Top 5 This Week

Related Posts

Jeritan Sungai Lumu: Pemuda Barakkang Desak Penindakan Tegas Terhadap Perusak Lingkungan

Redaksi.co MATENG : Ekosistem Sungai Lumu di Desa Barakkang kini berada di ambang kehancuran total. Aliran air yang dulunya menjadi urat nadi kehidupan, kini berubah menjadi saksi bisu kebrutalan aktivitas korporasi yang diduga kuat melakukan eksploitasi ugal-ugalan dan pencemaran lingkungan tanpa kendali.

Gerah melihat alamnya “diperkosa” demi keuntungan sepihak, kelompok pemuda setempat akhirnya habis kesabaran. Mereka melayangkan tamparan keras kepada Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kabupaten Mamuju Tengah maupun Provinsi Sulawesi Barat yang dinilai menutup mata.

Ekosistem Sungai Lumu adalah sumber kehidupan kami. Jika ini dihancurkan, mereka tidak hanya merusak alam, tapi juga membunuh perlahan ekonomi dan kesehatan warga! Kami menantang DLHK Sulbar, jangan diam dan bersembunyi!” seru Wardian, tokoh pemuda Desa Barakkang dengan nada berapi-api.

Wardian membongkar borok birokrasi yang memicu pembiaran ini. Ia menilai, kerusakan parah ini terjadi akibat hilangnya nyali aparat berwenang dalam menegakkan hukum. Regulasi perlindungan lingkungan hidup yang mentereng di atas kertas, nyatanya melempem di lapangan saat berhadapan dengan kekuatan modal korporasi.

Ada kesan kuat bahwa lemahnya pengawasan sengaja dipelihara, membiarkan pelaku perusakan lingkungan melenggang bebas tanpa sanksi.

Tuntutan Garis Keras Pemuda Barakkang:

Investigasi Total Tanpa Kompromi: Seret dan periksa seluruh aktivitas korporasi yang menjadi dalang kehancuran Sungai Lumu.

Hukum Mati Korporasi Nakal: Tegakkan hukum tanpa pandang bulu, cabut izin bagi pihak yang terbukti melanggar.

Rehabilitasi Harga Mati: Pemerintah dan perusahaan wajib memulihkan total kondisi Sungai Lumu, mengembalikan hak atas air bersih warga.

Peringatan Terakhir: Bergerak atau Krisis Meledak!

Rilis ini bukan sekadar keluhan biasa, melainkan alarm bahaya dan peringatan keras langsung ke jantung pertahanan DLHK. Jika pemerintah daerah terus memilih bersikap abai dan “mandul” dalam bertindak, krisis ekologis besar hanya tinggal menunggu waktu untuk meledak di Sulawesi Barat.

Warga Barakkang kini menuntut satu hal: Ketegasan nyata, bukan sekadar janji manis di balik meja birokrasi! (ZUL)

Popular Articles