Redaksi.co MAMASA : Dunia pendidikan di Kabupaten Mamasa kembali diguncang sorotan tajam. Isu dugaan adanya perilaku guru yang dianggap menghina murid di SMA 1 Aralle kini ramai diperbincangkan publik dan memantik gelombang kritik dari berbagai kalangan.
Persoalan ini mencuat setelah beredar pesan moral yang menegaskan bahwa seorang guru tidak seharusnya merendahkan, mencemooh, atau mempermalukan siswa hanya karena kemampuan akademik yang dianggap lemah. Di tengah tuntutan pendidikan modern yang humanis, tindakan seperti itu dinilai mencederai nilai dasar seorang pendidik.
Sekolah yang semestinya menjadi ruang aman untuk belajar justru dikhawatirkan berubah menjadi tempat yang menimbulkan tekanan mental bagi siswa apabila praktik penghinaan masih terjadi.
“Guru seharusnya menjadi pembimbing, bukan sumber ketakutan bagi murid,” tegas Nur Asri, Ketua Kopri PMII Mamasa.
Menurutnya, setiap anak lahir dengan kemampuan dan karakter yang berbeda-beda. Ada siswa yang cepat memahami pelajaran, namun ada pula yang membutuhkan pendekatan lebih sabar dan penuh perhatian. Karena itu, memberi label “bodoh” kepada murid dianggap bukan solusi pendidikan, melainkan bentuk kegagalan memahami psikologi peserta didik.
Sorotan publik semakin tajam karena masih adanya anggapan bahwa sebagian oknum guru menggunakan kata-kata kasar, bentakan, hingga cemoohan sebagai cara mendisiplinkan siswa. Bahkan, tindakan tersebut disebut dapat meninggalkan luka batin yang membekas dalam jangka panjang.
Di lingkungan pendidikan sendiri, guru sejatinya memegang amanah besar untuk membina karakter dan masa depan generasi muda. Perbedaan kemampuan belajar murid seharusnya menjadi tantangan profesional seorang pendidik, bukan alasan untuk mempermalukan mereka di depan umum.
Tokoh cendekiawan Muslim Indonesia, KH Bahaudin Nursalim, pernah menyampaikan bahwa pintar dan bodoh adalah bagian dari ketentuan Tuhan. Yang tidak memiliki keberkahan, menurutnya, adalah perilaku buruk manusia yang menyakiti sesama.
Pernyataan itu kini kembali digaungkan sebagai pengingat keras bahwa tugas guru bukan menghakimi keterbatasan murid, melainkan membantu mereka tumbuh dan berkembang sesuai kemampuan masing-masing.
Masyarakat pun berharap dunia pendidikan di Mamasa, khususnya di SMA 1 Aralle, benar-benar mengedepankan pendekatan yang lebih manusiawi, edukatif, dan penuh empati agar sekolah tetap menjadi tempat yang nyaman, aman, dan membangun harapan bagi setiap siswa. (ZUL)

