Redaksi.co, Jakarta | Tiga hari berturut yakni (6,7,8) Maret 2026, Rentetan aksi unjuk rasa mahasiswa dari Universitas Indonesia, LSM, massa buruh dan beberapa kampus di Jakarta, berlangsung lancar dan kondusif. Hal ini adanya sambutan dari jajaran Kepolisian Negara Republik Indonesia menunjukkan pola penanganan aksi yang patut diapresiasi.

Dalam menyambut unjuk rasa, aparat kepolisian hadir dengan pendekatan yang lebih humanis dan tampil lebih bersahabat menggunakan kopeah dan sorban dalam suasana romadhon membawa kesan adem, tanpa formasi represif yang menimbulkan kesan intimidatif.

Dalam orasinya, Kawan-kawan Mahasiswa dan Ormas, massa Buruh di Jakarta menyampaikan aspirasi mengecam agresi Amerika terhadap Iran dan melakukan orasi secara bergantian.

Dalam orasinya Mereka meminta Presiden Prabowo agar keluar dari keanggotaan Board of Peace (BoP) yang baru dibentuk oleh Presiden Amerika, Donald Trump. Massa aksi dijaga oleh aparat kepolisian yang tampil lebih persuasif dan tidak menimbulkan suasana tegang.

Pendekatan humanis Polri tersebut menciptakan ruang dialog yang lebih sejuk serta meminimalisir potensi gesekan antara aparat dan mahasiswa.

Sebagai bagian dari organisasi Pemuda dan Mahasiswa, kami turut kecewa terhadap arogansi Amerika mengintervensi negara lain termasuk melakukan penyerangan terhadap Iran, yang hingga perang semakin massif terjadi serangan kewilayah-wilayah negara lain

Dengan kondisi tersebut tentu wajar LSM, Ormas dan Mahasiswa mendesak agar Presiden Prabowo keluar dari Board of Peace yang baru dibentuk oleh Presiden Amerika, karena Amerika justru pemicu perang.

Ketum Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Claudian Kanigia mengapresiasi pendekatan humanis Polri dalam menghadapi massa aksi unjuk rasa, hal ini perlu dijadikan role model dalam penanganan aksi unjuk rasa di masa mendatang.

“Keamanan dan ketertiban umum dapat tetap terjaga tanpa harus mengedepankan pendekatan represif,” ujar Claudian dalam pernyataan pers-nya, Rabu, 11 Maret 2026.

Lanjut kata Claudian, Kami berharap semoga pola pendekatan humanis yang ditunjukkan oleh Polri di Mabes Polri tersebut dapat diterapkan secara konsisten oleh seluruh jajaran kepolisian di berbagai wilayah Indonesia.

“Pendekatan persuasif, dialogis, dan menghormati hak asasi manusia akan memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian serta menjaga kualitas demokrasi di negeri ini,” pungkas Ketum LMND, Claudian Kanigia, menutup.