Aceh Barat.Redaksi.co
Pengurus Wilayah Himpunan Ulama Dayah Aceh (PW HUDA) menyayangkan pelaksanaan konser musik yang digelar oleh PT MIFA di Aceh Barat.
Para ulama mengingatkan agar setiap kegiatan yang diselenggarakan di Aceh, khususnya kegiatan yang melibatkan masyarakat luas, tetap memperhatikan kekhususan Aceh sebagai daerah yang menerapkan Syariat Islam.
Ketua PW HUDA Aceh Barat, Abu Abdurrahman dalam rilisnya yang di kirim kan ke media ini pada Selasa (8/9/2026) menegaskan, bahwa kegiatan hiburan yang dilaksanakan di Aceh harus menghormati nilai-nilai Islam, adat istiadat serta ketentuan Syariat Islam yang berlaku.
Menurut Abu Abdurrahman, HUDA tidak bermaksud menghambat kegiatan ekonomi maupun investasi di Aceh. Namun, setiap pihak yang menjalankan aktivitas di Aceh harus memahami bahwa Aceh memiliki kekhususan dalam penerapan Syariat Islam.
“Kami tidak anti terhadap investasi maupun kegiatan hiburan. Tetapi, semua pihak yang berkegiatan di Aceh wajib menghormati kekhususan Aceh sebagai daerah yang menerapkan Syariat Islam. Jangan sampai kegiatan yang bertujuan memberikan hiburan justru menimbulkan keresahan di tengah masyarakat,” tegas Abu Abdurrahman.
Ia menyampaikan, kegiatan seni, budaya dan hiburan di Aceh semestinya dilaksanakan dengan memperhatikan ketentuan syariat serta melibatkan ulama dan lembaga terkait dalam proses perencanaan maupun pelaksanaannya.
PW HUDA juga mengingatkan bahwa pelaksanaan berbagai kegiatan di Aceh hendaknya mengacu pada ketentuan Syariat Islam serta memperhatikan fatwa dan pandangan ulama sebagai bagian penting dalam menjaga kehidupan masyarakat.
Sementara itu, Abu Mahmuddin Usman yang sering disapa Abu Serambi selaku Majelis Syuyukh PW HUDA Aceh Barat berharap kepada PT MIFA dan seluruh pihak yang beraktivitas di Aceh agar dapat terlibat aktif dalam mendukung dan menerapkan Syariat Islam.
Menurutnya, penerapan Syariat Islam bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau lembaga keagamaan, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat, termasuk dunia usaha dan perusahaan yang menjalankan aktivitasnya di Aceh.
“Kami berharap kepada PT MIFA dan siapapun yang beraktivitas di Aceh untuk dapat terlibat aktif dalam menerapkan Syariat Islam. Aceh memiliki kekhususan dan identitas yang tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai Islam. Karena itu, setiap kegiatan yang dilaksanakan hendaknya disesuaikan dan tidak bertentangan dengan Syariat Islam,” ujar Abu Serambi.
Ia menambahkan, perusahaan yang beroperasi di Aceh diharapkan tidak hanya memberikan kontribusi dalam bidang ekonomi dan pembangunan, tetapi juga ikut mengambil bagian dalam menjaga nilai agama, adat dan budaya masyarakat.
“Kita sangat menghargai investasi dan kontribusi perusahaan terhadap pembangunan daerah. Namun, kami berharap kontribusi tersebut juga diwujudkan dalam bentuk kepedulian terhadap penerapan Syariat Islam. Perusahaan dapat menjadi mitra ulama dan pemerintah dalam membangun masyarakat Aceh yang maju, beradab dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam,” tambahnya.
Abu Serambi menilai, jika seluruh pihak memiliki komitmen yang sama, maka pembangunan ekonomi dapat berjalan seiring dengan penguatan kehidupan keagamaan masyarakat. Menurutnya, tidak boleh ada dikotomi antara pembangunan dan Syariat Islam.
“Kita ingin Aceh maju, investasi berkembang dan masyarakat sejahtera. Tetapi semuanya harus berjalan dalam bingkai Syariat Islam. Karena itu, mari kita bersama-sama menjaga marwah Aceh sebagai daerah yang memiliki kekhususan dalam penerapan Syariat Islam,” pungkasnya.
PW HUDA berharap kejadian serupa tidak kembali terjadi di kemudian hari. Pemerintah, perusahaan, penyelenggara kegiatan dan seluruh pemangku kepentingan diminta membangun komunikasi yang lebih baik dengan MPU, ulama, tokoh masyarakat dan unsur terkait sebelum melaksanakan kegiatan yang melibatkan masyarakat dalam jumlah besar.
Ketua PW HUDA Aceh, Abu Abdurrahman, kembali menegaskan bahwa penerapan Syariat Islam di Aceh merupakan amanah yang harus dijaga bersama.
“Mari kita bangun Aceh yang maju secara ekonomi dan investasi, tetapi tetap kuat dalam agama, adat dan budaya. Jangan sampai kemajuan yang kita kejar justru mengorbankan nilai-nilai Syariat Islam yang menjadi kekhususan Aceh,” pungkas Abu Abdurrahman ****

