Redaksi.co, Jakarta | Kepolisian dari Polda Metro Jaya masih menyelidiki kasus penyiraman cairan berbahaya yang menimpa aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan, Andrie Yunus. Peristiwa tersebut terjadi di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, pada Kamis (12/3) sekitar pukul 23.37 WIB.
Kapolda Metro Jaya, Asep Edi Suheri, menegaskan bahwa penanganan kasus dilakukan secara profesional dan transparan. “Kepolisian memandang setiap peristiwa kekerasan yang menimbulkan korban sebagai hal serius, sehingga penanganannya dilakukan secara cepat, profesional, dan terukur,” ujarnya.
Peristiwa ini bermula ketika korban pulang dari kegiatan podcast di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia. Sebelum kejadian, korban sempat mengisi bahan bakar di SPBU Cikini Raya.
Berdasarkan hasil penyelidikan awal, polisi menduga korban telah diikuti oleh empat orang pelaku yang menggunakan dua sepeda motor sejak dari kawasan Cikini. Para pelaku kemudian membuntuti korban hingga ke Jalan Diponegoro dan Salemba.
Setibanya di lokasi kejadian, pelaku yang belum diketahui identitasnya langsung menyiramkan cairan yang diduga mengandung zat kimia berbahaya ke arah wajah dan tubuh korban. Setelah melakukan aksinya, pelaku melarikan diri ke arah berbeda.
Untuk mengungkap kasus ini, polisi menelusuri rekaman kamera pengawas dari 86 titik CCTV dengan total durasi lebih dari 10.000 menit. Selain itu, sejumlah barang bukti telah diamankan, antara lain pakaian korban, sisa cairan di lokasi, serta helm yang diduga milik pelaku.
Seluruh barang bukti tersebut kini diperiksa di laboratorium forensik guna mengetahui kandungan zat kimia serta kemungkinan adanya sidik jari dan DNA.
Hasil pemeriksaan medis di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo menunjukkan korban mengalami luka bakar pada wajah, dada, dan kedua tangan.
Sejauh ini, polisi telah memeriksa tujuh orang saksi yang berada di sekitar lokasi kejadian. Pihak kepolisian juga mengimbau masyarakat untuk tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di media sosial terkait identitas pelaku.
“Beberapa gambar yang beredar diduga merupakan hasil rekayasa menggunakan teknologi kecerdasan buatan dan belum dapat dipastikan kebenarannya,” kata Asep.
Hingga kini, penyelidikan masih berlangsung. Polisi berharap dukungan masyarakat agar pelaku segera terungkap dan dapat ditangkap.







