Redaksi.co, Jakarta | Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) menyampaikan keprihatinan atas meningkatnya gejala keretakan sosial di Indonesia pada awal 2026. CDCC menilai ketidakadilan ekonomi, politik identitas, serta ketegangan sosial berpotensi mengancam kerukunan dan persatuan nasional.
Ketua CDCC Prof. Dr. M. Din Syamsuddin menyebut kemajemukan bangsa Indonesia sebagai ketetapan dan karunia Ilahi yang harus dirawat secara sadar.
“Kemajemukan Bangsa Indonesia adalah ketetapan dan karunia Ilahi. Kita tidak pernah berpikir untuk terlahir dalam keragaman agama, suku, bahasa, dan budaya. Maka adalah kewajiban kita untuk merawat dan mengembangkannya untuk kemajuan bangsa,” ujarnya dalam jumpa pers di Hotel Grand Sahid Jaya, Selasa (13/1).
CDCC menyoroti meningkatnya ketidakpuasan publik yang tercermin dari gelombang demonstrasi pada Agustus hingga September 2025, yang dipicu persoalan ekonomi, ketimpangan sosial, dan kebijakan publik. Sentimen SARA dinilai mudah dimanfaatkan apabila ketegangan horizontal di masyarakat bertemu dengan ketidakpercayaan terhadap pemerintah.
Meski pertumbuhan ekonomi nasional relatif stabil, CDCC menilai kualitas pertumbuhan masih rendah dan belum sepenuhnya menjawab persoalan pengangguran serta kesenjangan.
“Pertumbuhan ekonomi harus berkeadilan. Jika ketimpangan dibiarkan, ketegangan sosial akan meningkat dan dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menciptakan kekacauan politik,” tegas Din.
CDCC juga menyampaikan pentingnya dialog, kolaborasi global yang berkeadilan, serta keberpihakan pada nilai-nilai kemanusiaan universal. Sejumlah agenda telah disiapkan, antara lain peringatan World Interfaith Harmony Week, International Day of Human Fraternity, Dialog Pemuda Lintas Agama ASEAN, dan Majelis Cendekiawan Madani Malaysia-Indonesia.
Menutup pernyataannya, CDCC berharap bangsa Indonesia mampu merajut kemajemukan untuk menjaga kerukunan dan mendorong kemajuan nasional.







