MAMUJU, Redaksi.co– Direktur rumah sakit menegaskan komitmennya melakukan reformasi menyeluruh terhadap pelayanan kesehatan dengan menempatkan etika, kedisiplinan, dan sikap humanis sebagai fondasi utama. Pembenahan tidak hanya menyasar sarana dan prasarana, tetapi juga perubahan pola pikir seluruh tenaga kesehatan agar pelayanan kepada masyarakat semakin profesional.
Menurutnya, setiap tenaga medis maupun nonmedis akan dievaluasi secara berkala. Pegawai yang tidak menunjukkan perbaikan setelah diberikan kesempatan akan dikenai rotasi hingga penggantian demi menjaga mutu pelayanan.
Ia menyoroti masih adanya perilaku tenaga kesehatan yang dinilai kurang mengedepankan etika dalam melayani pasien. Bahkan, dirinya mengaku turun langsung menegur petugas yang membuat pasien menunggu tanpa alasan yang jelas. “Pelayanan harus cepat, ramah, dan menghargai pasien. Jangan sampai masyarakat merasa diabaikan,” tegasnya.
Sebagai bentuk transparansi, rumah sakit kini menerapkan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) berbasis digital melalui barcode yang tersedia di setiap unit pelayanan. Pasien maupun keluarga dapat langsung menyampaikan kritik, saran, maupun keluhan yang kemudian menjadi bahan evaluasi rutin setiap bulan.
Hasil evaluasi sementara menunjukkan tingkat ketidakpuasan masyarakat masih berada di kisaran 14 hingga 15 persen. Meski demikian, Direktur menilai setiap masukan harus ditindaklanjuti sebagai bahan perbaikan berkelanjutan.
Selain pembenahan pelayanan, Direktur juga menekankan pentingnya ketelitian dalam administrasi, khususnya penginputan data BPJS. Ia mengingatkan bahwa kesalahan administrasi dapat berdampak besar terhadap pasien, bahkan berpotensi menghambat pelayanan dan pembiayaan kesehatan.
Dalam kesempatan itu, ia mengajak seluruh jajaran rumah sakit mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan yang menurutnya sempat memudar pascapandemi COVID-19. Empati, komunikasi yang baik, serta kepedulian terhadap kondisi pasien harus kembali menjadi budaya kerja di lingkungan rumah sakit.
“Rumah sakit bukan sekadar tempat berobat, tetapi tempat masyarakat mencari harapan. Karena itu, setiap pasien harus dilayani dengan hati, menghormati martabatnya, dan memastikan keselamatan pasien selalu menjadi prioritas utama,” pungkasnya.

