Suatu malam yang tenang, tiba-tiba PLN berbaik hati mematikan listrik tanpa pemberitahuan. Seketika rumah jadi gelap gulita! 😱
Anak-anak zaman sekarang langsung gempar:
– “Yaaah! HP lowbat nih!” 📉
– “Gimana mau main game nih?!” 😤
– “Pusing deh gelap-gini!” 🙄
– “Hidup rasanya hampa tanpa sinyal!” 📵
Mereka mondar-mandir, gelisah seperti semut diguyur hujan. Wajah masam, bibir cemberut, rasanya mau marah sama siapa pun yang ada di depan mata. Padahal baru padam 5 menit! 😂
Lalu kami — anak-anak kelahiran tahun 80–90 — dengan tenang menyalakan sebatang lilin kecil yang menyala redup di sudut ruangan. 🕯️ Cahayanya tipis, tapi cukup untuk menerangi wajah kami yang tersenyum santai.
“Kalian kenapa panik?” tanya kami sambil tertawa kecil. “Dulu di kampung, khususnya di Anese, listrik itu barang langka! Malam hari gelap itu hal biasa. Tanpa lilin pun kami tetap main, tetap tertawa, tetap bercerita sampai larut malam. Mati lampu itu bukan bencana — itu justru waktu berkumpul yang paling asik!” 🤗
Anak-anak itu terdiam. Mereka melihat nyala lilin yang kecil itu, lalu perlahan duduk melingkar. Awalnya masih cemberut, lama-lama mulai penasaran. “Terus… dulu kalian ngapain aja kalau gelap?” tanya mereka.
Kami pun mulai bercerita. Tanpa layar HP, tanpa listrik, tanpa internet — dulu imajinasi kami adalah hiburan terbesar. Suara tawa kami lebih keras dari suara televisi mana pun. 🤭
Pelajaran malam itu sederhana:
Kenyamanan itu bagus, tapi jangan sampai kita jadi bergantung padanya sampai lupa cara menikmati hal-hal sederhana. 🕯️💛
Mati lampu bukan akhir dunia. Coba matikan HP sebentar, nyalakan lilin, dan ngobrollah — mungkin justru di situ kalian menemukan hal yang lebih berharga. 😁

