Tekan Lonjakan Harga, Satgas Pangan Polres Jember Turun ke Pasar Tanjung

0
18

JEMBER, redaksi.co – Tim Satgas Saber Pangan gabungan dari Polres Jember bersama Dinas Pangan, Dinas Pasar, Dinas Perdagangan, dan Perum Bulog melakukan inspeksi mendadak (sidak) harga dan ketersediaan bahan pokok di Pasar Tanjung, Jumat (20/2/2026).

Hasilnya, sejumlah komoditas strategis tercatat mengalami lonjakan harga signifikan, bahkan melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) dan Harga Acuan Pemerintah (HAP). Kondisi ini memicu kekhawatiran menjelang bulan suci Ramadhan, di mana permintaan bahan pokok dipastikan meningkat.

Kanit Tipidter Polres Jember, Ipda Harry Sasono melalui anggotanya Bripka Yosef, mengungkapkan bahwa kenaikan terjadi pada berbagai komoditas utama.

“Dari hasil pengecekan di lapangan, tim menemukan beberapa komoditas mengalami kenaikan harga cukup signifikan dan berada di atas HET maupun HAP,” tegas Yosef kepada awak media.

Adapun harga yang terpantau di lapangan antara lain: Bawang Merah Rp 40.000/kg, Bawang Putih Rp 32.000/kg, Beras Medium Rp 13.400/kg, Beras Premium Rp 14.800/kg, Beras SPHP Bulog Rp 60.000/5 kg, Cabai Merah Besar Rp 38.000–40.000/kg, Cabai Merah Keriting Rp 25.000–28.000/kg, Cabai Rawit Merah Rp 130.000/kg (pasokan dari Situbondo dan Banyuwangi), Daging Ayam Ras Rp 40.000/kg, Daging Sapi Paha Belakang Rp 130.000/kg, Daging Sapi Paha Depan Rp 125.000/kg, Gula Pasir Kemasan Rp 18.000/kg, Telur Ayam Ras Rp 30.000/kg

Yang paling menjadi sorotan, Minyakita dijual Rp 15.700–16.000 per liter dan terpantau sulit ditemukan di sejumlah lapak. Kelangkaan ini berpotensi memicu spekulasi dan permainan distribusi jika tidak segera diantisipasi.

Meski beras medium, premium, dan daging sapi relatif stabil, tren kenaikan pada komoditas hortikultura dan kebutuhan pokok lain menjadi alarm serius bagi pengendalian inflasi daerah.

Yosef menegaskan, sidak ini merupakan langkah preventif untuk menjaga stabilitas harga serta memastikan stok aman menjelang Ramadhan.

“Kami akan terus melakukan pengawasan rutin guna mengantisipasi praktik penimbunan maupun permainan harga yang dapat merugikan masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, sinergi lintas instansi ini diharapkan mampu menekan disparitas harga dari hulu ke hilir, sekaligus memastikan distribusi berjalan transparan dan tepat sasaran.

Namun demikian, pengawasan tidak boleh berhenti pada sidak seremonial semata. Masyarakat berharap ada langkah konkret dan tegas jika ditemukan pelanggaran, terutama terhadap distributor atau pedagang yang terbukti memainkan harga. Stabilitas pangan bukan hanya soal angka, melainkan soal daya beli dan ketahanan ekonomi warga kecil menjelang bulan penuh kebutuhan (Sofyan)