JAKARTA – Terminal Kalideres terus meningkatkan kebersihan lingkungan melalui kegiatan bersih-bersih rutin yang dilaksanakan setiap Jumat. Program tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan kawasan terminal yang nyaman sekaligus mendukung pengurangan sampah dan penghijauan lingkungan.

Kepala Terminal Kalideres, Nur Prasetyo, mengatakan kegiatan rutin itu dilakukan sebagai respons atas laporan masyarakat terkait kebersihan terminal, termasuk keluhan mengenai bau tidak sedap yang disebabkan oleh perilaku buang air kecil sembarangan.

“Kegiatan bersih-bersih ini kami laksanakan secara rutin setiap Jumat sebagai bentuk komitmen menjaga kebersihan lingkungan terminal. Kami juga terus mengimbau para pengemudi agar menggunakan fasilitas toilet yang telah tersedia sehingga kenyamanan dan kebersihan area terminal dapat tetap terjaga,” ujar Nur Prasetyo, Jumat (12/6).

Selain membersihkan area terminal, pengelola jugamenyiapkan sejumlah program penataan lingkungan. Terminal Kalideres berencana menanam 19 pohon, melanjutkan pengecatan marka yang mulai memudar, serta menambah rambu petunjuk untuk meningkatkan kenyamanan dan keselamatan pengguna terminal.

“Pada bulan ini kami berencana melakukan penanaman 19 pohon di area terminal. Sebelumnya kami juga telah melakukan pengaspalan, dan selanjutnya akan dilakukan pengecatan marka yang mulai memudar serta penambahan rambu-rambu petunjuk untuk meningkatkan kenyamanan dan keselamatan pengguna terminal,” katanya.

Kegiatan tersebut melibatkan berbagai pihak, termasuk Dinas Pertamanan dan petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU). Bersamaan dengan itu, Terminal Kalideres juga menyosialisasikan pemilahan sampah kepada para pedagang sesuai kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Lurah Kalideres, Rizky Raya Dwiputra, mengatakan edukasi pemilahan sampah terus dilakukan melalui berbagai unsur masyarakat, mulai dari RT, RW, LMK, PKK, Dasawisma hingga kader Jumantik.

“Kami terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait pentingnya pemilahan sampah dari sumber. Target kami, setiap RT dapat mengajak minimal lima rumah tangga setiap bulan untuk mulai memilah sampah. Dengan langkah bertahap ini, kami berharap pada Agustus mendatang sekitar seribu rumah tangga di wilayah Kalideres sudah menerapkan pemilahan sampah,” ujar Rizky.

Menurutnya, masyarakat juga mulai diberikan pemahaman mengenai pengolahan sampah organik menjadi kompos agar volume sampah yang dikirim ke TPST Bantar Gebang dapat berkurang.

“Dengan pengolahan sampah organik menjadi kompos, volume sampah yang dibawa ke Bantar Gebang dapat berkurang. Ini merupakan langkah nyata dalam mendukung pengurangan sampah dari sumber serta menciptakan lingkungan yang lebih berkelanjutan,” tuturnya.