum lagi sempitnya badan jalan yang semakin memperparah situasi, sehingga permintaan warga kepada pihak pelaksana proyek sama sekali bukan hal yang mengada-ngada.
“Kondisi seperti ini sangat berisiko kalau kita tidak berhati-hati, apalagi ketika pagi hari saat mengantar anak sekolah. Kami meminta kepada pelaksana proyek agar merespon keluhan masyarakat, terutama di sekitar lokasi proyek pembangunan tanggul,” ujar salah seorang warga kepada media ini yang namanya enggan di publikasikan ,Senin 14/9/2026
Warga tersebut juga menyarankan agar pihak pelaksana proyek membersihkan ceceran tanah yang menempel di jalan dengan cara disemprot menggunakan air, dan hal ini dilakukan segera setelah truk pengangkut material selesai membongkar muatannya. Langkah ini dinilai penting agar ceceran tanah tidak menumpuk dan menebal sehingga semakin sulit dibersihkan.
“Menurut saya, setiap selesai bongkar, langsung disemprot dengan air lalu dibersihkan agar tidak menambah ketebalan tanah liat di atas aspal,dan jika ini tidak di bersihkan secara kontinyu bisa menimbulkan kecelakaan yang tentunya sangat tidak kita harapkan bersama ” ujarnya.
Saat musim kemarau, ceceran tanah menimbulkan debu yang mengganggu pandangan dan pernapasan. Jika turun hujan, tanah tersebut berubah menjadi licin, meningkatkan risiko terpeleset bahkan kecelakaan, khususnya bagi pengendara sepeda motor.
Menanggapi keluhan warga dan pengguna jalan, Samsuar, perwakilan dari pelaksanaan proyek ketika di hubungi melalui WhatsApp terkait keluhan warga dan pengguna jalan mengatakan pihaknya sudah melakukan upaya tersebut dengan menugaskan petugas khusus yang direkrut dari warga setempat.
” Kami dari pelaksana proyek sudah menugaskan petugas yang kami rekrut dari warga setempat untuk membersihkan tanah ceceran di aspal setiap usai proses bongkar material batu gajah,jika belum benar benar bersih,akan kami bersihkan lagi agar tidak menimbulkan kecelakaan di jalan , Ujarnya
Permintaan ini disampaikan warga semata-mata demi keselamatan para pengguna jalan, tanpa ada niat sedikit pun untuk menghambat jalannya pengerjaan proyek. Warga menyadari sepenuhnya bahwa pembangunan yang dilakukan pemerintah ini bertujuan untuk kesejahteraan dan kenyamanan masyarakat banyak.
Warga mendesak pihak pelaksana untuk segera menata kembali prosedur kerja, antara lain menyiram dan membersihkan jalan secara berkala, menutup rapat muatan truk agar tidak berceceran, serta menempatkan petugas pengatur lalu lintas di jam-jam sibuk. Pemerintah selaku pemberi tugas juga diminta memperketat pengawasan agar SOP ditaati, sehingga manfaat proyek benar-benar dirasakan tanpa mengorbankan keselamatan warga ****
