Top 5 This Week

Related Posts

Jeritan Duka di Bulan Kemerdekaan: Rumah Kayu Kenangan Terakhir Nenek Sani Rata dengan Tanah

Redaksi.co MAMUJU : Ketika negeri ini sedang bersiap merayakan 81 tahun kemerdekaannya, pahitnya rasa merdeka justru harus ditelan mentah-mentah oleh Sani binti Lemponge. Di usianya yang telah senja, wanita lansia itu harus menyaksikan tempatnya berteduh selama puluhan tahun dirobohkan tanpa sisa. Tangis histeris keluarga memecah keheningan Dusun Rea Bussu, Desa Beru-Beru, Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, saat alat berat ekskavator mulai menghancurkan rumah kayu penuh kenangan tersebut pada Kamis (30/7/2026).

Hanya 18 hari menjelang 17 Agustus, tidak ada bendera merah putih yang berkibar dengan bangga di halaman rumah Nenek Sani. Yang tersisa hanyalah puing-puing kayu yang hancur berkeping-keping, dikelilingi pagar kawat berduri dan plang kepemilikan. Ratusan personel gabungan kepolisian, TNI, dan instansi terkait bersiaga, mengawal proses eksekusi perdata yang memenangkan pihak pemohon, Nuryani binti Dulla. Bagi Nenek Sani, hari itu bukan sekadar kehilangan tanah, melainkan eksekusi atas seluruh kenangan hidupnya.

Tanah itu bukan sekadar sebidang lahan. Di atas tanah yang dibeli secara sah oleh almarhum suaminya, Beddu, pada tahun 1997 silam, berdiri gubuk sederhana tempat keluarga kecil ini merajut mimpi. Di rumah tua itulah almarhum suaminya memejamkan mata untuk terakhir kalinya. Bertahun-tahun Nenek Sani memelihara kenangan itu dengan taat membayar pajak sejak 2007, hingga mengantongi Surat Pernyataan Fisik Bidang Tanah (Sporadik) resmi pada 2019. Namun, di hadapan hukum yang mengeksekusi, semua keringat dan bukti legalitas itu seolah tak berharga.

Gubuk tua yang kini rata dengan tanah itu meninggalkan luka mendalam yang tak terobati. Dengan mata yang sembab dan suara bergetar menahan kepedihan yang teramat sangat, Suriani, putri Nenek Sani, menyuarakan jeritan hati yang memilukan.

“Kami meminta pihak pengadilan memberikan keadilan yang seadil-adilnya. Jangan karena mereka orang mampu dan berduit, keadilan serta hukum dapat dibeli, sehingga yang benar disalahkan dan yang salah dibenarkan,” tutur Suriani meratapi takdirnya. “Di mana keadilan dan hukum bagi kami, orang-orang kecil yang tidak punya uang ini? Eksekusi tanpa keadilan adalah pelanggaran hak yang sangat menyakitkan!”

Kini, tidak ada lagi gubuk tempat berlindung dari terik dan hujan. Nenek Sani hanya bisa terduduk menatap puing-puing kenangan bersama almarhum suaminya yang telah hancur dilindas besi-besi dingin alat berat. Di tengah riuh persiapan pesta kemerdekaan bangsa, seorang wanita tua yang ringkih kini meratapi nasibnya di atas tanahnya sendiri—bertanya-tanya dalam diam, apakah masih ada secercah nurani dan keadilan bagi rakyat kecil seperti dirinya. (ZUL)

Popular Articles