Jember, redaksi.co – Di tengah gempuran pembangunan kota, sebuah petak sawah mungil seluas 300 meter persegi mencuri perhatian warga Kencong, Jember bagian selatan. Terletak strategis di pinggir jalan provinsi, tepatnya di Desa Kraton, lahan ini tampak seperti oase hijau yang tersisa, terjepit antara gemerlap Mall Larisso dan padatnya deretan perumahan (14/06/2025).
Lahan pertanian unik ini dikelola oleh Misidi, yang mengungkapkan bahwa sawah tersebut merupakan milik pribadi seorang warga Jember bernama Bu Teti. “Dulu ini hamparan sawah yang luas, sekarang tinggal secuil saja—20 kali 15 meter. Sisanya sudah jadi gudang dan bangunan lain,” tuturnya saat ditemui di lokasi.
Pemandangan sawah yang masih aktif di tengah hiruk-pikuk kota memang terasa janggal sekaligus menyentuh. Sisi barat lahan kini sudah berubah menjadi kawasan perumahan, sementara sisi timur dan selatannya berdampingan langsung dengan pusat perbelanjaan modern.

Kondisi ini mengundang beragam respons dari masyarakat. Banyak yang menyebut sawah mini ini sebagai “napas terakhir” ruang hijau di tengah kota, simbol keteguhan di tengah gelombang alih fungsi lahan yang masif. “Ini seperti sisa sejarah yang belum tergilas beton,” kata salah satu warga.
Namun, di sisi lain, keberadaan lahan ini juga menimbulkan pertanyaan serius soal arah kebijakan tata ruang di Kecamatan Kencong. Sejumlah warga khawatir, jika tidak ada perlindungan atau kebijakan jelas, sisa sawah ini pun bisa hilang dalam waktu dekat.
Keberadaan lahan pertanian yang tersisa ini pun menjadi cermin dari persoalan yang lebih luas: antara kebutuhan pembangunan dan pentingnya mempertahankan ruang hidup yang lestari. Apakah sawah mini di Kencong ini akan terus bertahan? Atau justru tinggal cerita di masa depan? (Sofyan)






