Top 5 This Week

Related Posts

Peringatan 666 Tahun Islam, Bupati Fakfak Tegaskan Fakfak sebagai Ruang Sejarah dan Toleransi.

Fakfak, Redaksi.co – Peringatan 666 tahun masuknya agama Islam ke Tanah Papua di Kabupaten Fakfak menjadi momentum untuk kembali menguatkan nilai cinta kasih, kerukunan dan toleransi dalam kehidupan masyarakat.

Bupati Fakfak Samaun Dahlan mengatakan, nilai Rahmatan Lil Alamin yang bermakna kasih sayang bagi seluruh alam harus menjadi semangat bersama dalam membangun kehidupan masyarakat di Tanah Papua.
Pesan tersebut disampaikan Samaun Dahlan saat memberikan sambutan pada puncak peringatan 666 tahun masuknya agama Islam ke Tanah Papua yang dipusatkan di Kabupaten Fakfak, Sabtu (8/8/2026).

Menurut Samaun, Islam merupakan agama dakwah yang mengajarkan manusia untuk mengabdikan diri kepada Allah SWT sekaligus menghadirkan nilai kebaikan dan kasih sayang dalam kehidupan sosial.
“Islam adalah agama dakwah. Misi dakwah Islam mengajak manusia meniti jalan menuju pengabdian kepada Allah SWT. Nilai universalnya adalah Rahmatan Lil Alamin, yang dapat kita maknai sebagai cinta kasih,” ujar Samaun.

Ia menjelaskan, berdasarkan hasil kajian dan seminar sejarah, Islam masuk ke Tanah Papua melalui Fakfak pada 8 Agustus 1360 Masehi atau bertepatan dengan 24 Ramadan 761 Hijriah.

Sejarah tersebut menyebutkan, Islam dibawa oleh seorang mubalig asal Aceh, Syekh Abdul Ghaffar, yang mendarat di Gar, Kampung Rumbati, Fakfak.

Bagi Samaun, perjalanan sejarah tersebut menunjukkan bahwa Fakfak memiliki posisi penting dalam sejarah perkembangan kehidupan keagamaan di Tanah Papua.
Selain Islam, wilayah Papua Barat juga menjadi bagian dari sejarah masuknya agama Kristen Protestan dan Katolik. Kristen Protestan masuk melalui Pulau Mansinam, Manokwari, pada 5 Februari 1855, sementara Katolik masuk melalui Fakfak pada 22 Mei 1894 yang dibawa oleh Pastor Cornelis Le Cocq d’Armandville.
“Papua Barat boleh dikatakan sebagai wilayah yang diberkati dan dipilih Tuhan sebagai tempat masuknya tiga agama besar, yakni Islam, Protestan dan Katolik,” ungkapnya.

Karena itu, menurut Bupati, sejarah tersebut tidak boleh berhenti sebagai cerita masa lalu. Nilai yang terkandung di dalamnya harus diteruskan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat saat ini dan generasi yang akan datang.

Ia menekankan pentingnya membangun masyarakat yang hidup berdampingan secara damai, saling menghormati dan tidak membeda-bedakan latar belakang suku, etnis maupun agama.

Samaun menilai, semangat tersebut sesungguhnya telah lama hidup dalam kebudayaan masyarakat Fakfak melalui filosofi “Idu-Idu Maninina Jojor” atau “Satu Tungku Tiga Batu”.
Filosofi tersebut menjadi salah satu kekuatan sosial masyarakat Fakfak dalam menjaga persaudaraan di tengah keberagaman.
“Konsep cinta kasih akan melahirkan keharmonisan. Nilai keharmonisan itu harus diaktualkan di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang beragama,” katanya.
Dorong Masuk Kurikulum Muatan Lokal
Lebih jauh, Samaun mendorong agar sejarah masuknya tiga agama besar di Tanah Papua dapat dimasukkan dalam kurikulum muatan lokal di sekolah.

Menurutnya, pemahaman sejarah penting bagi generasi muda agar mereka tidak kehilangan akar sejarah daerah sekaligus memahami bagaimana keberagaman dan toleransi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Papua sejak dahulu.
“Saya berharap kepada kepala dinas pendidikan dan pemuda olahraga, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten, agar sejarah masuknya tiga agama besar, Islam, Protestan dan Katolik di Tanah Papua menjadi kurikulum muatan lokal yang terintegrasi ke dalam semua mata pelajaran,” ujarnya.

Ia berharap generasi muda tidak hanya mengenal sejarah secara teoritis, tetapi mampu mengambil nilai-nilai persaudaraan dan toleransi yang terkandung di dalamnya untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Peringatan 666 tahun masuknya Islam ke Tanah Papua juga dinilai menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi masyarakat Fakfak. Kegiatan tersebut, kata Samaun, tidak semata-mata menjadi agenda keagamaan, tetapi juga dapat menjadi ruang kebersamaan bagi seluruh elemen masyarakat.

Bupati pun memberikan apresiasi kepada panitia yang telah menggelar berbagai kegiatan dalam rangkaian peringatan, mulai dari lomba hadrat, sawat, bersalawat, baca Yasin, kitab berjanji, ceramah hingga haflah Al-Qur’an.
“Kegiatan ini bersifat tontonan sekaligus tuntunan. Yang dikumandangkan adalah firman Allah dan salawat Nabi. Kegiatan semacam ini harus terus dilaksanakan dalam setiap peringatan masuknya agama Islam ke Tanah Papua,” jelasnya.

Fakfak Punya Warisan Sejarah dan Religi
Dalam kesempatan itu, Samaun juga memperkenalkan sejumlah situs sejarah dan religi yang menjadi bagian dari kekayaan Fakfak.
Di antaranya Masjid Tua Wartutuar di Kampung Patimburak, Distrik Kokas, situs tapak tangan di Distrik Arguni, serta manuskrip Al-Qur’an tua tulisan tangan yang hingga kini masih tersimpan.

Menurutnya, berbagai peninggalan tersebut merupakan kekayaan sejarah yang perlu terus dirawat, dipelajari dan diperkenalkan kepada generasi muda maupun masyarakat luas.
Kehadiran para tokoh agama dan tamu dari berbagai daerah, termasuk Ustaz KH Munawir Aseli, MA., dari Jakarta, diharapkan semakin memperkaya pemahaman masyarakat mengenai pentingnya menghidupkan nilai Rahmatan Lil Alamin dalam kehidupan nyata.
Bagi Fakfak, peringatan 666 tahun masuknya Islam ke Tanah Papua bukan hanya tentang mengenang perjalanan sejarah, tetapi juga tentang bagaimana warisan nilai keagamaan dan budaya diterjemahkan menjadi kekuatan untuk menjaga persaudaraan, kedamaian dan keharmonisan masyarakat di Tanah Papua.

Popular Articles