Umat Katolik Fakfak Rayakan Minggu Palma, Awali Pekan Suci dengan Khidmat.

0
52

Fakfak, Redaksi.co — Umat Katolik di seluruh dunia merayakan Hari Minggu Palma pada Minggu, 29 Maret 2026, sebagai penanda dimulainya Pekan Suci, rangkaian perayaan iman menuju Hari Raya Paskah.

Perayaan ini mengenangkan peristiwa masuknya Yesus Kristus ke Kota Yerusalem yang disambut meriah oleh umat dengan daun palma dan sorak pujian.

Di Paroki Santo Yosep Fakfak, perayaan berlangsung khidmat sejak pagi hari. Misa yang dipimpin Pastor Alex Ferbianus dimulai pukul 08.00 WIT, diawali dengan pemberkatan daun palma di taman doa yang terletak di belakang gereja, kemudian dilanjutkan dengan perarakan umat menuju ke dalam gereja.

Dalam khotbahnya, Pastor Alex mengajak umat untuk tidak hanya memaknai Minggu Palma sebagai perayaan sukacita, tetapi juga sebagai pintu masuk untuk merenungkan perjalanan penderitaan Yesus menuju wafat di kayu salib.

“Hari ini kita mengenangkan bagaimana Tuhan Yesus memasuki Kota Yerusalem dan disambut sebagai Raja. Namun, sambutan itu tidak berlangsung lama. Ia kemudian mengalami penolakan, penderitaan, bahkan wafat di kayu salib,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa Minggu Palma bukan sekadar simbol kemenangan, tetapi juga momentum refleksi atas dinamika sikap manusia yang dapat berubah dari memuji menjadi menolak.

“Betapa menyakitkan ketika seseorang yang sebelumnya diterima dengan baik, kemudian ditolak, bahkan oleh orang-orang terdekatnya. Itulah yang dialami Tuhan Yesus,” lanjutnya.

Meski cuaca sempat mendung, umat tetap antusias mengikuti seluruh rangkaian ibadah. Perarakan daun palma berlangsung tertib dan penuh penghayatan, mencerminkan semangat umat Yerusalem yang dahulu menyambut Yesus dengan sukacita.

Perayaan Minggu Palma di Fakfak juga mencerminkan kehidupan iman umat Katolik di Papua Barat yang tetap menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan kekhidmatan. Tradisi membawa daun palma atau janur menjadi simbol kemenangan sekaligus kerendahan hati, meneladani Yesus yang datang dalam kesederhanaan.

Secara liturgis, Minggu Palma juga diwarnai dengan pembacaan kisah sengsara Tuhan, yang mengantar umat memasuki peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah keselamatan, mulai dari pengkhianatan Yudas, Perjamuan Malam Terakhir, doa di Taman Getsemani, hingga wafat Yesus di salib.

Pastor Alex pun mengingatkan bahwa penderitaan bukanlah akhir dari segalanya.

“Kita tidak berhenti pada sengsara. Kita menuju Paskah, menuju kebangkitan. Di situlah harapan kita sebagai umat beriman,” tegasnya.

Minggu Palma menjadi momentum refleksi bagi umat untuk memperdalam iman sekaligus mempersiapkan diri menyambut Tri Hari Suci, yakni Kamis Putih, Jumat Agung, dan Vigili Paskah.

Dengan dimulainya Pekan Suci, Gereja kembali mengingatkan bahwa jalan keselamatan tidak terlepas dari salib, namun selalu bermuara pada kemenangan kehidupan dalam kebangkitan Kristus.