Top 5 This Week

Related Posts

Butuh Ketepatan Data Medis,RSUDMA Sumenep Gelar Pelatihan Validasi Data

Demi memperkuat sistem keselamatan pasien di tengah tuntutan pelayanan kesehatan yang semakin cepat dan akurat,Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Moh. Anwar (RSUDMA) Sumenep, terus melakukan pembenahan sistem validasi data medis.

Salah satunya melalui Pelatihan Validasi Data yang digelar di Ruang Pertemuan Smiley lantai 3 rumah sakit beberapa waktu lalu. Kegiatan itu, difokuskan untuk meningkatkan mutu pelayanan sekaligus memperketat pengawasan terhadap potensi kesalahan medis akibat data yang tidak akurat.

Direktur RSUDMA Sumenep, dr. Erliyati M.Kes, mengatakan pelayanan rumah sakit modern tidak cukup hanya mengutamakan kecepatan layanan, tetapi juga harus dibangun di atas ketepatan data medis dalam setiap proses pelayanan pasien.

“Rumah sakit modern tidak lagi hanya bertumpu pada kecepatan layanan, tetapi harus berdiri di atas ketepatan data sebagai dasar setiap keputusan klinis,” ujar dr. Erliyati, Jumat (29/05/26).

Menurutnya, validasi mutu menjadi bagian penting dalam sistem pengawasan rumah sakit karena mencakup seluruh proses pelayanan, mulai dari prosedur medis, penggunaan alat kesehatan, sistem layanan, hingga hasil akhir yang diterima pasien.

Ia menjelaskan, validasi dilakukan secara berkelanjutan melalui proses pengukuran, evaluasi, hingga pembuktian ulang agar standar pelayanan tetap berjalan konsisten dan dapat dipertanggung jawabkan.

“Tanpa validasi yang kuat, risiko kesalahan medis, infeksi rumah sakit, hingga kejadian tidak diharapkan bisa meningkat dan berdampak langsung pada keselamatan pasien,” katanya.

RSUDMA Sumenep menilai kesalahan data sekecil apa pun dapat memengaruhi pengambilan keputusan klinis dan berpotensi membahayakan kondisi pasien. Karena itu, validasi data kini menjadi salah satu prioritas utama dalam sistem perlindungan pasien di lingkungan rumah sakit.

Dalam pelatihan tersebut, sejumlah sektor pelayanan menjadi perhatian khusus, mulai dari proses pendaftaran pasien, layanan rawat inap, tindakan operasi, hingga pemberian obat-obatan. Seluruh tahapan pelayanan itu disebut harus berada dalam pengawasan mutu yang ketat.

Selain itu, rumah sakit juga memperkuat validasi alat kesehatan untuk memastikan seluruh perangkat medis bekerja secara presisi melalui kalibrasi dan pengujian rutin.

“Validasi alat kesehatan juga menjadi perhatian serius untuk memastikan seluruh perangkat medis bekerja presisi melalui kalibrasi dan pengujian rutin,” jelasnya.

Tak hanya alat kesehatan, ketelitian terhadap rekam medis dan dokumentasi pelayanan juga diperkuat karena menjadi dasar dalam penyusunan indikator mutu rumah sakit. Program keselamatan pasien turut menjadi fokus, terutama terkait identifikasi pasien, pencegahan infeksi rumah sakit, dan pengawasan penggunaan obat-obatan berisiko tinggi.

“Seluruh proses validasi dilakukan secara sistematis mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, analisis data, hingga tindak lanjut perbaikan terhadap setiap ketidaksesuaian yang ditemukan dalam pelayanan,” terangnya.

Saat ini, RSUDMA Sumenep terus melakukan pemantauan terhadap berbagai indikator mutu pelayanan, seperti angka infeksi rumah sakit, waktu tunggu pasien, tingkat kepuasan pasien, ketepatan pemberian obat, angka pasien jatuh, hingga keberhasilan tindakan operasi.

Meski demikian, pihak rumah sakit mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam penerapan sistem validasi, mulai dari keterbatasan sumber daya manusia, belum optimalnya digitalisasi layanan, hingga budaya ketelitian data yang masih perlu diperkuat di sejumlah unit pelayanan.

Namun, dr. Erliyati memastikan kualitas pelayanan dan keselamatan pasien tetap menjadi prioritas utama tanpa kompromi.

“Tidak ada toleransi untuk data yang salah, tidak ada ruang untuk prosedur yang tidak tervalidasi, dan tidak ada kelonggaran terhadap risiko yang mengancam keselamatan pasien,” tegasnya.

Ia berharap pelatihan validasi data dapat meningkatkan kemampuan para validator mutu di setiap unit pelayanan agar seluruh proses pelayanan kesehatan berjalan lebih akurat, aman, dan konsisten bagi pasien.

“Keselamatan pasien bukan sekadar target layanan, tetapi komitmen yang dimulai dari satu hal paling mendasar, yakni kebenaran data,” pungkasnya.

(HR)

Popular Articles