Debut Sutradara Gerald Mamahit, Santara Rilis Teaser Trailer Film Horor “Songko” Legenda Minahasa

0
5

Industri perfilman Indonesia kembali diramaikan oleh film horor yang terinspirasi dari legenda lokal. Dunia Mencekam Studio bekerjasama dengan Rumah Produksi Santara resmi memperkenalkan film perdananya berjudul “Songko”, yang diangkat dari kisah legenda yang berkembang di masyarakat Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa dan Tomohon. Bersamaan dengan pengumuman ini, juga merilis teaser trailer perdana film Songko, yang menghadirkan nuansa mencekam dari teror misterius yang menghantui sebuah desa di kaki Gunung Lokon.

Film Songko menjadi debut penyutradaraan Gerald Mamahit di layar lebar. Sebelumnya, Gerald dikenal sebagai penulis skenario di sejumlah film horror populer. Melalui film ini, Gerald tidak hanya menghadirkan kisah horor yang menegangkan, tetapi juga mencoba menggali kekayaan cerita rakyat dari Indonesia Timur. “Songko adalah cerita yang sangat dekat dengan budaya dan legenda masyarakat Minahasa. Kami ingin menghadirkan horor yang terasa autentik, bukan hanya menakutkan secara visual, tetapi juga memiliki akar cerita yang kuat dari tradisi lokal,” ujar Gerald Mamahit.

Film ini sendiri lahir dari gagasan Rumah Produksi Santara yang melihat besarnya potensi cerita-cerita daerah di Indonesia yang masih jarang diangkat ke layar lebar. Melalui proyek ini, Santara berupaya menggandeng talenta-talenta lokal untuk menceritakan kisah dari daerah mereka sendiri, sehingga cerita yang dihadirkan terasa lebih autentik dan memiliki kedekatan budaya yang kuat. Pendekatan ini juga menjadi bagian dari visi Santara untuk membangun ruang kolaborasi antara industri film nasional dengan para kreator daerah.

Film Songko dibintangi oleh Annette Edoarda, Imelda Therinne, Fergie Brittany, Tegar Satria, dan Khiva Iskak, yang akan membawa penonton masuk ke dalam atmosfer misteri dan ketakutan yang menyelimuti sebuah desa di Tomohon.

Bagi Khiva Iskak, keterlibatannya dalam film ini menjadi pengalaman yang sangat berbeda karena cerita yang diangkat terasa begitu dekat dengan kehidupan masyarakat setempat. “Yang membuat film ini menarik adalah karena kisahnya berasal dari legenda yang benar-benar dipercaya oleh masyarakat. Saat menjalani proses syuting di Tomohon, suasananya terasa sangat kuat dan mendukung atmosfer cerita. Itu membuat pengalaman bermain di film ini terasa sangat intens,” ungkap Khiva Iskak.

Sementara itu, Annette Edoarda mengaku tertarik bergabung dalam film ini karena kekuatan ceritanya yang berbeda dari horor kebanyakan. “Songko bukan hanya film horor biasa. Ceritanya tentang ketakutan, tuduhan, dan bagaimana sebuah desa bisa terpecah karena teror yang tidak mereka pahami. Itu yang membuat cerita ini terasa sangat emosional sekaligus mencekam,” kata Annette Edoarda.

Sebagai bentuk komitmen terhadap konsep hyperlocal storytelling, Santara tidak hanya menjadikan Sulawesi Utara sebagai latar cerita. Tim produksi bahkan membangun area set lokasi syuting di kaki Gunung Lokon, Tomohon, yang dirancang bukan sekadar instalasi sementara, melainkan sebagai infrastruktur kreatif berkelanjutan.

Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem perfilman daerah dalam jangka panjang. Sebagian besar cast dan crew yang terlibat dalam produksi Songko juga berasal dari Minahasa, Manado, dan Tomohon, sehingga proyek ini menjadi ruang kolaborasi bagi talenta-talenta lokal untuk terlibat langsung dalam produksi film layar lebar.

Film Songko berlatar tahun 1986, sebuah desa di Tomohon, tanah Minahasa, dilanda teror yang membuat warganya hidup dalam ketakutan. Satu per satu perempuan muda ditemukan tewas secara mengenaskan tanpa penjelasan yang pasti. Warga desa mulai percaya bahwa kematian tersebut bukanlah kejadian biasa. Mereka meyakini bahwa desa mereka didatangi oleh Songko, makhluk misterius yang dipercaya mengincar darah suci dari perempuan muda demi memperoleh kekekalan.