Warga Dusun Pangkali Mengamuk, Jalan Rusak Parah, Dana Desa Dipertanyakan

0
25

Redaksi.co MAMASA : Di saat pemerintah gencar menggembar-gemborkan pembangunan infrastruktur lewat alokasi Dana Desa, ironi justru terjadi di Dusun Pangkali, Desa Kalakbe. Alih-alih menikmati hasil pembangunan, puluhan warga terpaksa turun tangan sendiri memperbaiki jalan dan jembatan rusak parah secara swadaya pada Sabtu (28/2/2026).

Akses utama yang menghubungkan Dusun Pangkali dengan pusat Desa Kalakbe berubah menjadi “jalur maut”. Lubang menganga, badan jalan berlumpur, serta jembatan yang mulai rapuh menjadi ancaman nyata bagi keselamatan warga. Anak-anak sekolah harus bertaruh nyawa setiap hari, sementara petani dipaksa menanggung biaya angkut hasil panen yang melonjak akibat kondisi jalan yang tak layak.

Kegeraman warga memuncak setelah berbagai pengajuan perbaikan dinilai tak kunjung mendapat respons serius dari pemerintah desa. Di tengah derasnya aliran Dana Desa yang digelontorkan negara, Dusun Pangkali merasa seperti anak tiri pembangunan.

“Kami tidak bisa terus menunggu. Jalan ini urat nadi ekonomi kami. Kalau dibiarkan, kami yang sengsara. Anak-anak terancam, hasil tani pun merugi,” tegas Ading, salah satu tokoh masyarakat, dengan nada kecewa.

Tanpa menunggu kepastian anggaran, warga sepakat mengumpulkan donasi sukarela. Uang tunai, pasir, batu, hingga material seadanya dikumpulkan demi menambal lubang dan memperkuat jembatan yang nyaris ambruk. Gotong royong pun digelar, dari pagi hingga sore, sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakpastian.

Namun, perbaikan darurat ini hanyalah solusi tambal sulam. Warga sadar, tanpa sentuhan teknis dan dukungan anggaran resmi, jalan tersebut berpotensi kembali rusak dalam waktu singkat.

Kini sorotan tertuju pada Pemerintah Desa Kalakbe dan Pemerintah Kabupaten Mamasa. Publik menanti jawaban: ke mana arah prioritas pembangunan selama ini? Warga Dusun Pangkali menuntut hak yang sama atas infrastruktur layak, dan berharap pada tahun anggaran mendatang aspirasi mereka benar-benar diprioritaskan dalam Musrenbangdes.

Satu hal yang pasti, aksi swadaya ini menjadi tamparan keras sekaligus pesan tegas, ketika negara lamban (ZUL)