Redaksi.co MAMASA : Dunia pendidikan di Mamasa kembali tercoreng oleh dugaan tindakan tak manusiawi yang menyeret nama SMAN 1 Aralle. Seorang oknum pendidik diduga kuat telah melakukan perundungan verbal brutal terhadap siswanya sendiri, tindakan yang kini memantik kemarahan publik dan gelombang protes keras dari PC PMII Mamasa.
Bukan sekadar teguran biasa, dugaan ucapan yang dilontarkan oknum guru itu disebut sangat merendahkan martabat seorang anak. Korban disebut dihina dengan kalimat yang menohok sisi kemanusiaan: “miskin”, “anak penjual kue”, hingga “tidak punya orang tua”. Ucapan itu diduga disampaikan di lingkungan sekolah, tempat yang seharusnya menjadi ruang aman bagi siswa untuk tumbuh dan belajar, bukan arena penghancuran mental.
Bagi PMII Mamasa, peristiwa ini bukan lagi persoalan etika mengajar semata, melainkan bentuk kekerasan psikologis yang berpotensi menghancurkan masa depan anak didik.
“Guru adalah orang tua kedua, bukan predator mental. Sangat menjijikkan melihat seorang pendidik justru mempermalukan siswanya karena latar belakang ekonomi,” tegas Mondy, salah satu kader PMII Mamasa.
Ledakan kritik pun tak terbendung. PMII Mamasa menilai tindakan tersebut telah mencoreng wajah pendidikan di Sulawesi Barat dan memperlihatkan adanya krisis empati di dunia sekolah. Mereka mempertanyakan bagaimana mungkin seorang guru yang seharusnya mendidik dengan hati justru menggunakan status sosial murid sebagai bahan penghinaan.
“Kalau seorang guru merasa lebih tinggi hanya karena memegang kapur tulis sementara muridnya berjualan kue demi bertahan hidup, maka ia telah gagal menjadi manusia sebelum gagal menjadi pendidik,” bunyi pernyataan keras aktivis PMII.
Tak ingin kasus ini tenggelam begitu saja, PMII Mamasa mendesak pihak sekolah dan Dinas Pendidikan melakukan langkah tegas tanpa kompromi. Mereka menuntut evaluasi total terhadap oknum guru bersangkutan, termasuk kemungkinan pencopotan jabatan dan sanksi berat apabila dugaan tersebut terbukti benar.
Selain itu, PMII juga meminta agar korban segera mendapat pendampingan psikologis untuk memulihkan trauma akibat dugaan penghinaan yang dialaminya di ruang pendidikan sendiri. Mereka juga mendesak adanya permohonan maaf terbuka dari oknum guru karena dinilai telah merusak marwah profesi pendidik.
Kasus ini kini menjadi sorotan serius masyarakat. Publik menunggu apakah pihak sekolah akan berdiri di sisi korban atau justru membiarkan budaya perundungan tumbuh di balik seragam dan ruang kelas.
Satu hal yang pasti, kemiskinan bukan dosa, dan sekolah seharusnya menjadi tempat memuliakan mimpi anak-anak, bukan tempat membunuh harga diri mereka. (ZUL)

